Scroll untuk baca artikel
AcehDaerahEDITORIAL

Banjir-Longsor Picu Wabah Penyakit, ISPA dan Penyakit Kulit Paling Dominan

×

Banjir-Longsor Picu Wabah Penyakit, ISPA dan Penyakit Kulit Paling Dominan

Sebarkan artikel ini
Petugas Kesehatan dari Puskesmas Pante Raya Sedang memeriksakan kesehatan warga yang terdampak bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Bener Meriah, Sabtu, (20/12/2025). (Dok. Dinkes Aceh)

Aceh | TubinNews.com – Dinas Kesehatan (Dinkes) Aceh mencatat meningkatnya wabah penyakit di kalangan korban bencana banjir dan longsor. Berdasarkan laporan Harian Posko Health Emergency Operational Center (HEOC) pada Minggu, (28/12/2025), terdapat 10 jenis penyakit yang berisiko menjangkit para penyintas.

Sepuluh penyakit tersebut meliputi ISPA, penyakit kulit, diare, ILI, suspek demam tifoid, suspek campak, suspek dengue, suspek leptospirosis, suspek pertusis, dan malaria. Dari seluruh kasus yang terdata, ISPA, penyakit kulit, dan diare menjadi penyakit yang paling banyak ditemukan.

“Tingginya kasus ketiga penyakit tersebut menjadi perhatian utama bagi tim kesehatan di lapangan,” ujar Koordinator Posko HEOC, Ferdiyus.

Berdasarkan hasil laporan, potensi wabah penyakit tersebut tersebar di 14 kabupaten/kota terdampak bencana. Aceh Utara menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi. Tercatat 21.250 kunjungan layanan kesehatan, dengan 9.615 orang terjangkit penyakit. Sementara itu, Bireuen mencatat 28.562 kunjungan, dengan 7.162 kasus penyakit.

WhatsApp-Image-2025-12-28-at-18.35.50 Banjir-Longsor Picu Wabah Penyakit, ISPA dan Penyakit Kulit Paling Dominan
Data Laporan Posko HEOC terkait daerah yang terpapar wabah penyakit. (dok. Dinkes Aceh)

Ia menambahkan, munculnya berbagai penyakit tersebut dipicu oleh kondisi lingkungan di lokasi bencana. Paparan air kotor, buruknya sanitasi lingkungan, serta pengungsian yang padat dan lembap menjadi faktor utama meningkatnya risiko penularan penyakit.

“Faktor penyakit bisa timbul karena paparan air kotor, sanitasi lingkungan yang buruk, serta kepadatan dan kelembapan di pengungsian,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *