Banda Aceh | Tubinnews.com – Kemampuan daya beli petani di Provinsi Aceh secara umum merangkak naik sepanjang Mei 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Aceh mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) gabungan menyentuh angka 124,92. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 0,54 persen jika disandingkan dengan capaian April 2026.
Namun, penguatan daya beli makro tersebut tidak merata di tingkat akar rumput. Data BPS Aceh dalam Berita Resmi Statistik (BRS) No. 37/06/11/Th. XXIV yang dirilis pada 2 Juni 2026 menunjukkan ketimpangan performa antar-subsektor yang mencolok, di mana kelompok petani tanaman pangan dan nelayan justru mengalami kemerosotan kesejahteraan riil.
Pergerakan positif angka gabungan ini digerakkan oleh pertumbuhan indeks harga yang diterima petani (It) yang melaju lebih cepat daripada indeks harga yang dibayar petani (Ib).
Selama Mei 2026, indeks It Provinsi Aceh meningkat sebesar 1,36 persen. Sementara itu, indeks Ib hanya merangkak naik sebesar 0,81 persen. Selisih pertumbuhan ini menandakan bahwa pendapatan hasil panen secara umum tumbuh lebih tinggi ketimbang pengeluaran konsumsi dan biaya produksi masyarakat perdesaan.
Kondisi tersebut sejalan dengan perkembangan Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) yang memotret kinerja usaha tani tanpa menghitung biaya konsumsi keluarga.
Laporan resmi BPS Aceh menyatakan bahwa tren sepanjang tahun NTUP mengikuti pergerakan NTP. NTUP Provinsi Aceh pada Mei 2026 bertengger pada level 129,45. Indikator usaha ini mencatatkan kenaikan sebesar 1,08 persen dari bulan sebelumnya, sekaligus melonjak hingga 3,41 persen jika disandingkan dengan periode Mei 2025.
Kenaikan indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) secara umum tertahan pada angka 0,28 persen, sedangkan indeks konsumsi rumah tangga (KRT) perdesaan terkerek 0,96 persen.
Komoditas Hijau Menikmati Lonjakan Pendapatan
Kelompok tani hortikultura menjadi motor utama yang mendongkrak performa kumulatif pertanian Aceh. Nilai Tukar Petani Subsektor Hortikultura (NTPH) melesat sebesar 3,35 persen hingga mencapai angka 89,29.
Lonjakan ini ditopang penuh oleh kenaikan indeks harga yang diterima petani sebesar 4,25 persen. BPS Aceh merekam pergerakan naik ini dipicu oleh mahalnya harga jual komoditas sayur-sayuran, khususnya cabai merah dan tomat di tingkat produsen.
Beban pengeluaran petani hortikultura sendiri naik sebesar 0,87 persen, dipengaruhi oleh indeks konsumsi rumah tangga yang naik 0,93 persen dan indeks biaya produksi sebesar 0,41 persen.
Kondisi hijau juga singgah di subsektor perkebunan rakyat. Nilai Tukar Petani Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) tumbuh sebesar 1,07 persen menjadi 162,44. Petani perkebunan meraup kenaikan pendapatan hasil panen sebesar 1,91 persen berkat pergerakan harga jual komoditas andalan seperti kopi, kelapa sawit, kakao atau biji coklat, serta pinang.
Di sisi lain, indeks pengeluaran mereka terkendali pada angka 0,83 persen, meskipun indeks konsumsi rumah tangga naik 0,93 persen dan biaya produksi bertambah 0,40 persen.
Sementara itu, para peternak di perdesaan Aceh mencatatkan pertumbuhan tipis. Nilai Tukar Petani Subsektor Peternakan (NTPT) naik 0,21 persen ke posisi 103,45. Kenaikan ini terjadi karena indeks harga yang diterima naik sebesar 0,95 persen, yang didorong oleh naiknya harga jual komoditas ternak besar seperti sapi potong dan kerbau, serta ternak kecil seperti kambing. Beban pengeluaran peternak juga merangkak sebesar 0,74 persen.
Tanaman Pangan dan Bahari Mengalami Kemerosotan
Pemandangan kontras melanda sektor perikanan dan tanaman pangan yang justru terlempar dari tren penguatan makro. Nilai Tukar Petani Subsektor Perikanan (NTPN) merosot sebesar 0,73 persen menjadi 121,76. Penurunan daya beli ini disebabkan oleh jatuhnya indeks harga yang diterima nelayan sebesar 0,08 persen, berbanding terbalik dengan biaya hidup yang naik 0,65 persen.
Jika dibedah lebih dalam, hantaman keras melanda subsektor perikanan tangkap laut yang indeks daya belinya anjlok hingga 1,14 persen ke level 126,85. Nelayan tangkap tertekan akibat penurunan harga jual hasil tangkapan di laut, khususnya komoditas ikan tongkol dan ikan lemuru atau dencis, sebesar 0,46 persen.
Kontras dengan pendapatan yang turun, pengeluaran nelayan tangkap naik 0,69 persen akibat lonjakan indeks konsumsi rumah tangga sebesar 1,11 persen dan biaya produksi 0,33 persen. Kondisi ini berbanding terbalik dengan perikanan budidaya yang mencatatkan kenaikan tipis 0,01 persen ke posisi 113,44 berkat naiknya harga jual bandeng payau.
Anomali ekonomi yang krusial juga menimpa subsektor tanaman pangan. Nilai Tukar Petani Tanaman Pangan (NTPP) turun sebesar 0,06 persen menuju angka 104,15.
Fakta data menunjukkan bahwa harga gabah di lapangan sebenarnya mengalami kenaikan yang mengerek indeks pendapatan petani sebesar 0,75 persen. Namun, kenaikan harga gabah tersebut menjadi tidak berpengaruh karena indeks harga yang harus dibayar petani melonjak lebih tinggi sebesar 0,82 persen.
Pembengkakan pengeluaran ini dipicu oleh indeks konsumsi rumah tangga yang naik hingga 0,99 persen, sedangkan biaya produksi hanya bertambah 0,19 persen. Kasus ini menunjukkan bahwa kenaikan harga komoditas di pasar tidak otomatis menjamin penguatan daya beli jika biaya hidup harian bergerak lebih agresif.
















