Penulis : Mutiara Rahmatillah (Siswi kelas VIII MTsS Ulumul Quran Banda Aceh)
Siapa sangka, hukuman karena datang terlambat justru menjadi awal dari kisah yang tidak pernah dibayangkan Grace. Di balik wajah kesalnya pagi itu, ternyata ada cerita yang perlahan tumbuh menjadi kisah manis dan semua itu tidak lepas dari peran sahabatnya sendiri.
Semuanya dimulai di gerbang SMP 5 Cilacap pada suatu Senin pagi. Grace, siswi yang dikenal aktif dan cukup cerewet di kelas, datang beberapa menit setelah bel masuk berbunyi. Akibatnya, ia harus berhadapan dengan Argantara, Ketua OSIS yang terkenal disiplin dan tidak pandang bulu.
“Hormat bendera dulu,” begitu kira-kira hukuman yang diterima Grace pagi itu. Tentu saja ia menggerutu. Seusai menjalani hukuman, Grace langsung meluapkan kekesalannya kepada Jasmine, sahabat yang selalu setia mendengarkan segala keluh kesahnya.
“Padahal aku baru terlambat satu kali. Harusnya ada keringanan dong, Ini malah di jemur. Ketua OSIS kaku amat”
Jasmine hanya tertawa kecil sambil mencoba menenangkan Grace. Saat itu, tidak ada yang menyangka kalau pertemuan singkat di gerbang sekolah tadi justru menjadi awal hubungan yang lebih dekat antara Grace dan Argantara.
Beberapa minggu kemudian, seluruh siswa mengikuti kegiatan study tour sekaligus berkemah di kawasan Bogor. Suasana yang jauh dari sekolah membuat semua orang lebih santai. Di situlah, perhatian-perhatian kecil Argantara mulai terlihat.
Di dalam bus, beberapa teman sempat menyadari Argantara beberapa kali mencuri pandang ke arah Grace. Saat mendirikan tenda, ia tanpa banyak bicara langsung membantu ketika Grace terlihat kebingungan memasang tiang tenda. Hal-hal sederhana itu memang tidak terlalu mencolok, tetapi cukup membuat Jasmine mulai menyadari ada sesuatu yang berbeda.
Momen yang paling membuat semua orang panik terjadi ketika rombongan mencari kayu bakar untuk api unggun. Karena kurang hati-hati, Grace terpeleset di jalur yang cukup curam hingga nyaris masuk ke area jurang kecil. Beruntung Argantara yang berada tidak jauh darinya langsung sigap menarik dan membopong Grace ke tempat yang lebih aman.
Sejak kejadian itu, perhatian Argantara semakin sulit disembunyikan. Grace yang awalnya menganggap Ketua OSIS itu galak, perlahan mulai melihat sisi lain darinya. Di balik sikap tegasnya, ternyata Argantara adalah sosok yang peduli dan selalu siap membantu.
Di sisi lain, Jasmine justru menjadi orang yang paling sibuk. Ia tahu betul sahabatnya diam-diam mulai menyukai Argantara, meski Grace selalu menyangkal setiap kali ditanya. Jasmine pun memilih menjadi “sutradara” kecil di balik layar. Ia beberapa kali sengaja menciptakan kesempatan agar keduanya bisa mengobrol atau bekerja sama tanpa terlihat dipaksa.
Bahkan ketika Grace sempat tidak terlihat saat malam perkemahan, Jasmine menjadi orang pertama yang panik mencarinya. Setelah Grace ditemukan dalam keadaan baik, Jasmine semakin sadar kalau kebahagiaan sahabatnya adalah hal yang paling penting.
Hari-hari setelah kegiatan berkemah terasa berbeda. Hubungan Grace dan Argantara semakin akrab. Sampai akhirnya, momen yang ditunggu-tunggu datang saat jam istirahat di sekolah.
Grace sedang berdiri di balkon kelas sambil menyanyikan lagu favoritnya. Tanpa diduga, Argantara datang menghampiri dan melanjutkan lirik lagu yang sedang dinyanyikan Grace. Suasana kelas yang semula ramai langsung berubah hening karena semua mata tertuju pada mereka.
Setelah lagu itu selesai, Argantara mengumpulkan keberanian untuk mengatakan apa yang selama ini dipendamnya.
“Grace….Aku mau bilang kalau sama kamu tentang perasaanku. Aku awalnya biasa lihat kamu. Tapi saat kamu menjadi wanita yang crewet, yang selalu melepas tawa dan jujur dengan perasaan; aku selalu ikut tersenyum melihatnya.”
Grace hanya tersenyum malu mendengar pengungkapan dari pria tersebut.
“Jadi Grace, apakah kamu menjadi pasanganku ?”
Grace menganggukkan kepala. Tepuk tangan dan sorakan teman-teman sekelas langsung pecah, sementara Jasmine yang berdiri di belakang mereka hanya bisa tersenyum puas melihat “rencana kecilnya” berhasil.
Jasmine tersenyum melihat temannya telah mendapatkan seorang pria yang tulus padanya.

















