Banda Aceh – Jika berbicara tentang identitas visual Aceh, motif Pinto Aceh menjadi salah satu karya seni yang mudah dikenali. Motif tersebut kini tidak hanya menghiasi perhiasan emas, tetapi juga hadir pada ornamen bangunan, pakaian, aksesori hingga sarung.
Popularitas Pinto Aceh membuat motif ini berkembang jauh melampaui fungsi awalnya sebagai desain perhiasan. Unsur-unsurnya kini kerap digunakan untuk merepresentasikan identitas dan karakter budaya Aceh.
Namun, di balik bentuknya yang begitu akrab, tersimpan perjalanan sejarah panjang yang melibatkan kreativitas seorang perajin emas asal Blang Oi, Banda Aceh, bernama Mahmud Ibrahim atau yang lebih dikenal dengan sebutan Utoh Mud.
Bukan Motif Pintu Rumoh Aceh
Di tengah popularitasnya, masih terdapat anggapan bahwa desain Pinto Aceh memiliki hubungan dengan bentuk pintu Rumoh Aceh. Padahal, keduanya memiliki bentuk dan latar belakang yang berbeda.
Ketua Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) Aceh, Said Husein, menjelaskan bahwa desain Pinto Aceh justru terinspirasi dari Pinto Khop, sebuah bangunan peninggalan masa Sultan Iskandar Muda yang berada di kawasan Taman Putroe Phang, Banda Aceh.
Menurut Said, bentuk Pinto Khop kemudian diterjemahkan ke dalam sebuah karya seni hingga melahirkan desain yang dikenal sebagai Pinto Aceh.
“Pinto Aceh terinspirasi dari Pinto Khop, sebuah peninggalan Sultan Iskandar Muda di Taman Putroe Phang Banda Aceh. Dari sana kemudian didesain menjadi sebuah karya seni,” kata Said.
Penjelasan tersebut memberikan perspektif bahwa motif Pinto Aceh tidak lahir begitu saja, melainkan merupakan hasil interpretasi seorang perajin terhadap salah satu peninggalan sejarah Kesultanan Aceh.
Berawal dari Tangan Utoh Mud
Sosok yang disebut sebagai pencipta awal desain Pinto Aceh adalah Mahmud Ibrahim atau Utoh Mud. Ia dikenal sebagai perajin emas asal Blang Oi, Kecamatan Meuraxa, Banda Aceh.
Kisah mengenai lahirnya Pinto Aceh tidak dapat dilepaskan dari aktivitas kerajinan emas di Kutaraja, sebutan Banda Aceh pada masa pendudukan Belanda.
Pada sekitar dekade 1920-an, pemerintah kolonial Belanda disebut menyelenggarakan pasar malam tahunan di kawasan Blang Padang. Kegiatan tersebut juga menjadi ruang bagi para perajin emas dan perak untuk memamerkan hasil kerajinan mereka.
Dalam kegiatan itu, sejumlah perajin mengikuti perlombaan desain perhiasan. Karya Utoh Mud disebut berhasil memenangkan perlombaan tersebut dan memperoleh sertifikat dari panitia.
Kemahiran Utoh Mud dalam menempa emas menjadi salah satu alasan karyanya mendapat perhatian.
Setelah kegiatan pasar malam tersebut berakhir, kemampuan Utoh Mud semakin dikenal. Ia kemudian mengembangkan usaha perhiasan di Jalan Bakongan, kawasan yang dahulu berada di sekitar Masjid Raya Baiturrahman.
Kawasan tersebut kini sudah tidak dapat ditemukan dalam bentuk aslinya karena terdampak perkembangan dan perluasan kawasan Masjid Raya Baiturrahman.
Dari Kalung hingga Bros
Kemenangan desain karya Utoh Mud kemudian menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan Pinto Aceh.
Menurut budayawan Aceh, Tarmizi Hamid, setelah desain tersebut dikenal, penggunaan motif Pinto Aceh pada berbagai jenis perhiasan semakin berkembang.
Motif tersebut antara lain digunakan pada mata kalung, bros dan berbagai bentuk perhiasan lainnya.
Popularitas Pinto Aceh bahkan disebut menarik perhatian masyarakat Belanda yang berada di Aceh pada masa itu.
Perhiasan dengan motif tersebut dipesan untuk dibawa pulang ke negeri Belanda sebagai cendera mata bagi istri maupun orang-orang terdekat mereka.
Perkembangan itu menunjukkan bahwa sebuah karya yang lahir dari tangan perajin lokal mulai menembus batas budaya dan menjadi bagian dari interaksi masyarakat Aceh dengan dunia luar.
Peran Harun Keuchik Leumiiek
Perjalanan Pinto Aceh tidak berhenti pada karya Utoh Mud. Dalam perkembangannya, sejumlah tokoh turut berperan memperkenalkan motif tersebut kepada masyarakat yang lebih luas.
Salah satunya adalah H. Harun Keuchik Leumiiek, tokoh yang dikenal memiliki perhatian besar terhadap kebudayaan dan kerajinan Aceh.
Said Husein menyebut Harun Keuchik Leumiiek memiliki peran penting dalam memperkenalkan perhiasan bermotif Pinto Aceh secara lebih luas.
Keberadaan toko emas yang terkenal di Aceh turut membantu membuat perhiasan dengan motif tersebut semakin dikenal. Dari sana, penggunaan Pinto Aceh tidak lagi terbatas pada lingkungan tertentu, tetapi mulai menyebar hingga ke luar Aceh.
Menurut Said, keindahan desain menjadi salah satu alasan Pinto Aceh mudah diterima dan dikembangkan pada berbagai jenis benda.
“Motif Pinto Aceh memang memiliki desain yang sangat indah dan sangat cocok dipakai untuk perhiasan hingga ornamen,” ujarnya.
Ketika Pinto Aceh Menjadi Identitas
Seiring perjalanan waktu, Pinto Aceh tidak lagi sekadar identik dengan perhiasan emas.
Motif tersebut mulai digunakan pada berbagai elemen kehidupan masyarakat. Ornamen bangunan, pakaian, aksesori, hingga berbagai produk kerajinan menggunakan unsur-unsur desain Pinto Aceh.
Popularitas itu membuat Pinto Aceh berkembang menjadi salah satu representasi visual yang mudah dikenali ketika berbicara tentang Aceh.
“Karena Pinto Aceh sudah semakin terkenal dan akrab di mata masyarakat, hampir banyak elemen ikut menggunakan unsur-unsur Pinto Aceh untuk menggambarkan ke-Acehan,” kata Said.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah karya seni dapat mengalami transformasi fungsi. Berawal dari desain perhiasan, Pinto Aceh kemudian berkembang menjadi ornamen yang merepresentasikan identitas daerah.
Diakui sebagai Warisan Budaya
Perjalanan panjang Pinto Aceh akhirnya mendapatkan pengakuan dalam khazanah budaya Indonesia.
Pada 2016, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia menetapkan Perhiasan Pinto Aceh sebagai salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Penetapan tersebut menempatkan Pinto Aceh sejajar dengan sejumlah karya seni tradisional Aceh lainnya yang juga mendapat pengakuan sebagai warisan budaya.
Lima karya seni tradisional Aceh yang disebut dalam penetapan tersebut meliputi Tari Dampeng dari Aceh Singkil, Tari Rapai Geleng dari Aceh Barat Daya, Tari Rabbani Wahid dari Bireuen, Tari Bines dari Gayo Lues, serta Perhiasan Pinto Aceh.
Pengakuan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberadaan karya budaya agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Bukan Sekadar Motif
Hari ini, Pinto Aceh dapat ditemukan dalam berbagai bentuk. Motifnya menghiasi perhiasan yang dikenakan masyarakat, menjadi bagian dari desain pakaian, digunakan sebagai ornamen bangunan, hingga hadir pada berbagai produk kerajinan.
Di balik kepopulerannya, terdapat cerita mengenai kreativitas perajin lokal, perkembangan kerajinan emas di Aceh, serta proses panjang sebuah karya hingga menjadi bagian dari identitas budaya.
Kisah Utoh Mud memperlihatkan bahwa sebuah karya yang lahir dari keterampilan seorang perajin dapat memiliki perjalanan yang panjang. Dari sebuah perlombaan desain perhiasan di Kutaraja pada masa kolonial, motif tersebut berkembang dan terus digunakan lintas generasi.
Pinto Aceh pada akhirnya bukan hanya tentang bentuk atau keindahan sebuah ornamen. Ia merupakan bagian dari perjalanan seni, kerajinan dan kebudayaan Aceh yang terus hidup hingga kini.
Ketika motif itu dikenakan sebagai perhiasan atau digunakan menghiasi sebuah bangunan, sesungguhnya yang hadir bukan sekadar sebuah desain. Di dalamnya terdapat jejak kreativitas perajin Aceh dan perjalanan sebuah karya seni hingga menjadi salah satu simbol visual yang melekat dengan identitas Aceh.
Artikel ini telah tayang di https://disbudpar.acehprov.go.id/ dengan Judul: Jejak Karya Seni dari Pinto Aceh

















