Scroll untuk baca artikel
Pendidikan

Mahasiswa Teknik Kimia USK Sulap Rumput Bambu Jadi Material Penjernih Air

×

Mahasiswa Teknik Kimia USK Sulap Rumput Bambu Jadi Material Penjernih Air

Sebarkan artikel ini
Tim PKM-RE Teknik Kimia USK, yaitu Said Habiburrahman sebagai ketua, Zidan Farel Al-Rasyid, dan Muhammad Zaid.(Dok.Ist)
Tim PKM-RE Teknik Kimia USK, yaitu Said Habiburrahman sebagai ketua, Zidan Farel Al-Rasyid, dan Muhammad Zaid.(Dok.Ist)

Banda Aceh | TubinNews.comMahasiswa Jurusan Teknik Kimia Universitas Syiah Kuala (USK) menghadirkan inovasi penjernih air ramah lingkungan dengan memanfaatkan ekstrak rumput bambu (Pogonatherum crinitum).

Melalui Program Kreativitas Mahasiswa Riset Eksakta (PKM-RE), mereka mengembangkan membran penyaring air yang tidak hanya mampu menyaring air, tetapi juga memiliki sifat antibakteri dan antibiofouling.

Tim PKM-RE Teknik Kimia USK itu terdiri atas Said Habiburrahman sebagai ketua, Zidan Farel Al-Rasyid, dan Muhammad Zaid. Prof. Nasrul membimbing penelitian tersebut.

Ketua Tim PKM-RE Teknik Kimia USK, Said Habiburrahman, mengatakan timnya berupaya menjawab persoalan pencemaran air sekaligus mengatasi kelemahan teknologi membran konvensional.

“Kita sedang mengembangkan inovasi rekayasa membran penyaring air ramah lingkungan yang memiliki sifat antibakteri sangat kuat,” kata Said, Senin (31/8).

Tim tersebut mengangkat penelitian berjudul “Rekayasa Struktur dan Sifat Antibiofouling Membran Polietersulfon dengan Nanopartikel Perak (Ag) dan Seng Oksida (ZnO) dari Ekstrak Pogonatherum crinitum”.

Penelitian ini berangkat dari meningkatnya persoalan pencemaran air. Tim juga menyoroti keterbatasan membran polyethersulfone (PES) konvensional yang banyak digunakan dalam proses pengolahan air.

Menurut Said, membran PES masih menghadapi persoalan biofouling. Polutan organik dan mikroorganisme dapat menumpuk di permukaan serta pori-pori membran.

Penumpukan tersebut dapat menyumbat pori dan menurunkan efisiensi proses filtrasi. Karena itu, tim PKM-RE Teknik Kimia USK mencoba memperkuat kemampuan membran melalui rekayasa material.

Mereka menambahkan nanopartikel perak (Ag) dan seng oksida (ZnO) ke dalam membran PES. Dalam proses pembuatannya, tim menggunakan metode green synthesis dengan memanfaatkan ekstrak rumput bambu sebagai bahan alami.

Said menjelaskan, masyarakat selama ini lebih mengenal rumput bambu sebagai tanaman liar yang tumbuh di lingkungan tropis. Namun, tanaman tersebut menyimpan potensi yang lebih besar.

Baca Juga :  Universitas Teuku Umar Buka Pendaftaran Mahasiswa Baru Jalur Seleksi Mandiri Program Magister TA 2025/2026

“Padahal, tanaman liar ini telah dilaporkan mengandung berbagai senyawa bioaktif yang berpotensi besar untuk dimanfaatkan dalam bidang farmasi, biomedis, dan material,” ujarnya.

Tim kemudian memanfaatkan senyawa bioaktif dalam ekstrak rumput bambu, terutama polifenol dan flavonoid. Kedua senyawa tersebut berperan sebagai agen pereduksi dalam proses sintesis material berbasis nanopartikel.

Berdasarkan hasil pengujian laboratorium, membran hasil rekayasa tim menunjukkan potensi dalam memberikan sifat antibiofouling dan antibakteri.

Nanopartikel yang mereka hasilkan melalui metode green synthesis dengan ekstrak rumput bambu juga mampu menghambat pertumbuhan bakteri.

“Pemanfaatan bahan alami seperti rumput bambu diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap bahan kimia sintetis yang berpotensi berbahaya. Di sisi lain, inovasi ini meningkatkan nilai guna rumput bambu yang selama ini belum banyak dimanfaatkan,” kata Said.

Melalui penelitian tersebut, tim mahasiswa Teknik Kimia USK berharap dapat menawarkan alternatif baru untuk menjawab persoalan pencemaran air.

Mereka juga ingin mendorong pengembangan teknologi pengolahan air yang lebih efektif, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

“Kami berharap penelitian ini dapat menjadi salah satu inovasi dalam upaya mengatasi permasalahan pencemaran air,” pungkas Said.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *