Oleh: Ananda Khusnul Rizki Sulaiman (Mahasiswa Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala)
TubinNews.com – Perkembangan teknologi dari masa ke masa telah mengubah cara kerja dalam berbagai aspek kehidupan. Berbagai aktivitas yang sebelumnya dilakukan secara manual dan sangat bergantung pada kondisi alam, seperti cuaca, kini semakin terbantu oleh teknologi. Perubahan tersebut juga terjadi dalam sektor pertanian.
Pertanian merupakan salah satu aspek penting dalam pembangunan suatu negara. Selain berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan pangan, pertanian juga memiliki hubungan dengan perekonomian, ketahanan nasional, serta kerja sama antarnegara.
Perkembangan teknologi dalam sektor pertanian telah mengubah pola produksi yang sebelumnya sangat bergantung pada kondisi alam menjadi sektor yang semakin berbasis data, kecerdasan buatan (AI), drone, sensor, dan berbagai teknologi digital lainnya. Perkembangan tersebut tidak hanya berpengaruh terhadap ekonomi dan produktivitas pertanian, tetapi juga memiliki dampak yang semakin besar terhadap geopolitik.
Pertanian saat ini bukan hanya tentang menghasilkan pangan, tetapi juga berkaitan dengan kekuatan, ketahanan nasional, dan posisi suatu negara dalam hubungan internasional.
Teknologi pertanian memungkinkan proses produksi pangan dilakukan secara lebih efisien. Penggunaan drone dan sensor, misalnya, dapat membantu memantau kondisi tanaman. Sementara itu, AI dan data satelit dapat dimanfaatkan untuk memperkirakan kondisi lahan, kebutuhan air, serta potensi serangan hama. FAO juga menilai teknologi digital dan AI memiliki peluang untuk membuat sistem pangan menjadi lebih efisien, berkelanjutan, dan tangguh dalam menghadapi perubahan iklim.
Dalam perspektif geopolitik, teknologi pertanian dapat menjadi salah satu sumber kekuatan strategis. Negara yang mampu mengembangkan teknologi pertaniannya sendiri berpotensi memiliki ketahanan pangan yang lebih kuat dan tidak terlalu bergantung pada negara lain.
Sebaliknya, negara yang tertinggal dalam penguasaan teknologi pertanian berpotensi semakin bergantung pada impor pangan, benih, pupuk, mesin pertanian, maupun teknologi digital dari negara lain.
Hubungan antara pertanian, teknologi, dan geopolitik global juga terlihat ketika terjadi konflik atau ketegangan internasional. Gangguan terhadap jalur perdagangan dapat memengaruhi ketersediaan pupuk, bahan bakar, serta biaya produksi pertanian. Di sisi lain, perkembangan teknologi seperti pemantauan satelit, prakiraan cuaca, dan pengembangan benih tahan kekeringan dapat membantu mengurangi sebagian risiko yang dihadapi sektor pertanian.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan pada masa depan akan semakin berkaitan dengan kemampuan suatu negara dalam menguasai teknologi. Negara yang memiliki kemampuan dalam mengelola data pertanian, AI, teknologi benih, robotika, satelit, dan sistem irigasi cerdas berpotensi memiliki keunggulan strategis.
Kerja sama internasional di bidang pertanian juga mulai menjadi bagian dari agenda geopolitik. Pada 2026, negara-negara BRICS, misalnya, mengembangkan kerja sama terkait jaringan pertanian digital, sumber daya genetik, agroekologi, serta sistem benih.
Namun, perkembangan teknologi pertanian juga memiliki sisi lain yang perlu diperhatikan. Tidak semua petani memiliki akses yang sama terhadap teknologi dan internet. Petani kecil dapat tertinggal apabila teknologi hanya dapat dijangkau oleh perusahaan atau pemilik modal besar.
Selain itu, ketergantungan terhadap perusahaan teknologi asing dapat menimbulkan persoalan baru terkait kepemilikan data, keamanan informasi, dan kedaulatan teknologi. Karena itu, modernisasi pertanian tidak seharusnya hanya berorientasi pada peningkatan produktivitas, tetapi juga memastikan teknologi dapat diakses oleh petani kecil.
Bagi Indonesia, perkembangan teknologi pertanian seharusnya dilihat sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan dan kedaulatan nasional. Indonesia memiliki jumlah penduduk yang besar dan wilayah geografis yang luas sehingga ketersediaan pangan menjadi bagian penting dari stabilitas negara.
Pengembangan pertanian berbasis AI, drone, sensor, satelit, dan teknologi ramah lingkungan dapat menjadi salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menghadapi tantangan perubahan iklim. Pemerintah juga perlu memperkuat pendidikan dan keterampilan digital petani agar penguasaan teknologi tidak hanya terkonsentrasi pada perusahaan besar.
Pada titik ini, penulis berpendapat bahwa teknologi pertanian akan menjadi salah satu instrumen penting dalam geopolitik. Negara yang mampu menguasai teknologi pangan tidak hanya memperoleh keuntungan ekonomi, tetapi juga berpotensi memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam menghadapi krisis dan persaingan global.
Oleh karena itu, Indonesia perlu membangun ekosistem teknologi pertanian yang mandiri dengan melibatkan petani, perguruan tinggi, pemerintah, dan sektor swasta. Dengan demikian, kemajuan teknologi tidak hanya menghasilkan sektor pertanian yang lebih modern dan produktif, tetapi juga dapat memperkuat ketahanan pangan serta kedaulatan Indonesia.






