Aceh Barat | TubinNews.com — Budaya Aceh tidak hanya hidup dalam syair, tarian, atau adat istiadat. Di balik sehelai kain beludru yang berkilau oleh sulaman benang emas, tersimpan perjalanan panjang sebuah peradaban yang telah melintasi berabad-abad.
Di Aceh Barat, kekayaan budaya itu masih dapat dijumpai melalui ragam motif tradisional, salah satunya Sulu Bayung, serta seni sulam kasab yang hingga kini tetap menjadi bagian penting dalam berbagai upacara adat masyarakat Aceh.
Keduanya bukan sekadar karya seni. Motif dan sulaman tersebut menjadi simbol identitas, penghormatan terhadap leluhur, sekaligus bukti bahwa warisan budaya Aceh terus bertahan di tengah perkembangan zaman.
Kasab, Kemewahan yang Sarat Makna
Kasab merupakan salah satu kerajinan tangan paling bernilai dalam tradisi masyarakat Aceh. Hampir setiap prosesi adat, terutama yang berkaitan dengan siklus kehidupan seperti pernikahan, khitanan, hingga penyambutan tamu kehormatan, menggunakan perlengkapan berbahan sulaman kasab.
Secara sederhana, kasab adalah kain beludru yang dihiasi sulaman benang emas dengan pola-pola tertentu. Namun di balik keindahan itu tersimpan keterampilan tinggi yang diwariskan secara turun-temurun.
Setiap lembar kasab dikerjakan secara manual menggunakan teknik sulam tangan. Ketelitian menjadi kunci utama karena benang emas harus mengikuti motif tradisional yang telah diwariskan selama ratusan tahun.
Hasilnya bukan hanya indah dipandang, tetapi juga memiliki nilai simbolik yang kuat dalam budaya Aceh.

Jejak Kemegahan Sejak Kesultanan Aceh
Sejarah mencatat bahwa kerajinan kasab telah berkembang di Aceh sejak abad ke-15, ketika Kesultanan Aceh mencapai masa kejayaannya sebagai salah satu pusat perdagangan dan peradaban Islam di Asia Tenggara.
Dalam catatan pelaut Inggris, James Lancaster, yang kemudian dikutip oleh peneliti Barbara Leigh, disebutkan bahwa pada tahun 1602 Sultan Aceh mengirim tiga helai kain bersulam benang emas sebagai hadiah kepada Ratu Elizabeth I dari Inggris.
Lancaster juga mencatat dirinya menerima jubah putih berhias sulaman emas dan ikat pinggang bermotif khas Turki sebagai hadiah dari Sultan Aceh.
Catatan serupa datang dari pelaut Inggris lainnya, John Davis, yang berkunjung ke Aceh pada akhir abad ke-16. Ia menggambarkan kemegahan istana Sultan yang dipenuhi kain gantung bersulam benang emas di atas kain beludru.
Bahkan ketika hendak menghadap Sultan, para tamu diwajibkan mengenakan busana dengan hiasan sulaman emas sebagai bentuk penghormatan terhadap kerajaan.
Temuan-temuan sejarah tersebut menunjukkan bahwa kasab bukan sekadar kerajinan, tetapi pernah menjadi simbol kemewahan dan kebesaran Kesultanan Aceh di mata dunia.
Perpaduan Berbagai Peradaban
Para sejarawan meyakini seni sulam kasab berkembang melalui hubungan dagang Aceh dengan berbagai bangsa.
Benang emas yang digunakan pada masa lalu didatangkan dari Gujarat di India, Turki, hingga Tiongkok. Setiap wilayah membawa pengaruh teknik maupun motif yang kemudian berbaur dengan budaya lokal Aceh.
Meski berasal dari luar, masyarakat Aceh berhasil mengolahnya menjadi identitas budaya yang khas.
Motif-motif yang muncul kemudian tidak lagi sekadar mengikuti gaya asing, tetapi dipadukan dengan filosofi, flora, fauna, dan nilai-nilai Islam yang berkembang dalam kehidupan masyarakat Aceh.
Motif Sulu Bayung, Identitas yang Terus Dijaga
Selain kasab, Aceh Barat juga dikenal memiliki ragam hias tradisional yang masih digunakan hingga kini, salah satunya Motif Sulu Bayung.
Asal–usul motif sulubayungberakara dari unsur alam yaitu tumbuhan pakis/ paku serta awan–awan. Pada konsep hiasan ini terkandung makna atau arti hubungan erat antara manusia, kebesaran jiwa dan kehalusan budi pekerti, kebersamaan dan kesatuan dalam bermasyarakat serta gotong royang dalam menjaga keakraban.
Hal ini digambarkan dengan bentuk motif yang menyatu seperti awan saling terhubung dan lengkungan seperti daun pakis/paku.
Motif sulubayung sering digunakan dalam beberapa keahlian seperti sulaman benang kasab, kerajinan logam (utoh), kerajinan pahatan kayu, pakaian tradisional/ adat, serta penggunaan lainnya yang bersifat estetika dalam lingkup kebudayaan.
Seiring perkembangan zaman, penggunaan motif sulubayung ini mengalami perubahan dimana motif dasar sudah sangat jarang digunakan melainkan banyaknya penggunakan motif turunan sulubayung hasil kreasi dari para pelaku tradisi tersebut.
Ada beberapa motif hasil turunan/kreasi kombinasi dari sulubayung yang dipakai dalam beberapa karya yaitu awan meupucoek, ukee batee siblah/duablah, bungong awan, awan meucaneek, serta awan meuikoet.
Keberadaan motif-motif tradisional tersebut menjadi bukti bahwa budaya Aceh terus berkembang tanpa kehilangan akar sejarahnya.
Inong Aceh Barat, Puja Rahma Kusumaningrum, mengatakan warisan budaya seperti kasab dan motif-motif tradisional perlu terus diperkenalkan kepada generasi muda agar tidak tergerus modernisasi.
“Kasab dan motif-motif khas Aceh Barat bukan hanya hasil karya seni, tetapi juga identitas budaya yang menyimpan nilai sejarah, filosofi, dan kearifan lokal. Semakin banyak generasi muda yang mengenalnya, semakin besar pula peluang warisan budaya ini tetap lestari,” ujarnya.
Menjaga Warisan untuk Masa Depan
Di tengah pesatnya perkembangan industri tekstil modern, para perajin kasab tetap mempertahankan teknik sulam tangan yang membutuhkan kesabaran dan ketelitian tinggi.
Proses pembuatannya memang memerlukan waktu lebih lama dibandingkan produksi mesin, tetapi justru di situlah letak nilai sebuah karya.
Setiap helai kasab membawa cerita tentang sejarah panjang Aceh sebagai pusat perdagangan dunia, tentang tangan-tangan terampil yang menjaga tradisi, serta tentang masyarakat yang terus merawat identitas budayanya.
Karena pada akhirnya, warisan budaya bukan hanya untuk dikenang.
Ia harus terus dipakai, dipelajari, dan diwariskan agar kilau benang emas kasab tetap bersinar, sebagaimana semangat masyarakat Aceh dalam menjaga jati dirinya. (***)













