Simeulue | TubinNews.com – Berkunjung ke Kabupaten Simeulue, Aceh, tidak lengkap tanpa mengenal kekayaan kuliner tradisional yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakatnya.
Di antara beragam makanan khas yang diwariskan dari generasi ke generasi, terdapat satu kuliner unik yang memiliki nama sekaligus cerita yang khas, yakni Memek.
Bagi masyarakat Simeulue, Memek bukan sekadar makanan. Kuliner tradisional berbahan dasar beras ketan, pisang, santan, gula, dan garam ini merupakan bagian dari identitas budaya masyarakat kepulauan tersebut.
Duta Wisata Simeulue 2024, Elvita Afayolanda, mengatakan makanan tradisional merupakan salah satu jati diri yang membedakan suatu daerah dengan daerah lainnya.
“Keberadaan makanan tradisional Simeulue merupakan identitas atau jati diri daerah Simeulue yang dapat membedakan dengan daerah lain. Kekayaan budaya ini diwariskan dari generasi ke generasi,” kata Elvita.
Salah satu makanan tradisional yang paling dikenal masyarakat Simeulue adalah Memek. Hampir seluruh masyarakat di daerah tersebut mengenal kuliner yang memiliki cita rasa khas tersebut.
“Tidak ada satu pun masyarakat di Simeulue yang tidak mengenal makanan tradisional Memek. Dalam bahasa daerah, Memek berarti mengunyah,” ujarnya.
Nama yang unik menjadi salah satu daya tarik tersendiri bagi wisatawan. Namun, di balik namanya, Memek menyimpan cerita panjang tentang tradisi dan kehidupan masyarakat Simeulue.
Tidak ada catatan pasti mengenai kapan makanan tersebut pertama kali dibuat. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, Memek telah diwariskan secara turun-temurun dari orang tua kepada anak-anaknya.
“Menurut masyarakat Simeulue, makanan ini tidak diketahui secara pasti awal kemunculannya. Namun, Memek sudah menjadi makanan turun-temurun dari orang tua sebelumnya hingga saat ini,” kata Elvita.
Cita Rasa Tradisional dalam Sajian Sederhana
Memek memiliki proses pembuatan yang sederhana. Beras ketan berkualitas terlebih dahulu dicuci dan ditiriskan. Setelah itu, beras digongseng hingga berubah warna menjadi kekuningan.
Beras ketan yang telah digongseng kemudian dicampur dengan pisang, santan, gula, dan garam secukupnya. Seluruh bahan diaduk hingga tercampur dan siap disajikan.
“Memek dibuat dari beras ketan yang bagus. Beras tersebut dicuci dan ditiriskan, kemudian digongseng hingga berwarna kuning. Setelah itu ditambahkan pisang, gula, garam, dan santan. Semua bahan diaduk hingga akhirnya siap untuk disajikan,” jelas Elvita.
Kesederhanaan bahan dan cara pengolahan justru menjadi keunikan tersendiri. Memek menghadirkan cita rasa yang lahir dari bahan-bahan yang dekat dengan kehidupan masyarakat Simeulue.
Bagi wisatawan, mencicipi Memek bukan hanya tentang menikmati makanan. Di dalamnya terdapat pengalaman untuk mengenal tradisi, kebiasaan, dan kehidupan masyarakat lokal.
Kuliner yang Menemani Perjalanan Antarpulau
Sebagai daerah kepulauan, perjalanan antarpulau telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Simeulue. Dalam perjalanan tersebut, Memek juga memiliki cerita tersendiri.
Pada masa lalu, masyarakat kerap membawa bahan-bahan Memek sebagai bekal perjalanan menggunakan kapal. Cara pembuatannya yang mudah membuat makanan ini praktis untuk disiapkan ketika masyarakat beristirahat dalam perjalanan.
“Memek merupakan makanan yang cukup praktis. Masyarakat Simeulue bila bepergian antar pulau dengan kapal pasti menyediakan Memek sebagai bekal makanan di perjalanan karena mudah cara memasaknya,” ujar Elvita.
“Dahulu, setiap keluarga menyiapkan bahan-bahan tersebut selama perjalanan untuk bekal makanan ketika beristirahat,” sambungnya.
Tradisi tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah makanan dapat menjadi bagian dari perjalanan hidup masyarakat. Memek tidak hanya hadir di meja makan, tetapi juga menemani perjalanan masyarakat Simeulue dari satu pulau ke pulau lainnya.
Karena itu, Memek juga dikenal dekat dengan masyarakat Simeulue yang merantau.
“Semua masyarakat Simeulue kenal akan makanan Memek, bahkan bapak-bapak juga bisa membuatnya. Memek juga dikenal sebagai makanan bagi masyarakat Simeulue yang merantau,” katanya.
Memek juga menjadi sajian yang kerap hadir dalam berbagai momentum penting. Makanan ini dapat ditemukan dalam kegiatan kenduri, bulan suci Ramadan, hingga acara penyambutan tamu.
Khusus pada bulan Ramadan, Memek kerap disajikan sebagai menu berbuka puasa karena proses pembuatannya yang praktis.
“Memek digunakan pada bulan-bulan suci Ramadan untuk berbuka puasa karena mudah dibuat,” ujar Elvita.
Kuliner ini juga menjadi bagian dari cara masyarakat Simeulue memperkenalkan daerahnya kepada para tamu.
“Memek merupakan salah satu makanan tradisional khas Simeulue yang sudah dibudayakan. Apabila ada tamu-tamu yang datang, pemerintah kabupaten akan menyajikan makanan khas Memek dan lainnya,” katanya.
Bagi wisatawan yang datang ke Simeulue, sajian Memek dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal lebih jauh kebudayaan masyarakat setempat.
Sebab, pengalaman wisata tidak hanya tentang menikmati keindahan alam. Wisatawan juga dapat mengenal karakter suatu daerah melalui makanan yang diwariskan masyarakatnya.
Menikmati Simeulue dari Sepiring Memek
Simeulue selama ini dikenal dengan keindahan alam dan wisata baharinya. Pantai, laut, serta kehidupan masyarakat kepulauan menjadi daya tarik yang mengundang wisatawan untuk datang.
Namun, di balik panorama tersebut, Simeulue juga memiliki kekayaan kuliner yang tidak kalah menarik untuk dijelajahi.
Memek menjadi salah satu kuliner yang menawarkan pengalaman berbeda. Wisatawan tidak hanya dapat menikmati cita rasanya, tetapi juga mendengar cerita mengenai bagaimana makanan tersebut diwariskan, menemani perjalanan antarpulau, disajikan saat Ramadan, hingga menjadi hidangan untuk menyambut tamu.
Dengan cita rasa yang lahir dari bahan-bahan sederhana dan proses pembuatan yang diwariskan secara turun-temurun, Memek menjadi salah satu kuliner yang merepresentasikan identitas masyarakat Simeulue.
“Memek merupakan makanan tradisional khas Simeulue yang dikenal oleh seluruh masyarakat,” tutur Elvita.
Bagi wisatawan yang ingin mengenal Simeulue secara lebih dekat, mencicipi Memek menjadi salah satu pengalaman yang patut dimasukkan dalam perjalanan.
Sebab, terkadang untuk mengenal sebuah daerah tidak cukup hanya dengan melihat pemandangan. Ada cerita yang dapat ditemukan melalui makanan, ada tradisi yang dapat dirasakan melalui cita rasa, dan ada identitas masyarakat yang tetap hidup dalam setiap sajian.














