Banda Aceh | TubinNews.com – Museum Tsunami Aceh tidak hanya dikenal sebagai destinasi wisata edukatif, tetapi juga berkembang menjadi salah satu pusat rujukan penelitian kebencanaan yang menarik perhatian akademisi dan peneliti dari berbagai negara. Tingginya kunjungan peneliti mancanegara menunjukkan semakin besarnya perhatian global terhadap studi mitigasi bencana dan sejarah tsunami Aceh.
Kepala UPTD Museum Tsunami Aceh, Syahputra Azwar, mengatakan sejumlah peneliti asing secara rutin datang ke museum untuk melakukan riset dan pengumpulan data terkait kebencanaan.
“Banyak peneliti dari Jepang yang datang khusus untuk melakukan riset langsung kepada pengunjung,” ujar Syahputra Azwar di Banda Aceh, Sabtu (25/4/2026).
Menurutnya, Museum Tsunami Aceh menjadi salah satu lokasi penting untuk memahami dampak bencana tsunami 2004 serta berbagai upaya mitigasi yang dikembangkan pascabencana. Kondisi tersebut menjadikan museum sebagai objek penelitian yang relevan bagi kalangan akademisi internasional.
Selain peneliti dari Jepang, kunjungan penelitian juga datang dari berbagai negara lainnya.
“Yang kedua terbanyak itu dari Australia, dan ada juga dari beberapa negara di Eropa,” katanya.
Syahputra menjelaskan, sebagian besar penelitian yang dilakukan berkaitan dengan kebencanaan, mitigasi risiko bencana, pendidikan kebencanaan, hingga kajian sejarah mengenai peristiwa tsunami yang pernah melanda Aceh.
Ia menambahkan, kemudahan akses informasi melalui platform digital turut mendukung meningkatnya kunjungan peneliti asing. Sebelum datang ke Aceh, sebagian besar peneliti telah mencari informasi mengenai Museum Tsunami Aceh melalui internet dan menjadikannya sebagai salah satu tujuan utama dalam agenda penelitian mereka.
“Biasanya mereka sudah mencari informasi terlebih dahulu melalui internet sebelum datang ke Banda Aceh. Karena itu, museum menjadi salah satu destinasi utama dalam agenda kunjungan mereka,” ujarnya.
Sebagai pusat edukasi kebencanaan, Museum Tsunami Aceh menyediakan berbagai informasi dan materi pembelajaran yang dapat dimanfaatkan oleh akademisi, mahasiswa, maupun masyarakat umum. Koleksi yang tersedia mencakup dokumentasi sejarah tsunami, arsip visual, hingga informasi mengenai mitigasi dan kesiapsiagaan menghadapi bencana.
Menurut Syahputra, keberadaan peneliti mancanegara turut memperkuat posisi Museum Tsunami Aceh sebagai institusi yang memiliki peran strategis dalam pengembangan pengetahuan kebencanaan di tingkat internasional.
Ia berharap meningkatnya perhatian dari kalangan akademisi global dapat semakin memperluas fungsi museum tidak hanya sebagai destinasi wisata sejarah, tetapi juga sebagai pusat edukasi, penelitian, dan pengembangan wawasan kebencanaan yang diakui secara luas.
Dengan kombinasi fungsi wisata, edukasi, dan penelitian, Museum Tsunami Aceh terus memperkuat perannya sebagai salah satu ikon penting Aceh yang memberikan kontribusi bagi pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus peningkatan kesadaran masyarakat terhadap mitigasi bencana.(***)

















