BANDA ACEH – Sejauh 1.150 kilometer bukan sekadar angka bagi empat orang pemuda asal Aceh. Jarak tersebut menjadi perjalanan panjang untuk kembali membaca sejarah, menyapa alam, mengenal budaya, sekaligus berbagi cerita dari berbagai sudut Tanah Rencong melalui Aceh Overland Expedition 360° Series .
Mengusung tema “Tour • Explore • Culture • Share”, ekspedisi yang berlangsung pada 17–24 Juli 2026 ini menjadi sebuah perjalanan dokumentasi yang menghubungkan sejarah, bentang alam, budaya, hingga kondisi sosial masyarakat Aceh pascabencana banjir.
Empat personel yang terlibat dalam ekspedisi ini adalah Muhammad Al Khalifi, M. Zahid Alfaqih, Muallim Stany, dan Arga ET. Dengan menggunakan sepeda motor sebagai moda utama, mereka memulai perjalanan dari Banda Aceh menuju pesisir utara, dataran tinggi Gayo, hingga pesisir barat selatan Aceh sebelum kembali lagi ke titik awal.
Perjalanan ini bukan sekadar touring. Setiap kilometer yang dilalui memiliki cerita, setiap pemberhentian menyimpan sejarah, dan setiap destinasi menjadi ruang belajar mengenai Aceh yang sesungguhnya.
Menyusuri Jalan Pesisir dan Merawat Ingatan Bangsa
Dari Banda Aceh, tim bergerak menyusuri jalur pesisir menuju Laweung, Kabupaten Pidie. Hamparan laut yang membentang menjadi pembuka perjalanan sebelum tim singgah di salah satu lokasi paling penting dalam sejarah konflik Aceh, Rumoh Geudong.
Rumoh Geudong merupakan bekas pos militer pada masa Daerah Operasi Militer (DOM) Aceh yang menjadi simbol pelanggaran hak asasi manusia berat pada akhir 1980-an hingga 1998. Banyak warga sipil menjadi korban penyiksaan, penghilangan paksa, hingga pembunuhan di tempat ini. Kini kawasan tersebut dibangun sebagai Monumen Rumoh Geudong yang berfungsi sebagai ruang pengingat agar sejarah kelam tersebut tidak pernah terulang kembali.
Bagi tim Aceh Overland Expedition 360°, kunjungan ini menjadi bentuk penghormatan terhadap sejarah dan upaya merawat ingatan kolektif masyarakat Aceh.
Perjalanan kemudian berlanjut melewati bentangan sawah hijau Kabupaten Pidie Jaya hingga akhirnya tiba di Kabupaten Bireuen.
Mengarungi Krueng Peusangan, Nadi Kehidupan dari Danau Laut Tawar
Di Kabupaten Bireuen, perjalanan menghadirkan pengalaman berbeda. Tim menikmati arung jeram di Krueng Peusangan, sungai besar yang hulunya berasal dari Danau Laut Tawar, Aceh Tengah.
Didampingi rekan-rekan Mapala Alaska dan Faji Bireun serta sejumlah pegiat alam lainnya, tim menyusuri derasnya arus sungai yang selama ini menjadi sumber kehidupan masyarakat di sepanjang daerah alirannya.
Jeram-jeram yang menantang dipadukan dengan panorama hutan tropis menjadikan lokasi ini sebagai salah satu destinasi wisata petualangan terbaik di Aceh.
Radio yang Pernah Menyelamatkan Nama Indonesia
Dari Bireuen, perjalanan berlanjut menuju Kabupaten Bener Meriah. Salah satu titik penting yang dikunjungi adalah Monumen Radio Rimba Raya.
Monumen ini mengingatkan kembali pada peristiwa Desember 1948 ketika Belanda menduduki Yogyakarta dan mengklaim Republik Indonesia telah runtuh. Di tengah kondisi tersebut, Radio Rimba Raya yang beroperasi dari pedalaman Aceh menyiarkan ke dunia internasional bahwa Republik Indonesia masih tetap berdiri dan perjuangan belum berakhir.
Siaran radio darurat tersebut menjadi salah satu bukti penting yang menggagalkan propaganda Belanda di mata dunia. Kini nama Radio Rimba Raya terus dikenang dan diabadikan sebagai bagian dari sejarah penyiaran nasional melalui RRI.
Menyeruput Kopi Terbaik Dunia di Tanah Gayo
Memasuki dataran tinggi Gayo, perjalanan terasa semakin sejuk. Sebelum menuju Takengon, tim singgah di Seuladang Kopi, tempat yang menghadirkan cita rasa khas Kopi Arabika Gayo yang telah dikenal hingga pasar internasional.
Di sana, perjalanan sejenak berhenti untuk menikmati secangkir kopi sambil berdiskusi mengenai budaya kopi, proses budidaya, hingga kehidupan masyarakat Gayo yang telah turun-temurun menjaga kualitas salah satu kopi terbaik dunia.
Camping di Tepi Danau Laut Tawar
Malam itu, tim mendirikan tenda di tepian Danau Laut Tawar.
Suasana tenang, udara dingin pegunungan, serta langit malam yang memantul di permukaan danau menghadirkan pengalaman berkemah yang sulit dilupakan. Bagi tim, tempat ini bukan hanya lokasi bermalam, tetapi ruang untuk menikmati alam Aceh secara utuh.
Menelusuri Jejak Peradaban Purba Gayo
Keesokan harinya perjalanan dilanjutkan menuju Loyang Mendale, situs arkeologi penting yang berada di tepian Danau Laut Tawar.
Berbagai penelitian arkeologi menemukan kerangka manusia berusia sekitar 8.400 tahun, 4.400 tahun hingga 3.000 tahun lengkap dengan bekal kubur berupa gerabah, periuk, dan peralatan batu.
Hasil penelitian DNA menunjukkan adanya hubungan genetik yang kuat antara manusia purba tersebut dengan masyarakat Gayo masa kini. Temuan ini menjadi bukti bahwa kawasan Danau Laut Tawar telah menjadi pusat hunian manusia sejak ribuan tahun silam sekaligus salah satu titik penting perjalanan migrasi manusia di Nusantara.
Menembus Negeri di Atas Awan
Perjalanan kemudian berlanjut menuju Aceh Barat melalui jalur tengah yang dikenal sebagai salah satu jalan darat paling spektakuler di Aceh.
Tim melintasi kawasan Gunung Singgah Mata di perbatasan Kabupaten Aceh Tengah dan Nagan Raya yang berada pada ketinggian sekitar 2.214 meter di atas permukaan laut.
Jalur beraspal yang membelah pegunungan Bukit Barisan ini menghadirkan panorama luar biasa. Kabut tipis, hamparan pegunungan, lautan awan, hingga bentangan lembah menjadi pemandangan yang menemani setiap tikungan tajam. Jalur ini juga dikenal cukup ekstrem karena memiliki tanjakan curam, tikungan patah, serta jurang di sisi jalan.
Bagi para pengendara, Singgah Mata merupakan salah satu rute paling menantang sekaligus paling indah di Aceh.
Ziarah ke Makam Ulama Pejuang Beutong Ateuh
Di Beutong Ateuh Banggalang, tim berziarah ke makam Teungku Chik Ibrahim, seorang ulama kharismatik yang dihormati masyarakat setempat.
Selain dikenal sebagai tokoh penyebar syiar Islam, beliau juga dikenang sebagai sosok yang membimbing masyarakat dalam kehidupan sosial dan pendidikan agama di kawasan pedalaman Aceh Barat. Hingga kini makamnya masih ramai diziarahi masyarakat sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa-jasa beliau dalam membangun kehidupan keagamaan masyarakat Beutong.
Mengenang Semangat Perjuangan Teuku Umar
Perjalanan berlanjut menuju Kota Meulaboh, tanah kelahiran salah satu pahlawan terbesar Indonesia, Teuku Umar Johan Pahlawan.
Tim mengunjungi Tugu Teuku Umar, monumen yang berdiri sebagai penghormatan kepada sosok pejuang Aceh yang terkenal dengan strategi perang gerilyanya melawan kolonial Belanda.
Teuku Umar dikenal karena keberaniannya menyusup ke dalam pasukan Belanda sebelum akhirnya membalikkan seluruh persenjataan tersebut untuk perjuangan rakyat Aceh. Strategi ini menjadikannya salah satu tokoh militer paling disegani dalam sejarah perjuangan Indonesia.
Di kota ini, tim juga menikmati budaya ngopi khas pantai barat sebelum melanjutkan perjalanan.
Menikmati Pesisir Barat Selatan Hingga Durian Jatuh dari Pohonnya
Rute berikutnya membawa tim menyusuri jalan pesisir barat Aceh yang menawarkan panorama laut lepas, pantai berpasir putih, serta deretan perbukitan hijau.
di Camp Durian, Desa Lamseunia, Leupung. Aceh Besar, di kebun milik Bang Suhaimy.
Di tengah musim durian, tim merasakan pengalaman menikmati buah yang baru saja jatuh dari pohonnya. Suasana kebersamaan di bawah rindangnya pepohonan menjadi penutup malam sebelum perjalanan memasuki hari terakhir.
Sebelum kembali ke Banda Aceh, tim juga menyempatkan diri singgah dan camp di Lhok Gaca, salah satu destinasi wisata yang tengah ramai diperbincangkan masyarakat karena panorama pantainya yang masih alami.
Lebih dari Sekadar Touring
Aceh Overland Expedition 360° Series 1 membuktikan bahwa perjalanan dapat menjadi media belajar yang hidup.
Selama delapan hari perjalanan, tim tidak hanya menikmati keindahan alam Aceh, tetapi juga menyusuri situs sejarah, mengenal budaya lokal, berdialog dengan masyarakat, mendokumentasikan kondisi wilayah pascabencana, hingga mengangkat potensi wisata yang tersebar dari pesisir hingga pegunungan.
Ekspedisi ini menjadi pengingat bahwa Aceh menyimpan kekayaan yang luar biasa. Sejarah perjuangan, jejak peradaban ribuan tahun, bentang alam yang menakjubkan, budaya yang tetap lestari, serta keramahan masyarakat menjadi satu kesatuan yang layak dikenalkan lebih luas kepada Indonesia bahkan dunia.
Melalui semangat Tour • Explore • Culture • Share, Aceh Overland Expedition 360° diharapkan terus berlanjut sebagai gerakan dokumentasi perjalanan yang mampu memperkenalkan wajah Aceh dari berbagai sudut pandang—bukan hanya sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai tanah yang kaya sejarah, budaya, dan nilai-nilai kemanusiaan.
Tim ucapkan terimakasih kepada seluruh sponsor, tim pendukung serta masyarakat yang menyambut kami dengan ramah dimana pun saat kami berhenti























