Banda Aceh | TubinNews.com — Pagi itu, 24 Agustus 1945, udara di Kutaraja belum benar-benar bebas dari bayang-bayang penjajahan. Indonesia memang telah memproklamasikan kemerdekaannya sepekan sebelumnya, namun tentara Jepang masih bersenjata, sementara Belanda bersiap kembali merebut Nusantara.
Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian itu, sekelompok pemuda Aceh melakukan tindakan yang tampak sederhana, tetapi memiliki arti yang sangat besar. Mereka mengibarkan Sang Merah Putih di halaman Gedung Juang, sebuah aksi yang kemudian tercatat sebagai salah satu simbol paling awal keberanian rakyat Aceh mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.
Bagi mereka, kemerdekaan bukan sekadar berita dari Jakarta. Kemerdekaan harus dinyatakan, diperlihatkan, dan dipertahankan.
Kabar Kemerdekaan Menembus Tanah Rencong
Dua hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dikumandangkan oleh Soekarno dan Mohammad Hatta, kabar itu akhirnya tiba di Aceh.
Pada 18 Agustus 1945, informasi kemerdekaan diterima di Banda Aceh yang kala itu masih bernama Kutaraja melalui telegram dan para utusan. Salah seorang yang pertama mengetahui kabar tersebut adalah Syamaun Gaharu, seorang perwira Gyugun berpangkat Chu-i atau Letnan Satu.
Di Bireuen, Husin Jusuf mendengar berita yang sama melalui siaran Radio Jepang pada 19 Agustus 1945.
Sehari kemudian, kabar kemerdekaan menyebar semakin luas. Para pemuda yang bekerja di Kantor Hodoka atau Penerangan mulai menyadap siaran Radio Jakarta untuk memastikan informasi yang diterima. Di sisi lain, tokoh Aceh, Ali Hasjmy, bahkan telah mengetahui kekalahan Jepang sejak 14 Agustus 1945 ketika mengelola surat kabar Atjeh Sinbun.
Meski suasana dipenuhi kegembiraan, ancaman belum benar-benar hilang. Pos-pos militer Jepang masih berdiri di berbagai sudut Kutaraja, lengkap dengan pasukan yang tetap memegang senjata.

Ketika Merah Putih Diturunkan Berkali-kali
Momentum paling menentukan terjadi pada 24 Agustus 1945.
Para pemuda Aceh berkumpul di halaman Kantor Atjeh Syu Keimubu—bangunan yang kini dikenal sebagai Gedung Juang. Di tempat itulah mereka mengibarkan bendera Merah Putih sebagai penegasan bahwa Aceh telah menjadi bagian dari Indonesia yang merdeka.
Prosesi pengibaran dipimpin oleh Muhammad Hasyim, Wakil Kepala Polisi yang sebelumnya diangkat pemerintah Jepang.
Namun, aksi tersebut tidak berlangsung mulus.
Patroli tentara Jepang segera datang. Tanpa banyak bicara, mereka menurunkan Merah Putih dan menggantinya dengan Hinomaru, bendera kebangsaan Jepang.
Yang terjadi setelahnya menjadi salah satu kisah heroik paling dikenang dalam sejarah Aceh.
Setiap kali Jepang menurunkan Merah Putih, para pemuda kembali mengibarkannya. Aksi saling menurunkan dan menaikkan bendera berlangsung berulang kali.
Hingga akhirnya seorang pemuda bernama Amin Bugis mengambil keputusan yang tak terduga.
Ia memanjat tiang bendera, mengikat Sang Merah Putih kuat-kuat di puncak tiang, lalu memotong tali pengerek agar bendera tidak dapat lagi diturunkan.
Tentara Jepang yang menyaksikan aksi tersebut hanya bisa terdiam.
Mereka akhirnya meninggalkan lokasi dengan kepala tertunduk, sementara Merah Putih tetap berkibar di langit Aceh.
Hari itu, bukan hanya sebuah bendera yang berkibar. Yang berkibar adalah harga diri sebuah bangsa yang baru saja memproklamasikan kemerdekaannya.
Aceh, Daerah yang Sulit Ditaklukkan
Semangat mempertahankan kemerdekaan memang bukan hal baru bagi masyarakat Aceh.
Sejak masa kolonial Belanda hingga pendudukan Jepang, Aceh dikenal sebagai wilayah yang memberikan perlawanan sengit terhadap penjajah. Bahkan ketika Revolusi Kemerdekaan berlangsung pada 1945–1949, sebagian besar wilayah Aceh tetap berada di bawah kendali Republik Indonesia. Hanya Sabang atau Pulau Weh yang sempat dikuasai Belanda.
Sejarawan Aceh, Husaini Ibrahim, menilai pengibaran Merah Putih pada 24 Agustus 1945 menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah perjuangan rakyat Aceh mempertahankan kemerdekaan.
“Pengibaran Merah Putih di Aceh pada 24 Agustus 1945 merupakan bukti nyata keberanian rakyat Aceh dalam mempertahankan kemerdekaan. Ini bukan hanya simbol perlawanan terhadap Jepang, tetapi juga bentuk keteguhan bahwa Aceh tidak akan tunduk pada kekuatan asing,” ujarnya.
Jejak Sejarah yang Masih Berdiri
Kini, lokasi pengibaran bendera tersebut telah menjadi salah satu situs sejarah penting di Banda Aceh. Sebuah prasasti didirikan sebagai penanda bahwa di tempat itu pernah lahir salah satu simbol paling berani dalam perjalanan bangsa Indonesia.
Bagi masyarakat Aceh, kisah ini bukan sekadar catatan masa lalu.
Ia menjadi pengingat bahwa kemerdekaan tidak hanya diproklamasikan di Jakarta, tetapi juga diperjuangkan di berbagai pelosok Nusantara oleh rakyat yang rela mempertaruhkan nyawa demi mempertahankan merah dan putih tetap berkibar.
Di Gedung Juang, sejarah itu masih terasa hidup. Bukan karena bangunannya yang tua, melainkan karena semangat para pemuda yang pernah menolak menurunkan bendera bangsanya. (***)















