Nagan Raya | TubinNews.com — Di tengah hamparan alam Seunagan yang tenang dan sarat nilai religius, berdiri sebuah masjid tua yang bukan sekadar tempat ibadah. Masyarakat mengenalnya sebagai Masjid Abu Peulekung, sementara nama resminya adalah Masjid Jamik Habib Muda Seunagan sebuah situs religi yang menyimpan kisah perjuangan, dakwah, hingga jejak sejarah Islam di Nagan Raya.
Bangunan masjid ini seolah menjadi pengingat bahwa Aceh tidak hanya kaya akan panorama alam, tetapi juga memiliki warisan spiritual yang hidup bersama masyarakat hingga hari ini. Dari kejauhan, arsitektur khasnya tampak sederhana namun memancarkan nuansa sakral yang kuat. Setiap sudutnya membawa cerita tentang ulama, perjuangan melawan penjajah, dan tradisi Islam yang terus diwariskan lintas generasi.
Masjid Peulekung dibangun pada tahun 1382 Hijriah atau bertepatan dengan 1960 Masehi oleh ulama kharismatik Aceh, Habib Muda Seunagan, yang memiliki nama lengkap Sayid Muhammad Muhyiddin bin Sayid Muhammad Yasin. Sosok beliau begitu dihormati masyarakat Aceh, bukan hanya sebagai guru agama, tetapi juga pejuang kemerdekaan yang memiliki pengaruh besar di wilayah pantai barat Aceh.
Habib Muda lahir di Gampong Krueng Kulu, Seunagan, sekitar tahun 1870. Sejak muda, beliau tumbuh di tengah suasana perjuangan melawan kolonial Belanda bersama ayahnya, Habib Syaikhuna Muhammad Yasin atau Tengku Padang Si Ali. Semangat perlawanan itu kemudian menjadikan dirinya dikenal luas sebagai pemimpin rakyat yang berani dan disegani.
Dalam catatan sejarah, Belanda bahkan menjulukinya “Tengku Puteh”, sebuah sebutan yang menggambarkan kharisma dan keberaniannya di medan perjuangan. Bersama para murid Tarekat Syattariyah, Habib Muda memimpin perlawanan rakyat Aceh terhadap kolonialisme. Namanya tercatat dalam sejarah sebagai salah satu tokoh penting di balik penyergapan terhadap petinggi militer Belanda kala itu.
Namun perjuangan Habib Muda tidak berhenti pada peperangan. Setelah masa konflik berlalu, beliau memilih jalan dakwah dan pendidikan sebagai cara menjaga ruh Islam di tengah masyarakat. Masjid Peulekung kemudian dibangun bukan hanya sebagai tempat salat, tetapi juga pusat pengajian, musyawarah, dan pembinaan umat.
Hingga kini, suasana religius masih begitu terasa di kawasan masjid tersebut. Tradisi pengajian, zikir, serta kegiatan keagamaan masyarakat masih rutin dilaksanakan. Banyak peziarah dan wisatawan religi datang untuk mengenal lebih dekat sejarah perjuangan Habib Muda sekaligus merasakan ketenangan spiritual di tempat itu.
Duta Wisata Nagan Raya Tahun 2025, Jul Hendri Ramadhani, mengatakan Masjid Peulekung memiliki nilai sejarah dan budaya Islam yang sangat kuat bagi masyarakat Nagan Raya.
“Masjid Peulekung bukan hanya bangunan tua biasa. Tempat ini menjadi simbol perjuangan ulama Aceh dalam mempertahankan agama dan kemerdekaan. Wisatawan yang datang tidak hanya melihat arsitektur masjid, tetapi juga belajar sejarah dan nilai-nilai Islam yang diwariskan oleh Habib Muda Seunagan,” ujarnya.
Menurut Jul Hendri, keberadaan masjid tersebut menjadi potensi besar bagi pengembangan wisata religi di Nagan Raya. Apalagi masyarakat sekitar masih menjaga tradisi dan nilai-nilai keislaman yang diwariskan para ulama terdahulu.
Bagi para pengunjung, perjalanan menuju Masjid Peulekung menghadirkan pengalaman berbeda. Nuansa pedesaan yang asri, keramahan masyarakat, serta kisah sejarah yang melekat membuat tempat ini terasa hidup dan penuh makna. Banyak pengunjung memilih datang untuk berziarah, berdoa, hingga sekadar menikmati ketenangan yang sulit ditemukan di perkotaan.
Tidak sedikit pula generasi muda yang mulai mengenal kembali sejarah perjuangan ulama Aceh melalui kunjungan ke masjid ini. Di tengah perkembangan zaman, Masjid Peulekung tetap berdiri sebagai penjaga nilai, identitas, dan warisan Islam di bumi Nagan Raya.
Atas jasa perjuangannya bagi Republik Indonesia, Habib Muda Seunagan dianugerahi Bintang Jasa Utama oleh Presiden B. J. Habibie pada 10 November 1998. Penghargaan tersebut diterima pihak keluarga melalui Gubernur Aceh saat itu sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi beliau dalam perjuangan kemerdekaan.
Kini, Masjid Peulekung bukan sekadar saksi bisu sejarah. Ia telah menjelma menjadi destinasi wisata religi yang menyatukan sejarah, spiritualitas, dan budaya Islam Aceh dalam satu tempat yang penuh makna. [***]

















