Simeulue ||Tubinnews.com ||Sejumlah wali murid mengeluhkan proses belajar mengajar di SMP Negeri 2 Alafan yang dinilai tidak berjalan maksimal dan tidak menentu pasca kegiatan perpisahan siswa kelas 3. Kondisi tersebut memicu keresahan para orang tua karena dinilai berdampak langsung terhadap kualitas pendidikan siswa.
Salah satu wali murid menyampaikan bahwa sekolah sebagai lembaga pendidikan seharusnya tetap menjalankan kegiatan belajar mengajar secara aktif, disiplin, dan teratur demi menjamin hak pendidikan para siswa.
“Kami berharap Dinas Pendidikan segera melakukan evaluasi terkait proses belajar yang tidak menentu ini. Kalau kondisi belajar seperti ini terus dibiarkan, bagaimana nasib pendidikan anak-anak kami,” ungkap salah satu wali murid kepada media.
Menurut keterangan para orang tua, sejak beberapa bulan dari belakang kegiatan aktivitas belajar di sekolah disebut tidak lagi berjalan normal. Sejumlah siswa bahkan mengaku jarang mengikuti pelajaran karena guru kerap tidak masuk pada jam belajar.
Selain itu, wali murid juga menyoroti keterlambatan pembagian rapor semester yang dinilai tidak profesional dan menimbulkan tanda tanya di kalangan orang tua.
“Saya mau tanya kenapa anak-anak SMP tidak aktif belajar? Anak saya bilang semenjak beberapa bulan yang lalu kegiatan proses belajar mengajar kurang efektif sistem belajarnya. Kok bisa seperti itu? Terus pembagian rapor semester juga terlambat. Waktu itu alasannya guru tidak ada di tempat karena ke Jakarta. Setelah pulang pun lama tidak dibagikan, baru belakangan ini dibagi. Apa memang seperti itu selalu?” ujar salah satu wali murid.
Tidak hanya itu, sejumlah orang tua juga menilai Kepala Sekolah Adis dinilai kurang tegas dalam mengawasi kedisiplinan tenaga pendidik di sekolah tersebut. Akibat lemahnya pengawasan, banyak jam pelajaran disebut kosong sehingga siswa tidak mendapatkan materi pelajaran secara maksimal.
Wali murid meminta Dinas Pendidikan segera turun tangan untuk mengevaluasi kinerja kepala sekolah maupun para guru di SMP Negeri 2 Alafan. Mereka menilai proses belajar mengajar di sekolah tersebut tidak berjalan efektif dan efisien sebagaimana mestinya.
Selain persoalan disiplin, para wali murid juga menyoroti kurangnya kekompakan dan keharmonisan antara kepala sekolah dan para guru, yang dinilai turut memengaruhi kondisi pendidikan di lingkungan sekolah.
“Kami melihat kepala sekolah lebih fokus pada urusan pribadi dibanding membangun karakter, kedisiplinan, dan perkembangan sekolah. Kalau dibiarkan terus, tentu yang dirugikan adalah para siswa,” tegas salah satu wali murid.
Para wali murid berharap ada tindakan nyata dan evaluasi menyeluruh agar kegiatan belajar mengajar di SMP Negeri 2 Alafan kembali berjalan normal, disiplin, dan sesuai standar pendidikan demi masa depan para siswa.
















