ACEH||OPINI : Mengantar Ayah Menjemput Maut: Potret Buruk Pelayanan dan Hilangnya Empati di RSUZA
Oleh: Teuku Alfin Aulia (Mahasiswa kedokteran, universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir)
Kehilangan orang tua adalah patah hati terbesar dalam hidup.
Namun, menyaksikan orang tua yang kita cintai perlahan meregang nyawa di tengah sistem pelayanan kesehatan yang abai, meninggalkan luka batin yang tidak akan pernah sembuh. Sebagai seorang mahasiswa kedokteran yang sedang menempuh studi di Mesir, saya dididik bahwa keselamatan pasien dan komunikasi yang transparan adalah pilar utama medis.
Namun, ilmu yang saya pelajari runtuh seketika saat berhadapan dengan realitas buruknya pelayanan di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh. Tempat yang seharusnya menjadi ruang penyembuhan, justru menjadi saksi bisu rangkaian kelalaian yang merenggut nyawa ayah saya.
Harapan Besar, Kepatuhan, dan Buta Informasi
Perjalanan ini bermula dari Lhokseumawe. Ayah saya berangkat menuju Banda Aceh dalam kondisi fisik yang sehat dan mandiri. Tujuan awal kami adalah mengambil rujukan untuk pemasangan ring jantung di RSUZA.
Namun setibanya di sana, pihak rumah sakit menyatakan ring tidak bisa dipasang. Sebagai langkah penanganan lanjutan, dokter menyarankan ayah untuk menjalani operasi bypass jantung.
Mendengar saran tersebut, ayah dengan penuh keyakinan dan semangat untuk sembuh menyetujui tindakan operasi besar tersebut. Sembari menunggu jadwal operasi dan panggilan konsultasi berikutnya, beliau dipulangkan dengan dibekali obat pengencer darah dosis rutin. Sebagai pasien yang patuh dan menaruh kepercayaan penuh pada profesi dokter, ayah sangat disiplin mengonsumsi obat-obatan tersebut.
Namun, di sinilah celah fatal dalam komunikasi medis itu dimulai, yakni disaat dokter hanya menyampaikan efek samping obat secara lisan kepada ayah saya pribadi, tanpa mengedukasi atau melibatkan kami pihak keluarga. Kami dilepas pulang dalam keadaan buta informasi.
Beruntung, insting kami bergerak untuk mencari tahu sendiri secara mandiri di internet mengenai bahaya dan risiko obat pengencer darah yang beliau konsumsi.
Isyarat Bahaya (Red Flag) yang Dianggap Angin Lalu
Kekhawatiran kami terbukti. Kondisi fisik ayah merosot tajam pasca-rutin meminum obat tersebut. Beliau terus mengeluhkan rasa lemah yang luar biasa, sebuah gejala ekstrem yang belum pernah beliau rasakan sebelumnya. Berpegang pada rasa percaya bahwa rumah sakit adalah tempat terbaik, kami menyarankan agar ayah dibawa kembali ke RSUZA.
Selama masa perawatan kembali di kamar rawat inap, kakak saya berulang kali berkonsultasi dan memperingatkan tim medis mengenai adanya luka dalam di bagian bawah wajah ayah yang kadang terlihat sangat jelas.
Secara teori medis yang saya pelajari, keluhan lemas ekstrem disertai tanda pendarahan visual pada pasien yang mengonsumsi antikoagulan atau antiplatelet adalah alarm bahaya (red flag) utama yang menandakan risiko pendarahan internal hebat.
Kami mencoba menyuarakan kekhawatiran dari hasil pencarian mandiri kami, namun respons dokter sangat mengecewakan.
Mereka menutup mata, mengabaikan laporan keluarga yang berkali-kali memohon perhatian, dan menganggap gejala klinis luar biasa tersebut sebagai hal biasa yang tidak perlu dikhawatirkan.
Kepulangan dari Mesir Menuju Ruang ICU yang Senyap
Dua malam dirawat tanpa adanya evaluasi mendalam atau penanganan preventif, sikap abai ini harus dibayar mahal. Di dalam kamar rawat inap “tempat yang seharusnya paling aman bagi pasien”, ayah mendadak mengalami gejala stroke perdarahan hebat secara tiba-tiba.
Pusat sarafnya terbanjiri darah hingga beliau jatuh koma.
Mendengar situasi kritis itu, saya langsung terbang kembali dari Mesir dengan hati yang hancur. Sebagai mahasiswa kedokteran, saya paham betul arti klinis dari “pusat saraf yang terbanjiri darah”. Namun, tidak ada buku teks kuliah yang bisa mempersiapkan mental saya saat melangkah masuk ke ruang rawat dan melihat ayah saya sendiri terbaring tak sadarkan diri akibat pembiaran medis.
Saya pulang bukan untuk menyambut kesembuhan ayah setelah operasi, melainkan untuk mendampingi tubuhnya yang terbujur kaku dalam koma selama hampir tiga hari, hingga akhirnya beliau mengembuskan napas terakhirnya.
Pengabaian terhadap gejala awal oleh sejawat senior di rumah sakit itu telah merenggut kesempatan ayah saya untuk bertahan hidup.
Hilangnya Etika dan Kemanusiaan pada Pelayanan Jenazah
Rasa sakit kami sebagai keluarga dan calon dokter semakin tersayat bahkan setelah detak jantung ayah berhenti.
Perlakuan tidak menyenangkan justru terus berlanjut saat kami mengurus proses pemulasaraan jenazah almarhum di RSUZA.
Ketika salah satu anggota keluarga bertanya secara baik-baik mengenai prosedur medis “mengapa bagian tertentu tubuh almarhum harus disumbat kain kassa terlebih dahulu sebelum dimandikan”, petugas justru merespons dengan ketus.
Bukannya memberikan edukasi yang menenangkan, mereka justru mengeluarkan ancaman lisan untuk meninggalkan jenazah ayah saya begitu saja jika kami banyak bertanya.
Di mana letak etika, edukasi, dan empati pelayanan publik yang selalu digaungkan dalam sumpah profesi saat menghadapi keluarga yang sedang hancur lebur?
Perjalanan Pulang yang Cedera Martabat
Penghinaan terhadap martabat almarhum dan kedukaan kami berlanjut hingga ke armada ambulans. Awalnya, kami hampir diberikan mobil tanpa AC untuk perjalanan jauh kembali ke Lhokseumawe. Ironisme dan hilangnya rasa hormat kru ambulans bahkan sudah dimulai sebelum roda mobil berputar.
Sebelum berangkat, sang sopir dengan tidak sensitifnya meminta izin agar di perjalanan nanti boleh berhenti di Sigli untuk makan pagi. Mendengar permintaan yang mencoreng urgensi kedukaan itu, kami terpaksa mengalah.
Demi menjaga kehormatan jenazah ayah agar perjalanannya tidak terhambat dan terlantar di jalan demi urusan perut sopir, salah satu anggota keluarga kami akhirnya membelikan makanan untuk mereka langsung di rumah sakit sebelum berangkat. Kami yang sedang dirundung duka hebat, justru harus menjamu mereka agar tugas mulia mengantar jenazah ini tidak diulur-ulur.
Namun, pengorbanan dan kebaikan keluarga kami dibalas dengan ketidakpedulian total sepanjang jalan ke Lhokseumawe. Sopir ambulans tampak tertawa-tawa dan merokok di balik tabing pembatas tanpa rasa bersalah. Ia seolah menutup mata dan menutup rasa rikuh bahwa tepat di balik tabing tipis tersebut, kepala almarhum ayah saya menempel sepanjang jalan. Tidak ada rasa hormat, tidak ada privasi, apalagi simpati terhadap keluarga yang sedang menemani jenazah di dalam kabin yang sama.
Catatan Evaluasi untuk RSUZA dan Dunia Kedokteran Kita
Sebagai mahasiswa kedokteran, kejadian ini menampar kesadaran saya sedalam-dalamnya. Edukasi obat (drug counseling) bukan sekadar formalitas yang hanya dilempar kepada pasien tanpa memastikan keluarga memahaminya.
Kelalaian komunikasi, kesombongan profesi yang mengabaikan masukan keluarga, hingga hilangnya rasa empati dari hulu ke hilir bahkan sampai ke petugas pemandian dan sopir ambulans, telah menghancurkan hati kami.
Kami melepaskan kepergian ayah dengan ikhlas sebagai takdir Tuhan. Namun, sebagai calon dokter, saya akan membawa luka ini sebagai pengingat seumur hidup, bahwa di atas semua ilmu medis dan gelar yang dikejar, kemanusiaan, ketelitian, dan empati adalah obat paling utama yang tidak boleh hilang dari seorang dokter dan seluruh ekosistem rumah sakit.
Semoga RSUZA melakukan evaluasi total dari pelayanan medis hingga pelayanan jenazahnya, dan semoga tidak ada keluarga lain di Aceh yang harus mengalami kepedihan serupa.
















