Banda Aceh | TubinNews.com – Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh terus menjaga geliat sektor pariwisata di tengah proses pemulihan pascabanjir yang sempat melanda sejumlah wilayah. Selain memperkuat promosi destinasi wisata yang aman untuk dikunjungi, pemerintah juga menyiapkan skema reaktivasi bagi kawasan wisata yang terdampak bencana. Kamis, 2 April 2026.
Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Disbudpar Aceh, Akmal Fajar, mengatakan upaya promosi tetap dilakukan secara berkelanjutan guna menjaga citra positif pariwisata Aceh di mata wisatawan.
Menurutnya, penting untuk memberikan informasi yang akurat kepada masyarakat luas agar tidak muncul persepsi bahwa seluruh wilayah Aceh terdampak banjir dan tidak layak dikunjungi.
“Kita tetap berupaya agar promosi ini terus berjalan, terutama dari sisi membangun awareness atau kesadaran publik. Jangan sampai timbul persepsi di masyarakat luar bahwa Aceh secara keseluruhan rentan banjir. Padahal masih banyak destinasi wisata yang aman dan sangat layak untuk dikunjungi,” ujar Akmal di Banda Aceh.
Ia menjelaskan, sejumlah kawasan wisata memang sempat terdampak cuaca ekstrem dan banjir, termasuk beberapa destinasi alam di wilayah Dataran Tinggi Gayo dan Aceh Tengah. Namun, kondisi tersebut tidak menghentikan aktivitas pariwisata secara keseluruhan karena banyak destinasi unggulan lainnya yang tetap beroperasi dan menerima kunjungan wisatawan.
Akmal menyebutkan bahwa sejumlah objek wisata di daerah terdampak kini mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan seiring perbaikan infrastruktur dan aksesibilitas yang dilakukan oleh pemerintah bersama berbagai pihak terkait.
Selain sektor pariwisata, aktivitas ekonomi kreatif masyarakat di kawasan terdampak juga tetap berjalan dan perlahan kembali tumbuh. Karena itu, pemerintah terus mendorong berbagai langkah pemulihan agar dampak bencana tidak berkepanjangan terhadap perekonomian masyarakat.
Untuk destinasi yang mengalami kerusakan cukup berat, Disbudpar Aceh telah menyiapkan program reaktivasi promosi yang akan dijalankan setelah seluruh fasilitas pendukung dan akses menuju lokasi kembali normal.
“Saat aksesnya sudah bagus dan layak, promosi akan kita masifkan kembali melalui momen reaktivasi destinasi. Untuk saat ini, fokus publikasi kita arahkan ke destinasi unggulan lain yang tidak terdampak, seperti Banda Aceh, Aceh Besar, Sabang, Simeulue, dan Aceh Singkil,” katanya.
Menurut Akmal, pada tahun ini sebagian alokasi anggaran pemerintah memang difokuskan untuk mendukung proses pemulihan pascabencana serta pelaksanaan sejumlah program strategis daerah. Meski demikian, promosi pariwisata tetap menjadi salah satu prioritas agar sektor tersebut terus memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi Aceh.
Dalam waktu dekat, Disbudpar Aceh juga berencana melakukan eksplorasi dan penguatan promosi terhadap berbagai potensi wisata yang dimiliki Kabupaten Aceh Singkil sebagai salah satu destinasi unggulan di wilayah barat-selatan Aceh.
Melalui strategi pemetaan destinasi, promosi berkelanjutan, serta program reaktivasi kawasan wisata terdampak, Pemerintah Aceh optimistis sektor pariwisata akan tetap tumbuh dan menjadi salah satu penggerak utama ekonomi daerah selama masa pemulihan pascabencana.
Langkah tersebut juga diharapkan dapat menjaga kepercayaan wisatawan sekaligus memperkuat posisi Aceh sebagai destinasi wisata yang aman, nyaman, dan memiliki beragam daya tarik alam maupun budaya. (***)

















