Banda Aceh | TubinNews.com – Museum Aceh menerima kunjungan sebanyak 60 peserta Forum Komunikasi Komite Audit Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (FKKA PTN-BH) se-Indonesia dalam rangkaian agenda edukatif dan wisata budaya yang berlangsung di Banda Aceh, Jumat (22/5/2026).
Kunjungan tersebut menjadi sarana memperkenalkan sejarah, budaya, serta identitas Aceh kepada para akademisi dan pemangku kepentingan pendidikan tinggi dari berbagai daerah di Tanah Air.
Para peserta yang hadir terdiri atas ketua dan anggota komite audit dari sejumlah perguruan tinggi negeri badan hukum terkemuka di Indonesia. Kehadiran mereka di Museum Aceh dimanfaatkan untuk mengenal lebih dekat perjalanan sejarah Aceh, koleksi-koleksi bersejarah yang dimiliki museum, serta nilai-nilai budaya yang menjadi bagian penting dari peradaban masyarakat Aceh.
Sebagai bentuk penghormatan kepada tamu nasional tersebut, Museum Aceh memberikan pelayanan khusus dengan tetap membuka museum meskipun bertepatan dengan hari Jumat, yang biasanya tidak melayani kunjungan umum.
Kepala Seksi Koleksi dan Bimbingan Edukasi Museum Aceh, Nurhasanah, mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk mendukung kegiatan edukatif sekaligus memperluas promosi budaya Aceh kepada peserta yang berasal dari berbagai wilayah di Indonesia.
“Walau hari Jumat museum tutup untuk layanan umum, namun untuk menyambut tamu dari seluruh Indonesia dalam kegiatan edukatif ini, Museum Aceh tetap dibuka sebagai bentuk pelayanan dan upaya memperkenalkan sejarah serta budaya Aceh,” kata Nurhasanah.
Menurutnya, kunjungan dari kalangan perguruan tinggi memiliki nilai strategis karena memberikan kesempatan bagi Museum Aceh untuk memperkenalkan warisan budaya daerah kepada para akademisi yang memiliki peran penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan di Indonesia.
Rombongan FKKA PTN-BH yang berkunjung berasal dari berbagai perguruan tinggi negeri badan hukum, di antaranya Universitas Gadjah Mada, Institut Teknologi Bandung, Institut Pertanian Bogor, Universitas Airlangga, Universitas Hasanuddin, Universitas Andalas, serta sejumlah perguruan tinggi lainnya.
Selama berada di Museum Aceh, para peserta mendapatkan pendampingan dari tim museum yang memberikan penjelasan mengenai sejarah Aceh, koleksi-koleksi unggulan, serta berbagai peninggalan budaya yang tersimpan di museum. Peserta juga diajak mengenal lebih dekat Rumoh Aceh yang menjadi salah satu ikon budaya dan simbol kearifan lokal masyarakat Aceh.
Berbagai informasi mengenai adat istiadat, nilai sosial, dan filosofi yang terkandung dalam arsitektur tradisional Aceh turut disampaikan kepada peserta sebagai bagian dari pengalaman edukatif yang diberikan museum. Melalui pendekatan tersebut, pengunjung tidak hanya memperoleh pengetahuan sejarah, tetapi juga memahami karakter budaya yang membentuk identitas masyarakat Aceh hingga saat ini.
Nurhasanah menambahkan bahwa kunjungan seperti ini menjadi momentum penting untuk memperluas pemahaman masyarakat luar daerah mengenai kekayaan sejarah dan budaya Aceh.
Kehadiran peserta dari berbagai perguruan tinggi diharapkan dapat menjadi jembatan promosi budaya yang memperkenalkan Aceh kepada lingkungan akademik yang lebih luas. (***)
















