Yogyakarta | TubinNews.com – Museum Aceh turut ambil bagian dalam Pameran Nasional Kain Tradisional Nusantara 2026 dengan menampilkan Ija Tangkulok, penutup kepala tradisional laki-laki Aceh yang sarat nilai sejarah, budaya, dan filosofi. Kehadiran koleksi tersebut menjadi representasi kekayaan wastra Aceh dalam ajang nasional yang mempertemukan museum-museum dari seluruh Indonesia.
Dalam pameran yang berlangsung di Museum Negeri Sonobudoyo, Yogyakarta, Museum Aceh diwakili oleh Kepala Seksi Koleksi dan Bimbingan Edukasi, Nurhasanah. Melalui partisipasi tersebut, Museum Aceh berupaya memperkenalkan sekaligus memperkuat posisi warisan tekstil tradisional Aceh di tingkat nasional.
Ija Tangkulok yang dipamerkan merupakan penutup kepala tradisional berbahan tenunan sutera hitam yang dipadukan dengan sulaman kasab emas. Kain tersebut dihiasi berbagai motif khas, seperti motif geometris, lampu gantung, bunga, dan pucuk rebung yang mencerminkan kekayaan estetika budaya Aceh. Pada masa lalu, tangkulok lazim dikenakan kalangan bangsawan sebagai pelengkap busana resmi dalam berbagai acara adat dan seremonial.
Nurhasanah menilai pameran tersebut menjadi momentum penting untuk memperkenalkan makna di balik kain tradisional yang selama ini menjadi bagian dari identitas masyarakat Nusantara.
“Pameran Nusa Wastra: Living Patterns of Nusantara ini menjadi momentum penting bagi kami untuk menegaskan bahwa kain tradisional bukan sekadar benda mati yang tersimpan di etalase museum, melainkan cerminan pola hidup, identitas, dan nilai filosofis masyarakat yang terus lestari. Kehadiran Museum Aceh di sini adalah bentuk komitmen kami dalam merawat warisan budaya, sekaligus memperluas jejaring serta pertukaran ilmu kuratorial dan edukasi dengan museum-museum lain se-Indonesia,” ujar Nurhasanah, Jumat (5/6/2026).
Ia menjelaskan bahwa Ija Tangkulok tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga merepresentasikan identitas sosial dan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh masyarakat Aceh.
“Ija Tangkulok yang kami pamerkan bukan sekadar kain penutup kepala, melainkan simbol jati diri dan martabat laki-laki Aceh. Sejak masa lalu, tangkulok dikenakan oleh tokoh adat, ulama, pemimpin masyarakat, hingga para pejuang sebagai penanda kehormatan dan tanggung jawab sosial yang diemban. Pemakaian ija tangkulok mencerminkan karakter laki-laki Aceh yang menjunjung tinggi nilai adat, keberanian, dan keteguhan prinsip hidup,” jelasnya.
Partisipasi Museum Aceh dalam ajang tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas promosi budaya daerah sekaligus memperkenalkan warisan tekstil Aceh kepada masyarakat yang lebih luas. Kehadiran berbagai museum dari seluruh provinsi di Indonesia juga membuka ruang kolaborasi dan pertukaran pengetahuan dalam bidang pelestarian koleksi, kuratorial, dan edukasi museum.
Pameran Nasional Kain Tradisional Nusantara 2026 mengusung tema “Nusa Wastra: Living Patterns of Nusantara” dan diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Daerah Istimewa Yogyakarta melalui Museum Negeri Sonobudoyo. Pameran resmi dibuka oleh Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, pada 5 Juni 2026 di Gedung Semar dan Gedung Saraswati Museum Sonobudoyo, serta akan berlangsung hingga 29 Juli 2026.
Melalui keikutsertaan dalam Pameran Nasional Kain Tradisional Nusantara 2026, Museum Aceh berharap warisan tekstil tradisional daerah semakin dikenal luas sekaligus memperkuat posisi Aceh sebagai salah satu daerah yang memiliki kekayaan budaya dan wastra yang unik, bernilai sejarah tinggi, serta tetap relevan dalam kehidupan masyarakat hingga saat ini. (***)
















