Scroll untuk baca artikel
BeritaDaerah

Festival Geulayang Tunang HUT Samudera Pasai Ke-800 Berlangsung Meriah

×

Festival Geulayang Tunang HUT Samudera Pasai Ke-800 Berlangsung Meriah

Sebarkan artikel ini
Bupati Aceh Utara Ismail A Jalil didampingi Kadispora Zulkifli berfoto bersama peserta Festival Geulayang Tunang di HUT Samudera Pasai Ke-800 di Matang Ben, Tanah Luas, Rabu 9 September 2026

Lhoksukon | TubinNews.com – Langit Gampong Matang Ben, Kecamatan Tanah Luas, Kabupaten Aceh Utara, dihiasi puluhan geulayang tradisional dalam Festival Layang Tunang Peuleupi Hate, Rabu (9/9/2026).

Festival yang diikuti 28 peserta dari berbagai kecamatan itu digelar untuk memeriahkan peringatan Hari Jadi ke-800 Samudera Pasai sekaligus melestarikan permainan tradisional masyarakat Aceh.

Kemeriahan festival turut disaksikan langsung Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M., yang akrab disapa Ayah Wa. Kehadiran Bupati menjadi bentuk dukungan pemerintah daerah terhadap pelestarian seni dan permainan tradisional sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat.

Di antara puluhan layang-layang yang diterbangkan, “Si-Tombak” milik Grup Utoh Lah Rancong Buloh asal Kecamatan Tanah Pasir menjadi salah satu yang mencuri perhatian pengunjung. Geulayang tersebut membawa jejak tradisi yang telah dirawat kelompok itu sejak era 1980-an.

Si-Tombak diterbangkan oleh Abdullah Amin (65), warga Gampong Paloh, Kecamatan Tanah Pasir. Berbekal pengalaman puluhan tahun membaca arah angin dan mengendalikan tali, Abdullah berusaha membawa layang-layang kebanggaannya mengudara dengan sempurna.

Bagi Abdullah, keikutsertaannya dalam festival tingkat kabupaten itu bukan semata-mata untuk mengejar gelar juara. Ia menilai kegiatan tersebut merupakan ikhtiar bersama dalam menjaga warisan indatu agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.

“Ajang ini bukan sekadar urusan menang atau kalah, melainkan ruang untuk menghidupkan kembali tradisi indatu agar tidak punah ditelan zaman. Saya sangat bangga dengan adanya geulayang tunang ini, apalagi pelaksanaannya bertepatan dengan momentum bersejarah 800 tahun Samudera Pasai,” ujar Abdullah.

Bersama 27 layang-layang lainnya, Si-Tombak perlahan dilepas menyambut terpaan angin. Bentangan sayapnya kemudian membubung di atas arena, membawa pesan kebudayaan dan penghormatan terhadap warisan masyarakat pesisir Aceh Utara.

Baca Juga :  Bupati Simeulue dan Ketua DPRK Terima LHP Kinerja dari BPK Aceh

“Ketika Si-Tombak membubung tinggi layaknya layar bahari yang terkembang menuju angkasa, tersimpan harapan agar warisan, kejayaan, dan kekayaan peradaban Samudera Pasai terus berkibar serta tidak lekang oleh waktu,” tutur Abdullah.

Festival Layang Tunang Peuleupi Hate tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat. Kegiatan tersebut juga menjadi sarana mempererat silaturahmi antarkecamatan serta memperkenalkan kembali permainan tradisional kepada generasi muda.

Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata (Disporapar).Zulkifli, S.Ag., M.Pd Aceh Utara menjelaskan, Festival Layang Tunang Peuleupi Hate merupakan bagian dari rangkaian peringatan 800 tahun Samudera Pasai yang dirancang untuk menghidupkan kembali permainan tradisional Aceh.

Menurutnya, festival tersebut bukan hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga wadah silaturahmi, kreativitas, dan edukasi budaya bagi generasi muda.

“Melalui festival ini, kami ingin memperkenalkan kembali geulayang tunang kepada generasi muda sekaligus memberikan ruang bagi para perajin dan pemain untuk mempertahankan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun,” jelasnya.

Ia berharap Festival Layang Tunang dapat dikembangkan menjadi agenda budaya dan daya tarik wisata daerah. Pemerintah daerah juga mengajak masyarakat ikut menjaga warisan budaya tersebut agar tidak tergerus perkembangan zaman.

“Momentum 800 tahun Samudera Pasai harus menjadi penguat identitas daerah. Warisan sejarah dan permainan tradisional perlu terus dirawat, dikembangkan, serta diwariskan kepada generasi berikutnya,” tambah Kepala Disporapar Aceh Utara.

Melalui festival ini, Pemerintah Kabupaten Aceh Utara berupaya menjadikan momentum 800 tahun Samudera Pasai sebagai ruang refleksi sejarah dan penguatan identitas budaya daerah. Di tangan para perajin dan pemainnya, rangka bambu, bentangan kertas, serta seutas tali menjadi simbol bahwa warisan leluhur akan terus hidup selama dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Baca Juga :  Sidak Dua Kilang Padi di Deli Serdang, Polda Sumut: Dugaan Praktik Beras Oplosan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *