Abdya | TubinNews.com – Wisata ke Aceh kini tidak lagi hanya tentang pantai, kopi, atau wisata religi. Dalam beberapa tahun terakhir, wisata budaya mulai menarik perhatian pelancong domestik hingga mancanegara. Salah satu yang mulai banyak dibicarakan adalah motif tradisional Rumpun Biluluk dari Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya).
Motif khas ini perlahan muncul di berbagai acara adat, festival budaya, hingga ajang promosi wisata daerah. Tidak sedikit wisatawan yang penasaran dengan bentuk motifnya yang unik dan filosofi yang tersimpan di balik setiap pola kain.
Bagi masyarakat Abdya, Rumpun Biluluk bukan sekadar corak hias pada busana. Ada cerita panjang tentang kehidupan sosial, kebersamaan, dan warisan indatu atau leluhur yang masih dijaga hingga sekarang.
Motif ini terinspirasi dari anyaman daun kelapa muda yang dibentuk berumpun. Dari bentuk sederhana itu lahir makna tentang persatuan dan hubungan antarmasyarakat yang saling menguatkan.
Warna-warna yang digunakan juga memiliki ciri khas tersendiri. Kombinasi emas, merah, dan hijau di atas kain gelap membuat motif ini terlihat kuat namun tetap elegan.
Agam Duta Wisata Aceh Barat Daya, Najman Riadhi, mengatakan motif Rumpun Biluluk kini mulai dikenal lebih luas karena sering ditampilkan dalam berbagai event budaya dan promosi pariwisata.
“Banyak wisatawan tertarik karena motif ini punya cerita. Jadi bukan hanya kain, tapi ada filosofi tentang kebersamaan masyarakat Abdya,” kata Najman kepada wartawan.
Menurutnya, wisatawan luar daerah biasanya penasaran ketika melihat motif tersebut dipakai dalam penyambutan tamu, pagelaran budaya, hingga ajang pemilihan Agam Inong.
“Mereka sering bertanya arti motifnya. Dari situ biasanya mulai tertarik mengenal budaya Aceh lebih jauh,” ujarnya.
Najman mengaku generasi muda di Abdya saat ini mulai kembali bangga mengenakan motif tradisional dalam berbagai kegiatan, termasuk acara formal dan promosi wisata.
Fenomena itu dinilai menjadi pertanda bahwa warisan budaya lokal masih memiliki tempat di tengah tren fashion modern.
Hal senada disampaikan Inong Duta Wisata Aceh Barat Daya, Srikandi. Ia mengatakan motif tradisional seperti Rumpun Biluluk punya potensi besar menjadi identitas wisata budaya Aceh di masa depan.
“Wisatawan sekarang suka sesuatu yang autentik dan punya nilai budaya. Rumpun Biluluk punya itu,” kata Srikandi.
Menurutnya, banyak wisatawan mancanegara mulai tertarik pada produk budaya lokal yang memiliki cerita dan filosofi kuat.
Karena itu, ia berharap motif tradisional Aceh tidak hanya dipakai dalam seremoni adat, tetapi juga dikembangkan menjadi produk kreatif yang lebih dekat dengan generasi muda dan pasar wisata.
“Kalau dikemas dengan baik, ini bisa jadi daya tarik wisata budaya yang kuat. Orang datang bukan cuma lihat alam, tapi juga ingin mengenal identitas daerah,” ujarnya.
Di Aceh Barat Daya sendiri, penggunaan motif Rumpun Biluluk mulai berkembang ke berbagai produk, mulai dari busana, syal, tas, hingga souvenir khas daerah.

Kehadiran motif ini juga mulai terlihat di ruang-ruang publik seperti pameran UMKM, festival budaya, dan promosi pariwisata daerah.
Bagi wisatawan, hal seperti ini menghadirkan pengalaman berbeda. Mereka tidak hanya menikmati destinasi, tetapi juga membawa pulang cerita tentang budaya lokal yang masih hidup.
Di tengah derasnya arus modernisasi, masyarakat Abdya tetap menjaga warisan tersebut agar tidak hilang ditelan zaman.
Banyak kalangan percaya, budaya akan tetap bertahan jika terus digunakan dalam kehidupan sehari-hari, bukan hanya disimpan sebagai simbol masa lalu.
Rumpun Biluluk menjadi contoh bagaimana tradisi dapat berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan makna aslinya.
Dari anyaman daun kelapa muda hingga hadir dalam balutan busana modern, motif ini membawa pesan sederhana tentang kebersamaan dan hubungan antargenerasi yang tetap terhubung.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Aceh Barat Daya, mengenal Rumpun Biluluk bukan hanya soal melihat motif kain. Ada cerita tentang kehidupan masyarakat, tentang indatu yang mewariskan nilai, dan tentang bagaimana budaya tetap tumbuh di tengah perubahan zaman.
Karena itu, tak sedikit wisatawan yang kini mulai memasukkan wisata budaya ke dalam daftar perjalanan mereka saat datang ke Aceh. Dan di antara banyak kekayaan budaya yang dimiliki Tanah Rencong, Rumpun Biluluk perlahan mulai mengambil tempat sebagai identitas baru wisata budaya Aceh Barat Daya.[***]

















