Tubinnews — Banjir besar yang melanda sejumlah wilayah Sumatra dan Aceh pada akhir November 2025 meninggalkan banyak cerita dari warga terdampak. Salah satunya datang dari kawasan Blang Awe, Pidie Jaya, yang kembali dituturkan oleh Suci Ramadani berdasarkan pengalaman langsung saudara qarib Suci saat banjir terjadi.
Cerita itu ia dengar ketika singgah ke rumah saudaranya yang berada persis di depan Krueng Blang Awe. Meski kunjungan dilakukan setelah banjir berlalu, kisah tentang hari pertama banjir pada 25 November 2025 masih diceritakan secara rinci oleh keluarga qarib yang mengalaminya langsung.
Sebelum banjir, Krueng Blang Awe dikenal sebagai aliran air yang tidak besar. Lebarnya relatif kecil dan tidak seluas kondisi setelah banjir menerpa.
Namun hujan deras membuat krueng meluap dan berubah jauh lebih besar dari biasanya. Menurut keluarga yang bercerita kepada Suci Ramadani, pada awal kejadian kondisi air di sekitar krueng masih terlihat aman.
“Untuk kondisi air di sekitar krueng itu aman, tidak terlalu parah,” ujar Suci Ramadani.
Keluarga tersebut tinggal tepat di sisi krueng dan menempati dua rumah yang saling berdampingan. Satu rumah dihuni oleh ibu, yang diketahui bernama Lia dan keluarganya, sementara satu rumah lainnya dihuni oleh nenek (Ibu kandung Lia).
“Satu keluarga ada dua rumah. Rumah ibu Lia beserta keluarganya, dan satu rumah lagi rumah nenek,” kata Suci Ramadani.
Ketika situasi mulai terasa tidak menentu, keluarga yang berada di rumah ibu Lia memutuskan melarikan diri bersama-sama. Dalam kondisi panik dan serba cepat itulah, nenek tertinggal di rumahnya.
Saat meninggalkan rumah, kondisi di jalan justru berubah drastis. Air bergerak dan naik bersamaan dengan perjalanan mereka.
“Pas mereka lagi dalam perjalanan melarikan diri, airnya berbarengan dengan mereka,” ujarnya.
Di jalan, ketinggian air terus bertambah. Mobil yang mereka gunakan tidak lagi bergerak karena mesin dan justru terbawa arus banjir.
“Bannya sudah tidak menginjak tanah lagi. Mobilnya enggak bergerak karena mesin, tapi dibawa oleh air,” ujar Suci Ramadani apa adanya seperti yang di tuturkan oleh saudara yang mengalaminya.
Meski berada dalam kondisi tersebut, seluruh anggota keluarga di dalam mobil berhasil selamat. Sementara itu, kondisi di sekitar rumah justru berbeda. Rumah nenek yang berada tepat di samping krueng tidak dimasuki air. Air hanya naik hingga ke aspal dan teras. Hal serupa juga terjadi pada rumah ibu yang berada di sebelahnya.
“Kuasa Allah ya, rumahnya memang sedekat itu dengan Krueng, tapi enggak masuk air ke dalamnya. Cuma naik air sampai ke aspal saja, tidak sampai ke rumahnya. Mungkin karena rumahnya agak tinggi. Cuma kurang paham juga, karena rumah nenek (ibu kandung Lia) di samping itu juga enggak masuk air ke dalam rumah, cuma sampai teras saja,” katanya.
Di kawasan lain yang tidak jauh dari lokasi tersebut, sejumlah rumah terendam hingga ke atap. Bangunan di sekitar Pesantren Ummul Ayman II diketahui mengalami genangan cukup parah karena posisinya yang berada di samping krueng.
“Yang mencolok itu adalah rumah-rumah tenggelam sampai atap, apalagi rumah yang di samping Blang Awe itu. Di sampingnya ada Pesantren Ummul Ayman II, memang terendam banget karena memang posisinya dekat krueng,” ujar Suci.
Di seberang krueng, sebuah Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) yang sebelumnya berdiri di kawasan tersebut kini telah hilang, hanyut terbawa arus banjir. Menurut Suci, kejadian ini dipahami sebagai salah satu kuasa Allah yang ditampakkan.
Di tengah rumah yang selamat dari genangan, bangunan yang terendam, hingga sekolah yang hanyut terbawa arus, warga memaknai peristiwa tersebut dengan cara masing-masing. Bagi keluarga yang mengalaminya langsung, banjir ini dipahami sebagai salah satu kuasa Allah yang hadir dengan cara yang tidak selalu dapat dijelaskan oleh jarak dan ukuran semata.

















