Aceh Barat | TubinNews.com – Perjuangan para pencari kerang (lokan) di Sungai Krueng Tujoh, Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat, menjadi potret kerasnya kehidupan. Di tengah keterbatasan, mereka tak memiliki banyak pilihan selain mencari kerang demi menghidupi dan menafkahi keluarga.
Sungai Krueng Tujoh di Kecamatan Meureubo, Kabupaten Aceh Barat, menjadi saksi bisu perjuangan Ramli, pencari kerang (lokan) yang setiap malam bertarung dengan kerasnya alam.
Demi menghidupi keluarganya, ia rela menahan rasa gatal, kulit yang dipenuhi kudis, hingga perih di sekujur tubuh usai menyusuri dasar sungai untuk mengumpulkan lokan yang kelak menjadi sumber nafkah bagi orang-orang keluarga tercintanya.
Selama lebih dari 15 tahun, Sungai Krueng Tujoh menjadi sumber penghidupan bagi Ramli dan pencari kerang (lokan) lainnya. Dari aliran sungai itulah mereka menggantungkan harapan untuk mengais rezeki, membeli beras, memenuhi kebutuhan rumah tangga, hingga membiayai pendidikan anak-anak mereka.
Setiap hari, mereka mampu mengumpulkan sekitar 20 bambu kerang yang dijual dengan harga mulai Rp8.000 hingga Rp10.000 per bambu. Penghasilan yang tidak seberapa itu tetap mereka syukuri, meski harus dibayar dengan risiko kesehatan yang terus menghantui mereka setiap harinya.
Ramli mengaku, tubuhnya kerap mengalami gatal-gatal setiap kali selesai mencari kerang. Keluhan tersebut bahkan telah menjadi bagian dari kesehariannya sebagai pencari lokan.
“Kalau sudah turun ke sungai, badan pasti gatal. Kadang sampai berkudis. Tapi mau bagaimana lagi, kalau tidak turun ke sungai, anak istri makan apa?” tutur Ramli dengan nada lirih.
Menurut Ramli, kondisi Sungai Krueng Tujoh kini jauh berbeda dibandingkan bertahun-tahun lalu. Air yang dulunya jernih kini lebih keruh, berbau, dan dasar sungai dipenuhi endapan lumpur sehingga kerang semakin sulit ditemukan.
Ia menduga perubahan kondisi tersebut berkaitan dengan aktivitas perusahaan batu bara yang beroperasi di sekitar kawasan itu. Meski demikian, ia mengaku tidak memiliki pilihan selain tetap mencari nafkah di sungai tersebut karena pekerjaan itu merupakan satu-satunya sumber penghasilan keluarganya.
Setiap hari, Ramli bersama warga pencari lokan lainnya harus mempertaruhkan kesehatan demi mendapatkan penghasilan yang nilainya tidak seberapa. Mereka menyadari risiko yang mengintai, namun tuntutan ekonomi membuat mereka tetap bertahan menjalani pekerjaan tersebut.
Bagi para pencari kerang, rasa gatal, luka, dan perih pada kulit mungkin masih bisa ditahan. Namun, kekhawatiran tidak mampu memenuhi kebutuhan keluarga menjadi beban yang jauh lebih berat.
Karena itu, mereka berharap pemerintah dan instansi terkait segera turun tangan untuk memeriksa kondisi Sungai Krueng Tujoh serta mencari solusi terbaik, agar masyarakat tidak terus dihadapkan pada pilihan sulit antara menjaga kesehatan atau mempertahankan kehidupan keluarga.

















