Banda Aceh | TubinNews.com – Ribuan koleksi bersejarah yang tersimpan di Museum Aceh tidak hanya dipamerkan sebagai objek edukasi dan wisata budaya, tetapi juga dirawat melalui sistem konservasi yang terukur dan berkelanjutan.
Di bawah pengelolaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, berbagai upaya dilakukan untuk memastikan warisan sejarah tersebut tetap terjaga dan dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
Kepala Seksi Koleksi dan Bimbingan Edukasi UPTD Museum Aceh, Nurhasanah, mengatakan setiap koleksi yang dimiliki museum memerlukan perlakuan khusus sesuai dengan karakteristik materialnya. Karena itu, pengaturan lingkungan menjadi salah satu aspek penting dalam menjaga kualitas dan keutuhan benda-benda bersejarah tersebut.
“Pencahayaan, suhu, dan kelembapan harus diatur, karena kalau terlalu panas atau terkena sinar ultraviolet (UV), koleksi bisa mengalami kerusakan,” ujar Nurhasanah di Banda Aceh, Rabu (22/4/2026).
Menurutnya, koleksi museum yang dipajang di ruang pamer maupun yang disimpan di ruang penyimpanan khusus sama-sama memerlukan pengawasan intensif. Pengendalian suhu dan kelembapan dilakukan secara berkala untuk menciptakan kondisi yang ideal bagi setiap artefak.
Selain faktor lingkungan, partikel debu juga menjadi salah satu ancaman yang dapat mempercepat proses pelapukan berbagai jenis koleksi. Oleh sebab itu, tim konservasi Museum Aceh menerapkan pemeriksaan dan pembersihan rutin sebagai bagian dari prosedur pemeliharaan harian.
“Debu yang menempel dalam jangka waktu lama dapat memengaruhi kondisi material koleksi. Karena itu, pengawasan dan pembersihan dilakukan secara berkala,” jelasnya.
Nurhasanah menambahkan, metode perawatan setiap koleksi tidak dapat disamaratakan. Masing-masing artefak memiliki kebutuhan konservasi yang berbeda, tergantung pada bahan dasar dan tingkat kerentanannya terhadap perubahan lingkungan.
Salah satu koleksi yang membutuhkan perhatian khusus adalah benda-benda berbahan kain kuno. Material tekstil dinilai lebih rentan terhadap paparan cahaya serta proses degradasi alami akibat usia yang telah mencapai puluhan hingga ratusan tahun.
Untuk menjaga kondisi koleksi tetap stabil, Museum Aceh juga memanfaatkan ruang penyimpanan khusus yang dilengkapi sistem pengaturan iklim buatan. Fasilitas tersebut berfungsi menciptakan lingkungan yang sesuai bagi koleksi yang tidak sedang dipamerkan kepada publik.
“Kami rutin melakukan pengawasan dan pemantauan agar seluruh koleksi tetap berada dalam kondisi yang baik,” kata Nurhasanah.
Bagi pengelola Museum Aceh, upaya konservasi bukan sekadar aktivitas pemeliharaan fisik benda bersejarah, melainkan bagian dari tanggung jawab dalam menjaga memori kolektif masyarakat Aceh. Melalui perawatan yang berkelanjutan, berbagai peninggalan sejarah tersebut diharapkan dapat terus menjadi sumber pembelajaran, penelitian, dan edukasi budaya bagi masyarakat luas.
Sebagai salah satu pusat pelestarian sejarah dan kebudayaan di Aceh, Museum Aceh terus berkomitmen menjaga warisan masa lalu agar tetap lestari dan dapat diwariskan kepada generasi mendatang sebagai bagian penting dari identitas daerah. (***)















