Banda Aceh | TubinNews.com – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh terus memperkuat strategi promosi sektor pariwisata dengan menempatkan kebudayaan lokal sebagai ujung tombak utama dalam memperkenalkan Aceh kepada wisatawan. Langkah tersebut dinilai efektif karena budaya Aceh memiliki karakteristik dan keunikan yang menjadi pembeda dibandingkan daerah lain di Indonesia.
Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Disbudpar Aceh, Akmal Fajar, mengatakan bahwa unsur kebudayaan kini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam setiap kegiatan promosi wisata yang dilakukan pemerintah daerah.
“Kebudayaan itu menjadi konten utama dalam promosi kita,” ujar Akmal Fajar di Banda Aceh, Kamis (23/4/2026).
Menurutnya, di tengah persaingan industri pariwisata yang semakin kompetitif, budaya menjadi kekuatan khas yang mampu memberikan identitas kuat bagi Aceh. Jika potensi wisata alam dapat ditemukan di berbagai daerah dengan karakter yang relatif serupa, maka kebudayaan memiliki nilai eksklusif yang tidak dapat ditiru maupun dimiliki oleh daerah lain.
“Kalau alam mungkin bisa dimiliki daerah lain, tapi budaya kita punya keunikan tersendiri,” katanya.
Sebagai implementasi dari strategi tersebut, Disbudpar Aceh secara konsisten menghadirkan berbagai atraksi budaya dalam setiap kegiatan promosi pariwisata. Beragam kesenian tradisional, termasuk tarian khas Aceh, rutin ditampilkan pada event-event pariwisata, baik yang digelar di Aceh maupun di berbagai daerah lainnya di Indonesia.
Upaya ini tidak hanya bertujuan untuk menarik minat wisatawan berkunjung ke Aceh, tetapi juga menjadi sarana memperkenalkan kekayaan budaya daerah kepada masyarakat yang lebih luas.
Akmal menegaskan, promosi pariwisata berbasis budaya akan terus diperkuat sebagai bagian dari strategi jangka panjang pembangunan sektor pariwisata Aceh. Selain mampu meningkatkan daya tarik destinasi wisata, pendekatan tersebut juga berkontribusi terhadap upaya pelestarian budaya dan penguatan identitas daerah.
Menurutnya, keberlanjutan budaya Aceh harus dijaga melalui berbagai ruang ekspresi dan promosi agar tetap hidup, berkembang, serta dikenal oleh generasi muda maupun masyarakat luar daerah.
“Ini juga bagian dari pelestarian budaya kita agar tetap hidup di tengah masyarakat. Budaya adalah identitas Aceh yang harus terus dijaga dan diperkenalkan,” tutup Akmal. (***)

















