Scroll untuk baca artikel
HukrimKriminal

Polrestabes Medan Pastikan Tak Ada Peran Ayah Dalam Tragedi Anak Bunuh Ibu di Medan Sunggal

×

Polrestabes Medan Pastikan Tak Ada Peran Ayah Dalam Tragedi Anak Bunuh Ibu di Medan Sunggal

Sebarkan artikel ini
Penjelasan peristiwa kasus pembunuhan ibu oleh anak kandungnya dalam konferensi pers di Mapolrestabes Medan. (Foto: Ist)

Medan | TubinNews.comTabir gelap kasus pembunuhan seorang ibu oleh anak kandungnya di Kota Medan akhirnya terungkap. Kapolrestabes Medan, Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak, menegaskan bahwa pelaku bertindak atas inisiatif pribadi tanpa keterlibatan pihak lain, termasuk sang ayah.

Kepastian ini didapat setelah hasil uji forensik terbaru terhadap barang bukti keluar. Polisi mengonfirmasi bahwa tidak ditemukan jejak keterlibatan sang ayah dalam peristiwa berdarah tersebut.

“Berdasarkan hasil uji laboratorium forensik, tidak ada DNA ayah pada pisau yang digunakan pelaku untuk menghabisi nyawa ibunya,” ujar Jean saat memaparkan kasus Anak Berhadapan Dengan Hukum (ABH) di Mapolrestabes Medan, Senin (29/12/2025).

Penyidikan mendalam mengungkap bahwa aksi nekat pelaku, ABH (12) didasari oleh trauma mendalam. ABH mengaku kerap melihat dan mengalami kekerasan fisik maupun verbal yang dilakukan oleh korban, Faizah Soraya (42) terhadap dirinya dan sang kakak.

Kapolrestabes Medan itu menekankan bahwa kasus ini  ditangani secara saintifik melalui Scientific Crime Investigation dengan asistensi dari Mabes Polri. Selain proses hukum, prioritas utama kepolisian saat ini adalah pemulihan psikologis anak-anak yang terlibat.

“Proses yang terpenting saat ini adalah penanganan terhadap anak-anak yang ditinggalkan. Kami berkoordinasi dengan psikolog dan Dinas Sosial agar hak-hak mereka terpenuhi dan masa depan mereka tetap terjaga,” pungkasnya.

Penyebab dan Kronologi Pembunuhan

Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak, menjelaskan peristiwa pembunuhan ibu oleh anak kandungnya dalam konferensi pers.

“Korban sering memarahi, memaki, hingga memukul anak-anaknya menggunakan benda tumpul seperti sapu dan tali pinggang. Bahkan, dalam beberapa kesempatan, korban pernah mengancam kedua anaknya menggunakan senjata tajam,” ujarnya.

Puncak kekesalan pelaku justru dipicu oleh masalah yang tampak sepele, korban menghapus aplikasi permainan daring (game online) di ponsel pelaku. Hal ini menjadi pemantik ledakan amarah atas dendam yang sudah lama terpendam.

Baca Juga :  Orangtua Keluhkan Pencurian di Asrama Taruna PBD Medan

Pada malam kejadian, ABH terbangun dan melihat ibunya sedang tertidur di sampingnya. Di saat itulah, niat untuk menghabisi nyawa korban muncul. Ada detail dingin dalam perencanaan pelaku, yakni ia sempat melepas pakaiannya sebelum beraksi.

“Saat ditanya mengapa membuka baju, alasannya adalah agar pakaiannya tidak terkena noda darah saat melakukan aksi pada korban,” jelas Jean.

Aksi tersebut sempat dipergoki oleh sang kakak yang terbangun. Sempat terjadi pergumulan di mana sang kakak berhasil merampas pisau pertama dan membuangnya. Namun, yang sudah gelap mata segera berlari ke dapur untuk mengambil pisau kedua.

Melihat situasi yang tak terkendali, sang kakak berlari ke lantai dua untuk membangunkan ayahnya yang sedang tidur pulas.

Saat ayah dan kakak pelaku turun ke lantai bawah, mereka mendapati korban masih dalam keadaan hidup. Sang ayah sempat berusaha memberikan pertolongan pertama dan meminta bantuan ambulans, namun nyawa korban tidak tertolong.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *