Kuliner

Dari Abdya ke Banda Aceh, Olahan Buah Pala Hadir dengan Cara Berbeda

×

Dari Abdya ke Banda Aceh, Olahan Buah Pala Hadir dengan Cara Berbeda

Sebarkan artikel ini
Wakil Bupati Aceh Barat Daya Zaman Akli foto bersama masyarakat di booth UMKM pada peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di UCC Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Aceh (UNMUHA), Banda Aceh, Sabtu (19/9/2026). [Foto: Dok. Ist]

Banda Aceh | TubinNews.com Aceh Barat Daya (Abdya) adalah daerah penghasil sumber daya alam yang melimpah. Selain terkenal dengan “Breuh Sigupai”, Abdya juga terkenal dengan buah pala.

Nama ilmiah buah pala adalah Myristica fragrans Houtt, menjadi salah satu komoditas unggulan perkebunan di Abdya. Namun, selama ini pengolahannya masih terbatas.

Jika melihat kembali pada zaman penjajahan, khususnya era VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie, dalam bahasa Belanda berarti Perusahaan Hindia Timur Bersatu-red), buah pala bukan dipandang sekadar buah atau rempah biasa. Pala merupakan komoditas ekonomi bernilai tinggi dan menjadi salah satu alasan bangsa Eropa memburu wilayah penghasil rempah di Nusantara.

Sebagai upaya menghadirkan kembali nilai dan potensi pala, usaha rumahan yang bernaung dalam Perseroan Perorangan PalaQI Iskandar Tsani, melaksanakan agenda berbagi minuman pala fermentasi dan alami dalam agenda peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW yang dilaksanakan oleh Ikatan Masyarakat Aceh Barat Daya (IKAMABDYA) bersama Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Aceh Barat Daya (Hipelmabdya), di UCC Ahmad Dahlan Universitas Muhammadiyah Aceh (UNMUHA), Sabtu (19/9/2026).

Owner QiPa, Sarah Artsila Arafah, mengatakan kehadiran minuman pala di Banda Aceh merupakan salah satu upaya agar hasil alam Abdya bukan hanya beredar di tingkat kabupaten, namun juga bisa dirasakan di pasar provinsi.

“Sejauh yang kami tahu, selama ini daging pala banyak terbuang di tingkat petani. Jadi, kami membeli dari petani langsung. Beberapa ada di Babah Lhok, ada juga di Lembah Sabil serta di beberapa desa lain. Semoga tindakan yang kami kerjakan ini bisa sedikit membantu petani. Yang selama ini dagingnya dibuang, kini bisa menambah nilai ekonomis,” katanya.

Dalam agenda peringatan Maulid yang dilaksanakan di UNMUHA, QiPa berbagi 15 liter minuman buah pala alami dan fermentasi secara gratis kepada masyarakat yang hadir.

Baca Juga :  Tagihan Listrik Warga Abdya Membengkak hingga Rp1 Juta, PLN Akui Kesalahan Baca Meter

“Kami sangat senang bisa berbagi kepada perantau Abdya yang saat ini berdomisili di Banda Aceh, Aceh Besar, dan Sabang serta daerah sekitarnya. Hasil alam Abdya bisa dinikmati perantau Abdya meski tidak di kampung halaman,” ujarnya.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan nilai tambah terhadap buah pala yang selama ini lebih banyak dikenal sebagai komoditas rempah. Melalui pengolahan menjadi minuman, daging buah pala yang sebelumnya belum banyak dimanfaatkan mulai memiliki nilai ekonomi baru.

Bagi QiPa, membawa olahan pala ke Banda Aceh bukan semata-mata untuk memperluas pemasaran, tetapi juga memperkenalkan potensi hasil alam Abdya kepada masyarakat di luar daerah. Terlebih, Banda Aceh menjadi salah satu tempat berkumpulnya masyarakat Abdya yang menempuh pendidikan, bekerja, maupun menetap bersama keluarga.

Kehadiran minuman pala tersebut juga menjadi kesempatan bagi masyarakat perantauan untuk menikmati kembali hasil alam dari daerah asal mereka dalam bentuk yang berbeda.

Buah yang tumbuh dan dipanen di Abdya kini dapat dinikmati di luar kampung halaman, sekaligus menjadi bagian dari upaya memperkenalkan produk olahan lokal.

Sarah mengatakan, pihaknya berharap pengolahan buah pala dapat terus dikembangkan sehingga semakin banyak bagian dari komoditas tersebut yang memiliki nilai guna dan nilai ekonomi.

“Kami berharap ke depan semakin banyak hasil alam Abdya yang bisa diolah dan memiliki nilai tambah. Bukan hanya untuk kami sebagai pengolah, tetapi juga bisa memberikan manfaat kepada petani yang menjadi sumber bahan baku,” katanya.

Menurutnya, pengembangan produk berbahan dasar pala juga membutuhkan dukungan dari berbagai pihak agar komoditas lokal tersebut tidak hanya berhenti sebagai hasil perkebunan, tetapi dapat berkembang menjadi produk olahan yang memiliki pasar lebih luas.

Baca Juga :  Satreskrim Polres Abdya Tangkap Pelaku Penggelapan Sepmor Yamaha NMAX

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *