Banda Aceh | TubinNews.com – Gubernur Aceh Muzakir Manaf (Mualem) meminta alokasi anggaran Rp2,5 triliun dari Kementerian Pertanian (Kementan) untuk pemulihan lahan sawah dan perkebunan terdampak bencana hidrometeorologi dimanfaatkan secara maksimal.
Mualem mengapresiasi dukungan Kementan terhadap upaya pemulihan sektor pertanian dan perkebunan di Aceh.
“Saya berterima kasih kepada Menteri Pertanian (Andi Amran Sulaiman), dan saya harap dimanfaatkan secara maksimal untuk pemulihan sawah dan kebun,” kata Mualem melalui Juru Bicara Pemerintah Aceh, Nurlis Effendi, di Banda Aceh, Senin (27/7/2026).
Menurut Nurlis, Mualem sebelumnya telah menerima laporan mengenai pemanfaatan anggaran dan perkembangan pemulihan lahan sawah serta perkebunan yang terdampak bencana dari Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Azanuddin Kurnia, Kamis (23/7/2026).
Dalam laporan tersebut disebutkan, alokasi anggaran berasal dari usulan Pemerintah Aceh bersama pemerintah kabupaten dan kota. Dana tersebut diperuntukkan bagi pemulihan lahan, penyediaan alat pertanian, serta bantuan benih padi dan jagung.
Berdasarkan laporan yang diterima Mualem, bencana hidrometeorologi berdampak terhadap sekitar 57.485 hektare lahan sawah di Aceh. Dari luasan tersebut, upaya optimasi lahan saat ini tengah dilakukan pada sekitar 40.852 hektare.
Sementara itu, luas lahan perkebunan yang terdampak mencapai sekitar 60.438 hektare. Adapun upaya pemulihan yang sedang dilakukan mencakup sekitar 40.418 hektare.
Mendapat laporan tersebut, Mualem meminta jajaran Distanbun Aceh bekerja keras mempercepat pemulihan lahan pertanian dan perkebunan yang terdampak bencana.
“Gubernur berpesan agar Distanbun seluruh Aceh bekerja keras dan bangun komunikasi dengan semua pihak. Insya Allah, Allah akan mudahkan semua,” ujar Nurlis menyampaikan pesan Mualem.
Mualem juga menekankan pentingnya mempercepat pemulihan sektor pertanian dan perkebunan karena sebagian besar masyarakat Aceh menggantungkan mata pencaharian pada sektor tersebut.
“Sebab, penduduk Aceh sebagian besar bekerja sebagai petani dan berkebun,” kata Mualem.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh, sekitar 38 hingga 41 persen penduduk yang bekerja di Aceh menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertanian. Sektor tersebut juga berkontribusi lebih dari 30 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Aceh.
Perhatian terhadap sektor pertanian dan perkebunan juga disampaikan Mualem dalam acara Pengukuhan Pengurus DPW dan DPD PERHIPTANI Kabupaten/Kota se-Aceh Masa Bakti 2025–2030 di Saree, Aceh Besar, Sabtu (25/7/2026).
“Pemerintah Aceh menempatkan sektor pertanian sebagai salah satu prioritas pembangunan Aceh,” kata Mualem dalam sambutannya yang disampaikan Plt Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Aceh, Azanuddin Kurnia.
“Karena sektor pertanian menjadi penopang ketahanan pangan, penyedia lapangan kerja, sekaligus penggerak perekonomian masyarakat,” tutupnya.















