Banda Aceh – Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh memastikan upaya promosi dan pelestarian budaya daerah tetap berjalan meski di tengah kebijakan efisiensi anggaran pemerintah. Berbagai strategi alternatif terus ditempuh agar kegiatan seni dan budaya tetap terlaksana serta memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kepala Bidang Bahasa dan Seni Disbudpar Aceh, Nurlaila Hamjah, mengatakan pihaknya kini memperluas pola pendanaan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk sektor perbankan, lembaga non-pemerintah, dan perusahaan melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsibility (CSR).
“Selain anggaran pemerintah, kami juga berupaya mencari sumber dukungan lain, termasuk melalui program CSR dan kerja sama dengan berbagai mitra,” ujar Nurlaila di Banda Aceh.
Menurutnya, sinergi lintas sektor menjadi salah satu solusi strategis untuk memastikan berbagai agenda kebudayaan tetap dapat berlangsung di tengah keterbatasan anggaran yang ada.
Salah satu contoh nyata dari pola kolaborasi tersebut adalah pelaksanaan Festival Ramadhan yang sukses digelar tanpa menggunakan pembiayaan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA). Kegiatan itu terlaksana berkat dukungan sejumlah lembaga dan mitra yang turut berkontribusi dalam penyelenggaraannya.
“Festival Ramadhan dapat terlaksana melalui kolaborasi dengan sektor perbankan dan sejumlah lembaga lainnya,” katanya.
Selain memperkuat kemitraan, Disbudpar Aceh juga terus mengupayakan dukungan dari pemerintah pusat melalui berbagai proposal program yang diajukan untuk mendukung pengembangan seni dan budaya di daerah.
Nurlaila menegaskan bahwa keterbatasan anggaran tidak menjadi hambatan dalam menjaga eksistensi budaya Aceh. Menurutnya, inovasi, kreativitas, dan kolaborasi menjadi faktor penting dalam memastikan kegiatan budaya tetap hidup dan berkembang di tengah masyarakat.
Ia menambahkan, keberlanjutan program budaya tidak hanya bertujuan melestarikan warisan tradisi, tetapi juga menjadi sarana penguatan identitas daerah serta mendorong tumbuhnya sektor ekonomi kreatif berbasis budaya.
“Yang terpenting adalah bagaimana kegiatan budaya tetap berjalan dan masyarakat tetap dapat merasakan manfaatnya,” ujarnya. (***)
















