Banda Aceh | TubinNews.com – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh terus mengembangkan berbagai strategi promosi yang adaptif terhadap perkembangan tren komunikasi digital. Salah satu langkah yang kini diperkuat adalah pemanfaatan influencer sebagai mitra promosi untuk memperkenalkan destinasi wisata Aceh kepada khalayak yang lebih luas melalui berbagai platform media sosial.
Pendekatan ini dinilai mampu meningkatkan eksposur pariwisata Aceh secara efektif sekaligus memperluas jangkauan promosi tanpa memerlukan tambahan biaya yang besar. Melalui kolaborasi tersebut, para influencer tidak hanya terlibat dalam produksi konten promosi, tetapi juga berperan sebagai agen penyebaran informasi kepada para pengikut mereka di media sosial.
Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata Disbudpar Aceh, Akmal Fajar, mengatakan keterlibatan influencer menjadi bagian penting dalam strategi pemasaran destinasi yang diterapkan pemerintah daerah saat ini.
“Kita gunakan influencer dari luar sebagai talent, sehingga mereka juga ikut mempublikasikan aktivitas selama berada di lokasi wisata,” kata Akmal Fajar kepada wartawan di Banda Aceh, Kamis (23/4/2026).
Menurut Akmal, nilai tambah dari strategi tersebut terletak pada kemampuan influencer menghadirkan promosi yang lebih organik dan dekat dengan audiens. Selain menghasilkan konten utama yang diproduksi dalam program promosi resmi, aktivitas para influencer selama berada di destinasi wisata juga memberikan dampak publikasi tambahan yang signifikan.
“Jadi bukan hanya video utama yang kita dapat, tapi juga ada publikasi tambahan dari aktivitas mereka di media sosial,” ujarnya.
Disbudpar Aceh menilai pola promosi berbasis kolaborasi digital tersebut mampu menciptakan efek berlipat atau multiplier effect karena informasi mengenai destinasi wisata dapat tersebar melalui berbagai kanal dan menjangkau beragam segmen masyarakat secara bersamaan.
Dengan memanfaatkan jaringan pengikut yang dimiliki masing-masing influencer, promosi destinasi wisata Aceh berpotensi memperoleh eksposur yang lebih luas dibandingkan metode promosi konvensional. Strategi ini juga dinilai relevan dengan perubahan perilaku wisatawan yang kini lebih banyak mencari referensi perjalanan melalui media sosial dan konten digital.
“Dengan satu kegiatan, dampaknya bisa jauh lebih luas karena tersebar di banyak platform,” katanya.
Lebih lanjut, Akmal menegaskan bahwa pemanfaatan influencer akan tetap menjadi bagian dari strategi pemasaran pariwisata Aceh ke depan. Disbudpar Aceh akan terus mengembangkan berbagai pendekatan kreatif yang mampu memperkuat citra destinasi sekaligus meningkatkan minat kunjungan wisatawan.
“Kita akan terus gunakan cara-cara kreatif seperti ini untuk memperluas promosi,” ujar Akmal. (***)













