Banda Aceh | TubinNews.com – Identitas budaya Aceh sebagai daerah yang dikenal dengan julukan Bumi Serambi Mekkah dinilai tengah menghadapi tantangan serius. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh mencatat terjadinya penurunan signifikan penggunaan bahasa Aceh dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan generasi muda.
Fenomena tersebut dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari minimnya pewarisan bahasa ibu di lingkungan keluarga hingga kuatnya dominasi bahasa Indonesia dan bahasa asing dalam ruang digital.
Kepala Bidang Bahasa dan Kesenian Disbudpar Aceh, Nurlaila Hamjah, mengatakan bahwa kondisi tersebut perlu menjadi perhatian bersama guna menjaga keberlangsungan bahasa Aceh sebagai bagian penting dari identitas budaya daerah.
Menurut Nurlaila, salah satu faktor utama yang menyebabkan berkurangnya penggunaan bahasa Aceh adalah proses peralihan antargenerasi yang tidak diikuti dengan pewarisan bahasa ibu secara konsisten di lingkungan keluarga.
“Pergantian generasi sangat berpengaruh. Ketika memasuki generasi berikutnya, penggunaan bahasa Aceh tidak selalu dilanjutkan secara optimal, terlebih jika dalam keluarga terjadi pernikahan antarsuku,” ujarnya. Kamis, 23 April 2026.
Ia menjelaskan, penggunaan bahasa Indonesia cenderung lebih dominan dalam keluarga yang memiliki latar belakang etnis berbeda maupun yang tinggal di kawasan perkotaan dan daerah penyangga kota. Kondisi sosial dan demografis tersebut secara perlahan mengurangi ruang penggunaan bahasa Aceh dalam komunikasi sehari-hari.
“Di keluarga yang menikah dengan orang luar Aceh, umumnya komunikasi di rumah menggunakan bahasa Indonesia agar seluruh anggota keluarga dapat saling memahami. Kebiasaan ini secara tidak langsung mengurangi penggunaan bahasa Aceh di lingkungan keluarga,” katanya.
Teknologi dan Media Sosial Jadi Tantangan Baru
Selain faktor pernikahan antarsuku dan urbanisasi, perkembangan teknologi informasi juga dinilai memberikan pengaruh besar terhadap menurunnya penggunaan bahasa daerah.
Nurlaila menuturkan bahwa derasnya arus informasi melalui internet dan media sosial yang didominasi bahasa Indonesia maupun bahasa asing membuat generasi muda lebih akrab dengan bahasa-bahasa tersebut dibandingkan bahasa Aceh.
“Teknologi memiliki peran yang sangat besar. Sebagian besar konten di media sosial menggunakan bahasa nasional dan bahasa asing. Hal ini secara langsung memengaruhi kebiasaan serta pola berbahasa generasi muda saat ini,” ungkapnya.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi berbagai pihak untuk menghadirkan lebih banyak konten kreatif berbasis bahasa Aceh agar tetap relevan dan dekat dengan generasi muda di era digital.
Disbudpar Aceh berharap upaya pelestarian bahasa Aceh dapat dilakukan secara kolaboratif oleh keluarga, lembaga pendidikan, komunitas budaya, serta masyarakat luas. Dengan demikian, bahasa Aceh tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi juga tetap hidup dan digunakan dalam kehidupan sehari-hari oleh generasi mendatang.(***)
















