Jakarta | TubinNews.com – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan bahan implan tulang yang dapat terurai dan diserap tubuh setelah menjalankan fungsinya. Inovasi ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk impor.
Saat ini dilansir dari BRIN, sekitar 94 persen kebutuhan implan medis nasional masih bergantung pada produk impor. Pasar implan medis Indonesia diproyeksikan meningkat dari 20 juta dolar AS pada 2021 menjadi 36,67 juta dolar AS pada 2026.
Profesor Riset BRIN, Iwan Setyadi, mengembangkan implan berbasis magnesium untuk membantu pemulihan tulang yang mengalami cedera atau patah. Ia memaparkan riset tersebut dalam Sidang Terbuka Majelis Pengukuhan Profesor Riset BRIN di Gedung BJ Habibie, Jakarta, Kamis (8/10).
”Selama ini, dokter menggunakan implan berbahan logam seperti baja tahan karat dan titanium untuk menopang tulang yang cedera. Namun, implan tersebut umumnya bersifat permanen sehingga pasien dalam kasus tertentu perlu menjalani operasi tambahan untuk melepaskannya setelah tulang pulih,” jelasnya
Menurut Iwan, magnesium berpotensi menjadi bahan implan karena ringan dan memiliki sifat mekanik yang mendekati tulang. Namun, bahan ini mudah terurai terlalu cepat sehingga kekuatannya perlu ditingkatkan.
“Implan sementara menjadi alternatif karena dapat menopang tulang selama proses penyembuhan, kemudian terurai dan diserap tubuh,” terangnya.
Untuk mengatasinya, Iwan menggabungkan magnesium dengan carbonate apatite, bahan yang menyerupai mineral penyusun tulang. Kombinasi ini diharapkan membuat implan tetap kuat selama penyembuhan sekaligus mendukung pertumbuhan tulang baru.
”Pengembangan implan ini masih membutuhkan pengujian kekuatan, keamanan, dan proses penguraian sebelum dapat digunakan secara luas,” ungkapnya.
Di tingkat internasional, teknologi implan magnesium yang dapat terurai telah dikembangkan hingga tahap uji klinis dan pemasaran. Contohnya adalah Magnezix di Jerman dan K-MET di Korea Selatan.
Bersama masukan dokter ortopedi dari Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Iwan juga mengembangkan bahan tersebut menjadi calon sekrup untuk membantu rekonstruksi ligamen lutut yang cedera.
Penelitian ini telah menghasilkan 13 publikasi ilmiah dan satu paten. Pengembangan selanjutnya mencakup pengujian lanjutan, penyempurnaan desain, pemenuhan perizinan, dan persiapan produksi.
Iwan berharap inovasi tersebut dapat dikembangkan untuk berbagai kebutuhan implan tulang dan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap produk impor.
“Riset ini diharapkan menghasilkan implan yang aman dan efektif serta memperkuat kemandirian teknologi implan tulang nasional,” pungkasnya.






