PALUTA – Puluhan mahasiswa menggelar aksi demonstrasi terhadap penanganan kasus dugaan mafia BBM subsidi di wilayah Padang Lawas Utara (Paluta). Aksi tersebut berlangsung di depan Mapolres Tapanuli Selatan pada Senin (25/5/2026).
Dalam aksinya, mahasiswa meminta aparat penegak hukum tidak hanya berhenti pada penangkapan kurir atau pengangkut BBM bersubsidi jenis biosolar, tetapi juga mengusut pihak yang diduga menjadi aktor intelektual di balik praktik ilegal tersebut.
Mahasiswa menilai kasus penyalahgunaan BBM subsidi harus dibongkar hingga ke akar, termasuk dugaan keterlibatan pihak yang memperoleh keuntungan dari distribusi ilegal BBM subsidi.
Menanggapi kritik tersebut, Polres Tapanuli Selatan menegaskan bahwa proses penyidikan masih terus berjalan dan tidak berhenti hanya pada pengangkut BBM.
Kapolres Tapanuli Selatan, AKBP Yon Edi Winara melalui Kasat Reskrim IPTU Bontor Desmonth Sitorus mengatakan penyidik saat ini masih mendalami asal-usul BBM, pola distribusi, dokumen pembelian, hingga kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam perkara tersebut.
“Tidak benar bila disebut penyidik berhenti hanya pada pengangkut. Setiap pihak yang memiliki keterkaitan akan didalami sesuai fakta hukum dan alat bukti,” ujar IPTU Bontor.
Polres Tapsel juga mengaku telah memeriksa operator SPBU, meminta keterangan sejumlah saksi, serta berkoordinasi dengan PT Pertamina Regional 1 Sumbagut guna mengungkap konstruksi perkara secara utuh.
Menurut IPTU Bontor, penyidik bekerja berdasarkan alat bukti dan proses hukum, bukan asumsi maupun tekanan opini publik. Namun demikian, pihak kepolisian tetap menghormati kritik dan pengawasan masyarakat terhadap jalannya penanganan perkara.
“Kami menghormati masukan masyarakat. Penyidik bekerja untuk membuat terang perkara berdasarkan fakta hukum,” tutupnya.

















