Scroll untuk baca artikel
Aceh

Basarnas Banda Aceh Dorong Sekolah Bangun Sistem Keselamatan Mandiri Hadapi Bencana

×

Basarnas Banda Aceh Dorong Sekolah Bangun Sistem Keselamatan Mandiri Hadapi Bencana

Sebarkan artikel ini
Basarnas Banda Aceh bersama instansi terkait membahas Program Sekolah Siaga Keselamatan untuk memperkuat kesiapsiagaan bencana di satuan pendidikan. [Foto: Dok. Ist]

Banda Aceh | TubinNews.com — Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Banda Aceh mendorong penguatan kesiapsiagaan bencana di lingkungan satuan pendidikan melalui Program Sekolah Siaga Keselamatan. Upaya tersebut dibahas bersama sejumlah instansi terkait dalam forum koordinasi yang digelar di Kantor Pencarian dan Pertolongan Kelas A Banda Aceh, Kamis (3/9/2026).

Forum tersebut dihadiri perwakilan Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Aceh, serta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banda Aceh.

Dalam pertemuan itu, para pihak membahas langkah untuk membangun sistem keselamatan yang dapat diterapkan dan dikembangkan secara berkelanjutan di sekolah maupun madrasah.

Kepala Kantor Basarnas Banda Aceh, Al Hussain, mengatakan Program Sekolah Siaga Keselamatan diarahkan untuk mendorong sekolah agar tidak hanya mengandalkan bantuan dari luar saat terjadi keadaan darurat, tetapi memiliki sistem keselamatan secara mandiri.

“Sekolah diharapkan memiliki sistem keselamatan internal yang mampu mendukung upaya pencegahan, kesiapsiagaan, hingga respons awal ketika terjadi keadaan darurat,” ucap Al Hussain.

Menurutnya, penguatan sistem keselamatan tersebut penting karena Banda Aceh dan Aceh Besar memiliki sejumlah potensi ancaman bencana, mulai dari gempa bumi, banjir, longsor hingga abrasi.

Selain ancaman bencana, kondisi bangunan sekolah juga menjadi perhatian, terutama madrasah dan pondok pesantren yang berada di wilayah rawan bencana, memiliki bangunan bertingkat, maupun bangunan yang sudah lama.

Karena itu, dalam forum tersebut turut dibahas sejumlah langkah yang dapat diterapkan oleh satuan pendidikan. Salah satunya melalui asesmen dan pemetaan risiko secara berkala dengan mempertimbangkan kondisi serta riwayat kebencanaan di masing-masing wilayah.

Hasil pemetaan tersebut nantinya dapat menjadi dasar untuk menentukan kebutuhan keselamatan setiap satuan pendidikan sesuai dengan tingkat risiko yang dihadapi.

Baca Juga :  Kuasa Hukum Soroti Penahanan Tiga Guru Honorer di Medan, Pemilik Yayasan Belum Ditahan

Tidak hanya pemetaan risiko, forum juga membahas penerapan standar minimum keselamatan di lingkungan sekolah. Di antaranya ketersediaan alat pemadam api ringan (APAR), penguatan fungsi UKS untuk mendukung penanganan darurat medis awal, serta penyediaan responder bag yang dilengkapi perlengkapan pertolongan pertama dan kebutuhan evakuasi dasar.

Selanjutnya, penguatan kapasitas warga sekolah akan dilakukan melalui edukasi dan simulasi evakuasi yang disesuaikan dengan karakteristik ancaman di masing-masing wilayah.

Materi kesiapsiagaan bencana juga didorong untuk diperkenalkan melalui kegiatan pembelajaran. Dengan demikian, keselamatan diharapkan tidak hanya menjadi kegiatan sesaat, tetapi dapat menjadi bagian dari kebiasaan di lingkungan pendidikan.

Dalam pengembangan program tersebut, Aceh Besar dan Banda Aceh diarahkan menjadi salah satu wilayah percontohan untuk penerapan asesmen kerentanan fisik dan lingkungan pada satuan pendidikan.

Selain itu, pembahasan mengenai sertifikasi keselamatan juga menjadi bagian dari program. Sertifikasi tersebut diharapkan dapat menjadi tolok ukur bagi satuan pendidikan yang telah memenuhi standar keselamatan yang ditetapkan.

Melalui kerja sama antara Basarnas, pemerintah daerah, dan lembaga pendidikan, Program Sekolah Siaga Keselamatan diarahkan untuk membangun sekolah yang lebih siap menghadapi keadaan darurat serta menanamkan budaya keselamatan sejak dini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *