Lingkungan

Limbah Kimia Diduga Pabrik Kasur Mengalir ke Warga Desa Sampali, LHK Sumut Segera Turun

57
×

Limbah Kimia Diduga Pabrik Kasur Mengalir ke Warga Desa Sampali, LHK Sumut Segera Turun

Sebarkan artikel ini
Kondisi aliran air Desa Sampali yang menguning. (Dok/Ist)
Kondisi aliran air Desa Sampali yang menguning. (Dok/Ist)

Percut Sei Tuan | TubinNews.comWarga Dusun 23, Desa Sampali, Kecamatan Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, resah dengan kondisi aliran air di sekitar permukiman yang diduga tercemar limbah dari aktivitas industri.

Pantauan di lokasi, Rabu (26/8/2026), menunjukkan air pada aliran tersebut berwarna kecokelatan hingga kehitaman. Permukaannya juga terlihat berbusa, sementara di sejumlah bagian tampak lapisan yang menyerupai minyak.

“Aliran air enggak jauh dari permukiman warga. Dugaan kami airnya mengalir menuju drainase yang digunakan di lingkungan permukiman,” ujar seorang warga yang akrab disapa Wak Black.

Warga meminta instansi terkait segera turun ke lokasi untuk memastikan sumber aliran dan mengambil sampel air guna dilakukan pemeriksaan laboratorium.

“Kalau benar ini limbah pabrik, jangan sampai dibiarkan. Ini dekat dengan rumah warga. Kami khawatir berdampak terhadap lingkungan dan kesehatan masyarakat,” jelas Wak Black.

Menanggapi laporan tersebut, Kepala Bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Sumatera Utara, Zainuddin, mengatakan pihaknya akan menindaklanjuti informasi tersebut dengan melakukan pengecekan langsung ke lokasi.

“Ya bang, sedang kami tindaklanjuti. Belum bisa jawab persis, bang. Kami harus turun ke lokasi dahulu,” kata Zainuddin saat dikonfirmasi.

Sementara itu, Ketua Palemdas Sumut, Fajar, meminta dugaan pencemaran tersebut tidak hanya dilihat dari kondisi fisik air, tetapi juga dibuktikan melalui pemeriksaan dan pengujian laboratorium.

Menurut dia, kondisi air yang berubah warna dan berbusa perlu segera diperiksa untuk mengetahui penyebab serta kandungan di dalamnya.

“Kalau kami melihat, limbah ini diduga sengaja dibuang ke drainase warga. Diduga mengandung bahan kimia yang bisa berdampak buruk kepada masyarakat,” ujar Fajar.

Fajar juga mengatakan pihaknya menerima informasi dari warga mengenai adanya aktivitas industri di sekitar lokasi, termasuk usaha yang berkaitan dengan pembuatan kasur. Namun, informasi tersebut belum dapat memastikan bahwa aktivitas tersebut merupakan sumber aliran yang dikeluhkan warga.

Baca Juga :  Muara Krueng Cangkoi Dangkal Bertahun-tahun, Pemkab Aceh Barat Siapkan Penanganan Darurat

Hingga kini, sumber dan jenis zat yang menyebabkan perubahan kondisi air tersebut belum dapat dipastikan. Dugaan pencemaran juga masih menunggu verifikasi melalui pemeriksaan langsung dan pengujian sampel oleh instansi yang berwenang.

“Kita sebagai warga berharap pemeriksaan dilakukan secara menyeluruh dan hasilnya disampaikan secara terbuka. Jika terbukti terdapat pencemaran yang berasal dari aktivitas industri, kami meminta pemerintah mengambil tindakan sesuai ketentuan yang berlaku,” ungkap Wak Black.

Share this content:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *