Banda Aceh | TubinNews.com – Situs-situs peninggalan tsunami di Banda Aceh terus menjadi salah satu daya tarik utama sektor pariwisata Aceh. Selain menawarkan pengalaman wisata yang unik, keberadaan berbagai objek berbasis sejarah bencana tersebut juga memiliki nilai edukasi yang tinggi dan menjadi identitas khas yang tidak dimiliki daerah lain di Indonesia.
Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Akmal Fajar, mengatakan wisata tsunami merupakan salah satu kekuatan utama pariwisata Aceh yang hingga kini masih menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara.
“Wisata tsunami ini yang paling khas, karena hanya ada di Aceh dan tidak dimiliki daerah lain,” ujar Akmal Fajar kepada wartawan di Banda Aceh, Kamis (23/4/2026).
Menurutnya, sejumlah situs yang berkaitan dengan peristiwa tsunami 2004 menjadi destinasi yang paling banyak dikunjungi wisatawan. Beberapa di antaranya adalah Museum Tsunami Aceh, Kapal di Atas Rumah Lampulo, serta berbagai situs memorial dan peninggalan tsunami lainnya yang tersebar di sejumlah wilayah.
Akmal menjelaskan, daya tarik utama objek wisata tersebut terletak pada pengalaman langsung yang dapat dirasakan pengunjung dalam memahami salah satu bencana terbesar yang pernah terjadi di Indonesia. Melalui berbagai koleksi, dokumentasi, dan peninggalan yang masih terjaga, wisatawan tidak hanya memperoleh pengalaman berwisata, tetapi juga pengetahuan mengenai sejarah dan mitigasi bencana.
“Ini bukan hanya wisata, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran tentang sejarah dan kebencanaan,” katanya.
Ia menilai konsep wisata berbasis edukasi tersebut menjadi nilai tambah yang memperkuat posisi Aceh sebagai destinasi wisata yang memiliki karakter berbeda dibandingkan daerah lain. Selain mengenang peristiwa bersejarah, keberadaan situs tsunami juga menjadi media untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Lebih lanjut, Akmal mengatakan potensi wisata tsunami masih sangat besar untuk dikembangkan melalui penguatan promosi, peningkatan fasilitas pendukung, serta integrasi dengan destinasi wisata lainnya yang ada di Aceh.
Menurutnya, pengembangan wisata tsunami tidak hanya berpotensi meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan, tetapi juga memperkuat citra Aceh sebagai daerah yang mampu mengelola memori sejarah menjadi sumber pembelajaran dan penggerak ekonomi sektor pariwisata.
“Ini kekuatan besar yang harus terus kita kembangkan,” ujarnya.
Disbudpar Aceh berkomitmen untuk terus mempromosikan dan mengembangkan destinasi wisata tsunami sebagai bagian dari strategi memperkuat daya saing pariwisata daerah. Dengan keunikan dan nilai edukasi yang dimiliki, wisata tsunami diharapkan tetap menjadi ikon pariwisata Aceh yang mampu menarik perhatian wisatawan dari berbagai daerah maupun mancanegara. (***)
















