Nagan Raya | TubinNews.com – Suasana perayaan Maulid Nabi di Kabupaten Nagan Raya selalu memiliki cara tersendiri untuk memikat hati siapa saja yang datang. Bukan hanya lantunan shalawat yang menggema dari meunasah dan masjid, tetapi juga hadirnya sebuah tradisi kuliner megah yang sarat makna budaya: Idang Meulapeh.
Tradisi ini bukan sekadar menyajikan makanan. Ia adalah simbol penghormatan, rasa syukur, dan kebersamaan masyarakat Aceh yang diwariskan lintas generasi. Dalam satu susunan tinggi menjulang, masyarakat menghadirkan perpaduan antara seni, spiritualitas, dan kekayaan kuliner khas daerah.
Nama Idang Meulapeh mungkin masih terdengar asing bagi sebagian orang luar Aceh. Namun bagi masyarakat Nagan Raya, tradisi ini menjadi bagian penting dalam perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW.
Secara sederhana, Idang Meulapeh merupakan susunan makanan bertingkat yang diletakkan di atas talam besar. Isinya beragam, mulai dari lauk-pauk seperti daging, ikan, telur ayam dan telur bebek, hingga aneka kue tradisional serta buah-buahan. Semuanya ditata rapi dan artistik hingga membentuk menara kuliner yang menjulang bahkan mencapai lebih dari satu meter.
Agam Duta Wisata Nagan Raya, Jul Hendri Ramadhani, menyebut tradisi ini sebagai salah satu kekayaan budaya yang paling menarik dalam perayaan Maulid di Aceh.
“Idang Meulapeh bukan hanya tentang makanan yang disusun indah, tetapi juga tentang nilai kebersamaan masyarakat. Semua dikerjakan bersama-sama dengan penuh ketelatenan dan rasa hormat terhadap tradisi,” ujarnya.
Yang membuat Idang Meulapeh begitu memukau adalah detail penyusunannya. Di bagian dasar terdapat “dalung” atau dinding alas yang menopang susunan makanan. Sementara di bagian atas biasanya ditutup menggunakan “sangee”, penutup khas Aceh yang dihiasi ukiran dan balutan kain hijau, bahkan terkadang dipercantik dengan kaligrafi Islami.
Setiap lapisan memiliki filosofi tersendiri. Ada makna kesabaran dalam proses penyusunannya, ada semangat gotong royong dari masyarakat yang bekerja bersama, dan ada pula simbol penghormatan terhadap tamu serta kemuliaan bulan Maulid.
Tidak heran jika pembuatan satu Idang Meulapeh membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dalam beberapa kesempatan, masyarakat rela mengeluarkan biaya hingga jutaan rupiah demi menghasilkan susunan yang indah dan layak dipersembahkan pada perayaan besar keagamaan.
Namun bagi warga Nagan Raya, nilai tradisi ini jauh melampaui nominal uang. Yang paling penting adalah menjaga warisan budaya agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
Di banyak gampong, tradisi ini menjadi momen yang mempererat hubungan sosial masyarakat. Kaum ibu sibuk menyiapkan kue dan lauk-pauk, para pemuda membantu membawa talam besar, sementara anak-anak menikmati suasana meriah penuh kebersamaan. Semua terlibat dalam semangat gotong royong yang mulai jarang ditemukan di kehidupan modern.
Keindahan Idang Meulapeh juga menjadi daya tarik wisata budaya yang potensial. Wisatawan tidak hanya dapat menikmati kemegahan visualnya, tetapi juga merasakan hangatnya tradisi masyarakat Aceh yang menjunjung tinggi nilai religius dan persaudaraan.
Menyaksikan langsung Idang Meulapeh saat Maulid berlangsung akan memberikan pengalaman yang sulit dilupakan. Aroma masakan tradisional berpadu dengan suara shalawat, senyum masyarakat, dan warna-warni susunan hidangan menciptakan suasana yang begitu khas.
Jika suatu saat Anda berkunjung ke Nagan Raya saat musim Maulid tiba, sempatkanlah hadir di tengah masyarakat dan melihat langsung kemegahan Idang Meulapeh. Sebab dari tradisi sederhana inilah, kita belajar bahwa kebersamaan dan budaya dapat diwariskan melalui hidangan yang disusun penuh cinta. [***]

















