Banda Aceh | TubinNews.com — Pameran Temporer Museum Aceh tidak hanya menampilkan koleksi benda bersejarah, tetapi juga menghadirkan perjalanan sejarah ekonomi dan perjuangan kemerdekaan Indonesia melalui reproduksi foto mata uang daerah langka, ORIDA (Oeang Republik Indonesia Daerah) Keresidenan Aceh nominal 50 sen.
Reproduksi foto yang dipamerkan merupakan bagian dari koleksi arsip Museum Aceh dan menampilkan lembaran uang ORIDA 50 sen yang dicetak di Percetakan Negara Banda Aceh. Melalui panel informasi yang disajikan, pengunjung diajak mengenal peran Aceh dalam menjaga stabilitas ekonomi pada masa awal kemerdekaan Indonesia.
Mata uang ORIDA diterbitkan pada 1947 berdasarkan Peraturan Nomor 19 Tahun 1947 tanggal 26 Agustus 1947. Saat itu, pemerintah pusat memberikan kewenangan kepada pemerintah daerah untuk menerbitkan alat pembayaran sendiri akibat terganggunya distribusi ORI (Oeang Republik Indonesia) selama Agresi Militer Belanda.
Sebagai salah satu daerah yang memiliki peran penting dalam perjuangan kemerdekaan, Aceh turut menerbitkan ORIDA dalam berbagai pecahan, termasuk nominal 50 sen yang kini diabadikan melalui dokumentasi visual Museum Aceh.
Reproduksi foto tersebut memperlihatkan lembaran uang ORIDA dengan nomor seri AG No. 02730. Pada uang itu tercetak tulisan “Republik Indonesia”, “Keresidenan Atjeh”, serta nominal “Lima Puluh Sen” lengkap dengan tanda tangan pejabat yang berwenang pada masa itu.
Selain memperkenalkan sejarah ekonomi Indonesia, penggunaan reproduksi foto juga menjadi bagian dari upaya Museum Aceh dalam menjaga kelestarian koleksi bersejarah. Dokumen asli yang rentan terhadap kerusakan dapat tetap dipelajari masyarakat melalui dokumentasi visual berkualitas.
Kepala Seksi Koleksi dan Bimbingan Edukasi Museum Aceh, Nurhasanah, mengatakan reproduksi foto memiliki peran penting dalam pelestarian sejarah.
“Tidak semua dokumen asli dapat ditampilkan terus-menerus karena alasan preservasi,” ujar Nurhasanah, Rabu (3/6/2026).
“Dengan foto reproduksi, masyarakat tetap dapat belajar dan menghargai warisan sejarah ini,” tambahnya.
Dokumentasi visual ORIDA Aceh juga menjadi sumber informasi berharga bagi peneliti dan sejarawan. Salah satu ciri khas uang tersebut adalah penggunaan tulisan “NO” sebelum nomor seri, yang membedakannya dengan sejumlah uang daerah lainnya pada masa yang sama.
Menurut Nurhasanah, penyajian reproduksi foto koleksi bersejarah merupakan bagian dari komitmen Museum Aceh dalam memperluas akses masyarakat terhadap pengetahuan sejarah.
“Dokumentasi visual adalah cara kami melestarikan memori kolektif bangsa,” pungkasnya.
Melalui pameran ini, Museum Aceh berharap masyarakat, khususnya pelajar dan mahasiswa, dapat memahami perjalanan sejarah ekonomi bangsa serta mengenal semangat kemandirian, kreativitas, dan gotong royong yang menjadi bagian penting dari perjuangan masyarakat Aceh pada masa awal kemerdekaan Indonesia. (***)

















