Medan | TubinNews.com -Sejumlah orangtua taruna SMA Pulau Berayan Darat (PBD) Medan mengeluhkan keamanan barang milik siswa di asrama.
Keluhan itu disampaikan melalui kolom komentar media sosial sekolah setelah sejumlah taruna disebut mengalami kehilangan barang.
Para orangtua menilai kasus kehilangan barang bukan kali pertama terjadi. Mereka berharap pihak sekolah dan yayasan meningkatkan pengawasan serta mengambil langkah tegas agar kejadian serupa tidak kembali dialami taruna, Selasa (11/8/2026).
Salah satu keluhan disampaikan akun @rara can’t talk rn melalui kolom komentar pada unggahan TikTok SMAS Taruna PBD Medan.
“Kayaknya keamanan barang siswa perlu lebih diperhatikan deh, soalnya kalau terlalu sering ada barang yang hilang, lama-lama siswa jadi bingung harus merasa aman di mana. Semoga ke depannya ada tindakan yang lebih serius, bukan cuma sekadar hati-hati sama barang masing-masin’,” tulis akun tersebut.
Akun itu juga meminta pihak sekolah memberikan pembinaan apabila pelaku kehilangan barang berhasil ditemukan.
Menanggapi keluhan tersebut, akun resmi SMAS Taruna PBD Medan menyebut pihak sekolah telah berupaya menyediakan fasilitas keamanan di asrama.
“Kita menyediakan asrama sudah maksimal yah bapak/ibu. CCTV sudah diletak di atas plafon dipatahin, jadi mau gimana kita buat lagi. Kita sudah bina anak didik semaksimal mungkin di sekolah,” tulis akun tersebut.
Pihak sekolah juga mengingatkan orangtua agar tidak membekali taruna dengan barang mewah atau uang dalam jumlah besar selama berada di asrama.
“Di asrama sudah diinfokan jangan membawa barang-barang yang mewah atau uang jangan banyak dipegang agar tidak mengundang niat jahat teman sekitarnya. Kalau pun ada uang banyak lebih baik dititip ke bapak asramanya,” lanjutnya.
Keluhan lain disampaikan akun @Ida yang mengaku sebagai orangtua taruna PBD Medan.
Ia menilai kasus kehilangan barang tersebut cukup meresahkan karena dikhawatirkan menimbulkan korban berikutnya.
“Kejadian seperti ini cukup meresahkan krn bakal ada korban selanjutnya. Mohon pihak sekolah bisa lebih memperhatikan keamanan barang siswa dan mencari solusi agar kejadian kehilangan tidak berulang,” tulisnya.
Pihak SMAS Taruna PBD Medan kemudian menyatakan telah berkoordinasi dengan yayasan terkait persoalan tersebut.
“Sudah saya konfirmasi ke yayasan yah ibu, ternyata sudah ada pertanggungjawaban dari yayasan dan menggantinya, walau tidak 100 persen,” tulis pihak sekolah.
Pihak sekolah kembali mengingatkan agar taruna tidak membawa barang atau uang dalam jumlah berlebihan ke asrama.
“Namanya di asrama sebaiknya jangan memberikan barang atau uang terlalu banyak yah Bu, hanya saran. Karena sekolah juga menganjurkan ke siswa untuk tidak memegang uang banyak. Mohon maaf sekali lagi,” lanjutnya.
Orangtua Soroti Kasus yang Disebut Berulang
Keluhan dengan nada kecewa juga disampaikan akun @Aswindy Fachrizal yang mengaku sebagai orangtua taruna PBD Medan.
Ia mengatakan reputasi sekolah menjadi salah satu alasan orangtua mempercayakan pendidikan anak mereka kepada PBD Medan.
Karena itu, ia berharap persoalan keamanan di asrama mendapat perhatian serius dari pihak sekolah dan yayasan.
“Sekolah ini reputasi sangat bagus. Makanya saya dan semua orangtua taruna menitipkan anak-anaknya. Kami sebagai orangtua punya harapan yang besar untuk masa depan yang terbaik untuk anak-anak kami,” tulisnya.
Menurutnya, persoalan kehilangan barang telah beberapa kali disampaikan kepada pihak sekolah.
“Namun saya sebagai orangtua pernah menyampaikan beberapa keluhan dan saran terkait kehilangan barang. Ini bukan sekali terjadi? Dan ini tidak boleh toleransi attitude oknum yang mengambil bukan haknya dari anak saya,” lanjutnya.
Ia meminta pemilik dan pengelola sekolah melakukan evaluasi terhadap persoalan tersebut.
Keluhan serupa disampaikan akun @herlinaginting369. Ia menilai pihak yayasan perlu lebih bertanggung jawab terhadap persoalan kehilangan barang yang dialami taruna.
Ia juga meminta pihak sekolah memperhatikan pembentukan sikap dan karakter taruna agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.
“Mereka generasi masa depan, namun tanpa attitude yang baik apalah jadinya nanti. Terima kasih. Saya masih menunggu jawaban dan responsnya,” tulisnya.
Yayasan Terbitkan Surat Pemberitahuan
Menindaklanjuti keluhan para orangtua taruna di media sosial, Yayasan Pendidikan Airindo Kacaribu SMA Pulau Berayan Darat (PBD) Medan kemudian menerbitkan surat pemberitahuan yang memuat delapan poin.
Surat tersebut diterbitkan setelah adanya keluhan orangtua terkait kehilangan barang yang dialami taruna.
Dalam surat itu, pihak sekolah dan asrama menyampaikan permohonan maaf serta menjelaskan sejumlah langkah yang akan dilakukan.
Berikut delapan poin dalam surat pemberitahuan tersebut:
- Meminta maaf kepada orangtua
- Meminta keluhan disampaikan langsung
- Meminta orangtua tidak menyampaikan keluhan melalui media sosial
- Mengingatkan taruna tidak menyimpan barang berharga
- Melakukan pembinaan dan apel malam
- Memperbaiki dan menambah CCTV
- Memperbaiki pintu kamar mandi
- Menangani laporan kehilangan barang
Orangtua Pertanyakan Tindak Lanjut
Meski yayasan telah menerbitkan surat pemberitahuan, sejumlah orangtua masih mempertanyakan tindak lanjut dari poin kedelapan, khususnya terkait penanganan kasus kehilangan barang.
Mereka mempertanyakan apakah sekolah telah menemukan pihak yang diduga mengambil barang milik taruna dan apa bentuk sanksi telah diberikan.
Sebab, menurut orangtua, hingga kini belum ada keterangan resmi dari pihak yayasan maupun pengelola asrama mengenai hasil penanganan kasus tersebut, termasuk apakah telah dilakukan pertemuan dengan orangtua taruna yang menjadi korban.
Kepala SMA Taruna PBD Medan, Jasa Karokaro, saat dikonfirmasi mengatakan pihaknya akan melakukan perbaikan terkait persoalan tersebut.
“Coba kami klarifikasi dulu untuk perbaikan dan bisa menjadi lebih baik lagi. Mudah-mudahan tidak terulang kembali,” kata Jasa.
Namun, ketika ditanya lebih lanjut mengenai langkah konkret, termasuk kemungkinan pemanggilan atau pertemuan antara pihak sekolah dan wali taruna, Jasa belum memberikan penjelasan lebih lanjut.
Sementara itu, salah seorang orangtua taruna, Linda, mempertanyakan tindak lanjut dari poin kedelapan surat yayasan.
“Sudahkah ketemu pelakunya? Sudahkah diberi sanksi? Sanksi apa yang telah diberi sekolah, kenapa kejadian masih berulang?” kata Linda.
Menurut Linda, orangtua tidak menuntut pihak sekolah mengganti kerugian secara finansial. Mereka, katanya, hanya menginginkan keamanan dan kenyamanan anak selama mengikuti pendidikan di asrama.
“Kami selaku orangtua tidak pernah menuntut sekolah untuk mengganti kerugian kami secara finansial. Kami hanya mau anak kami sekolah dengan aman dan nyaman,” pungkasnya.
















