HEADLINEPeristiwa

Sepanjang Oktober 2026, Banjir Dominasi Kejadian Bencana di Aceh

×

Sepanjang Oktober 2026, Banjir Dominasi Kejadian Bencana di Aceh

Sebarkan artikel ini
Banjir menerjang rumah para warga Desa Badak. (Dok. Ist)
Banjir menerjang rumah warga Desa Badak. [Foto: Dok. Ist]

Banda Aceh | TubinNews.com – Bencana banjir masih mendominasi kejadian bencana di Provinsi Aceh sepanjang Oktober 2026. Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat sebanyak 26 kejadian banjir dari total 47 kejadian bencana yang terjadi selama periode 1–31 Oktober 2026.

Berdasarkan rekapitulasi data Pusat Data dan Informasi BPBA, selain banjir, kejadian bencana lainnya meliputi kebakaran sebanyak 10 kejadian, tanah longsor 8 kejadian, serta angin puting beliung sebanyak 3 kejadian.

Secara keseluruhan, kejadian bencana tersebut tersebar di 16 kabupaten/kota, mencakup 102 kecamatan dan 247 desa. Dampak bencana tercatat sebanyak 4.545 kepala keluarga (KK) atau 6.563 jiwa terdampak. Sementara itu, sebanyak 626 jiwa dilaporkan mengungsi.

Bencana banjir yang terjadi di sejumlah wilayah Aceh umumnya dipicu oleh hujan dengan intensitas tinggi yang menyebabkan meluapnya aliran sungai dan genangan air di kawasan permukiman warga. Beberapa wilayah terdampak juga mengalami peningkatan debit air yang mengganggu aktivitas dan mobilitas masyarakat.

infografis_oktober_20261 Sepanjang Oktober 2026, Banjir Dominasi Kejadian Bencana di Aceh
Infografis kejadian Oktober 2026. [Foto: Dok. BPBA]
Kabupaten Gayo Lues menjadi daerah dengan frekuensi kejadian bencana tertinggi selama Oktober, yakni sebanyak 10 kejadian. Selanjutnya, Aceh Besar, Aceh Tengah, Aceh Utara, dan Pidie Jaya masing-masing mencatat 4 kejadian. Aceh Tenggara, Aceh Barat Daya, dan Subulussalam masing-masing mencatat 3 kejadian.

Sementara itu, Bener Meriah, Lhokseumawe, Aceh Barat, dan Aceh Selatan masing-masing mencatat 2 kejadian. Adapun Bireuen, Aceh Tamiang, Nagan Raya, dan Aceh Jaya masing-masing mencatat 1 kejadian.

Dari sisi kerusakan, bencana selama Oktober 2026 mengakibatkan 50 unit rumah mengalami rusak berat, 34 unit rumah rusak ringan, serta 2.246 unit rumah terendam. Kerusakan juga tercatat pada 2 unit sarana pendidikan, 1 unit sarana ibadah, 1 unit sarana kesehatan, 4 unit bangunan lainnya, 3 unit jembatan, dan 5 unit tanggul. Selain itu, lahan persawahan seluas 155,74 hektare turut terdampak.

Baca Juga :  KPKNL Dan BPKD Aceh Utara Rilis Hasil Lelang Bekas Kendaraan Dinas

Total taksiran kerugian akibat kejadian bencana selama Oktober 2026 mencapai Rp20.485.000.000 atau sekitar Rp20,485 miliar.

Menyikapi kondisi tersebut, BPBA mengimbau pemerintah kabupaten/kota melalui BPBD agar terus meningkatkan kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap potensi bencana hidrometeorologi, khususnya banjir dan tanah longsor. Koordinasi lintas sektor, kesiapan personel, peralatan, serta langkah-langkah penanganan darurat perlu terus diperkuat.

Masyarakat yang bermukim di wilayah rawan banjir dan longsor juga diharapkan selalu memantau perkembangan informasi cuaca, memperhatikan kondisi lingkungan sekitar, serta segera melakukan langkah antisipasi apabila terjadi peningkatan debit air maupun tanda-tanda potensi longsor.

BPBA terus memperkuat koordinasi dengan BPBD kabupaten/kota dan seluruh unsur terkait dalam upaya penanggulangan bencana guna meminimalkan risiko serta melindungi keselamatan masyarakat di Provinsi Aceh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *