Nagan Raya | TubinNews.com – Di balik lembaran-lembaran tua yang mulai menguning dimakan usia, tersimpan kisah panjang tentang peradaban Islam yang tetap hidup hingga hari ini. Aroma khas kertas lawas berpadu dengan suasana tenang menjadikan Museum Al-Quran Kuno bukan sekadar tempat penyimpanan benda bersejarah, melainkan ruang yang membawa pengunjung menyusuri jejak dakwah Islam dari masa silam.
Tulisan pada Al-Quran kuno itu merupakan karya tangan dari Syeh Maulana Malik Ibrahim, seorang ulama sufi pada masa tersebut.
Tak hanya usianya yang 700 tahun, kitab suci umat Islam ini juga dikenal dengan nama Al-Quran wangi, dan diyakini merupakan Al-Qur-an pertama di Indonesia.
Mushaf ini sendiri bawa oleh Syeh Maulana Malik Ibrahim, sekaligus juga merupakan ayahanda dari Sunan Ampel yang terkenal saat melakukan penyebaran Islam di tanah Jawa.
Museum Al-Quran yang terletak di jalan Nasional Simpang Peut, Kabupaten Nagan Raya ini menjadi salah satu destinasi wisata religi yang menarik perhatian masyarakat. Koleksi Al-Quran kuno dari tahun 1800-an menjadi daya tarik utama yang membuat siapa pun terpukau saat melihat detail tulisan tangan, ukiran, hingga kaligrafi yang masih terjaga keindahannya. Saat ini, kondisi fisiknya pun terpelihara dengan baik. Mushaf Al-quran kuno yang ada di Museum tersebut hingga kini berjumlah 62 koleksi.
Duta Wisata Nagan Raya 2025, Jul Hendri Ramadhani, mengatakan bahwa keberadaan museum tersebut memiliki nilai sejarah yang sangat penting, terutama dalam mengenalkan perkembangan Islam kepada generasi muda.
Menurutnya, setiap Al-Quran kuno yang tersimpan di museum memiliki cerita tersendiri. Mulai dari proses penyalinan secara manual hingga perjalanan mushaf tersebut sampai ke tangan para ulama dan masyarakat Aceh pada masa lampau.
“Ketika melihat langsung koleksi Al-Quran dari tahun 1800-an, kita seperti diajak kembali ke masa lalu. Ada rasa kagum karena para ulama terdahulu mampu menjaga dan menyebarkan ajaran Islam dengan penuh ketekunan,” ujarnya.
Tidak hanya menjadi tempat wisata religi, museum ini juga menawarkan pengalaman edukasi yang mendalam. Pengunjung dapat melihat langsung bentuk tulisan Arab klasik yang dibuat tanpa teknologi modern, lengkap dengan ornamen khas yang memperlihatkan seni Islam pada zamannya.
Keindahan setiap halaman mushaf menjadi bukti bahwa Islam tidak hanya berkembang melalui dakwah, tetapi juga lewat seni dan budaya. Detail tinta, pola hiasan, hingga jenis kertas yang digunakan memperlihatkan tingginya nilai estetika pada masa itu.
“Ini bukan hanya tentang benda lama, tetapi tentang bagaimana kita menghargai warisan para pendahulu. Museum Al-Quran Kuno menjadi pengingat bahwa ilmu dan agama telah dijaga dengan penuh cinta sejak ratusan tahun lalu,” kata Hendri.
Keberadaan Museum Al-Quran Kuno juga menjadi bukti bahwa wisata tidak selalu identik dengan hiburan modern. Di tempat ini, pengunjung justru diajak menikmati perjalanan spiritual, sejarah, dan kebudayaan Islam dalam satu waktu.
Banyak pengunjung mengaku merasakan ketenangan saat berada di dalam museum. Suasana hening membuat setiap orang lebih mudah merenungkan makna dari ayat-ayat suci yang selama ini dibaca dalam kehidupan sehari-hari. (***)

















