Aceh Barat ||Tubinnews.com| Di saat sebagian besar masyarakat masih terlelap dalam dinginnya pagi dan bersiap menunaikan salat Subuh, olahraga dan aktivitas lainnya. Seorang perempuan tampak berjalan menyusuri pinggiran jalan kota meulaboh hujan turun membasahi tubuhnya di tangannya hanya ada sapu lidi dan serokan sederhana.
Perempuan itu atas nama Asmawati salah seorang petugas kebersihan sembilan tahun sudah mengabdikan dirinya menjaga kebersihan Kota Meulaboh, Kabupaten Aceh Barat.
Pagi itu, tepatnya di kawasan Kecamatan Johan Pahlawan, di depan Rumah Sakit Umum Daerah Cut Nyak Dhien, Asmawati tetap menjalankan pekerjaannya meski hujan terus mengguyur tubuhnya.
Dengan hanya mengenakan mantel dan helm untuk melindungi tubuhnya dari hujan dan anggin ia perlahan menyapu sampah dan kotoran yang berada di pinggiran trotoar. Tidak ada keluhan yang keluar dari mulutnya, sapu lidi terus bergerak seolah rasa dingin dan lelah bukan alasan untuk berhenti berjuang dan menunaikan tangung jawabnya sebagai petugas kebersihan.
Tubuhnya terlihat lesu wajahnya menyiratkan kelelahan setelah bertahun-tahun menjalani pekerjaan yang sama Namun, tanggung jawab dan keluarga membuatnya tetap bertahan
Sembilan tahun bukan waktu yang singkat.
Selama itu pula Asmawati menjadi salah satu wajah yang jarang terlihat, tetapi memiliki peran penting dalam menjaga wajah Kota Meulaboh tetap bersih.
Di balik jalan yang bersih dan trotoar yang tertata dan lingkungan kota yang nyaman, ada tangan-tangan sederhana seperti milik Asmawati yang bekerja ketika sebagian masyarakat masih menikmati waktu istirahat dengan lelap dan selimuti oleh kain tebal yang terpasang di tubuhnya.
Yang lebih mengharukan, pekerjaan tersebut menjadi tumpuan hidup keluarganya.
Asmawati mengaku telah bekerja sebagai petugas kebersihan selama sembilan tahun dengan penghasilan Rp900 ribu per bulan. Dengan penghasilan tersebut, ia berusaha memenuhi kebutuhan keluarganya dan membesarkan tiga orang anaknya yang menanti kepulangan sang ibunda kerumah.
Penghasilan yang mungkin terlihat kecil bagi sebagian orang, namun bagi Asmawati setiap rupiah yang diterimanya adalah hasil dari keringat dan perjuangan.
Ia tetap menjalani pekerjaan itu, karena di balik sapu lidi yang digenggamnya terdapat tanggung jawab yang lebih besar yaitu keluarga yang harus dihidupi dan anak-anak yang harus diperjuangkan masa depannya.
Kisah Asmawati menjadi pengingat bahwa kebersihan sebuah daerah bukan hanya hasil dari program pemerintah atau kerja dinas terkait. Kebersihan juga lahir dari ketekunan orang-orang yang setiap hari berada di jalanan, mengumpulkan sampah, menyapu trotoar dan membersihkan sudut-sudut kota tanpa banyak diketahui masyarakat.
Pemerintah Kabupaten Aceh Barat melalui dinas terkait terus melakukan berbagai upaya penataan dan menjaga kebersihan daerah. Namun, di balik setiap upaya tersebut terdapat para petugas kebersihan yang menjadi garda terdepan dalam mewujudkan lingkungan yang bersih dan nyaman.
Mereka bekerja ketika orang lain beristirahat. Mereka berkeringat ketika matahari terik dan tetap bekerja ketika hujan membasahi tubuh.
Asmawati mungkin hanya memegang sapu lidi. Namun dari tangannya, kebersihan sebuah kota terus dijaga.
Kisahnya juga mengajarkan bahwa pekerjaan apa pun, selama dilakukan dengan keikhlasan dan tanggung jawab, memiliki nilai yang besar.
Sebab, kota yang bersih bukan hanya tentang jalan yang bebas sampah. Lebih dari itu, ada perjuangan manusia di baliknya.
Menjaga kebersihan adalah tanggung jawab bersama. Menghargai mereka yang bekerja menjaga kebersihan adalah bentuk kemanusiaan kita bersama.
Di tengah derasnya hujan pagi itu, Asmawati tetap melangkah. Mungkin tidak ada tepuk tangan. Tidak ada sorotan kamera. Namun ia terus bekerja demi kota yang bersih, demi pekerjaannya, dan terutama demi tiga buah hati yang menunggunya di rumah.
















