Banda Aceh | TubinNews.com – Museum Tsunami Aceh terus berinovasi dalam menyampaikan edukasi kebencanaan kepada masyarakat dengan mengembangkan metode pembelajaran berbasis visualisasi. Langkah ini dilakukan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan pola belajar masyarakat, khususnya generasi muda yang lebih akrab dengan konten visual dibandingkan teks panjang.
Kepala UPTD Museum Tsunami Aceh, Syahputra Azwar, mengatakan bahwa pendekatan visual dipilih sebagai strategi untuk meningkatkan efektivitas penyampaian informasi kepada pengunjung.
“Melihat kecenderungan anak-anak dan generasi muda saat ini yang lebih tertarik pada konten visual, kami melakukan penyesuaian metode edukasi agar informasi yang disampaikan dapat diterima dengan lebih mudah,” ujar Syahputra di Banda Aceh, Sabtu (25/4/2026).
Menurutnya, penggunaan media visual seperti video dan animasi memungkinkan pengunjung memahami materi secara lebih cepat tanpa harus membaca uraian yang panjang. Pendekatan tersebut juga dinilai mampu meningkatkan interaksi pengunjung selama berada di museum.
“Kami menampilkan video animasi sehingga pengunjung dapat langsung memahami materi yang disajikan. Pendekatan ini terbukti mampu meningkatkan interaksi dan ketertarikan mereka terhadap informasi yang diberikan,” katanya.
Materi edukasi yang ditampilkan mencakup berbagai tahapan peristiwa tsunami, mulai dari proses terjadinya gempa bumi, munculnya gelombang tsunami, hingga dampak yang ditimbulkan terhadap masyarakat dan lingkungan. Penyajian secara visual tersebut diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai proses terjadinya bencana.
“Kami menyajikan informasi secara runtut, mulai dari awal terjadinya gempa hingga dampak yang ditimbulkan, sehingga pengunjung memperoleh gambaran yang utuh mengenai peristiwa tsunami,” tambahnya.
Melalui inovasi tersebut, Museum Tsunami Aceh tidak hanya berfungsi sebagai tempat mengenang tragedi tsunami Aceh, tetapi juga semakin memperkuat perannya sebagai pusat edukasi kebencanaan yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan generasi masa kini.
Pendekatan berbasis visual ini diharapkan dapat meningkatkan literasi kebencanaan masyarakat sekaligus memperkuat kesadaran akan pentingnya mitigasi bencana sejak usia dini. (***)
















