Banda Aceh | TubinNews.com – Di sudut-sudut kota Banda Aceh, Ramadan selalu datang dengan suasana yang khas. Menjelang azan magrib, jalanan dipenuhi orang yang berburu takjil, mulai dari mahasiswa hingga masyarakat lokal.
Di tengah suasana religius itu, ada banyak mahasiswa rantau yang menjalani Ramadan dengan cerita yang berbeda, jauh dari keluarga, namun tetap berusaha menemukan makna di tanah perantauan.
Bagi sebagian mahasiswa, Ramadan bukan hanya tentang ibadah dan menahan lapar. Bulan suci ini juga membawa rasa rindu pada rumah, pada meja makan keluarga, dan pada kebiasaan sederhana yang dulu terasa biasa saja.
Mistia Zahra, mahasiswa Program Studi Bahasa Inggris Universitas Syiah Kuala asal Padang, Sumatera Barat, merasakan hal itu sejak pertama kali menjalani Ramadan di Aceh. Tahun pertama berpuasa di perantauan menjadi pengalaman yang cukup berat baginya.
“Tahun pertama, awalnya pasti sedih karena tidak bisa menjalani ibadah Ramadan bersama keluarga saat sahur, berbuka, atau tarawih,” katanya kepada Tubinnews, Sabtu (07/03/2026).
Kini ia sudah memasuki tahun kedua menjalani Ramadan jauh dari rumah. Perasaan rindu itu masih ada, tetapi perlahan ia mulai terbiasa dengan ritme kehidupan baru di tanah rantau. Menurutnya, salah satu tantangan terbesar adalah menyesuaikan diri dengan makanan. Masakan yang ia temui di perantauan sering kali terasa berbeda dengan cita rasa rumah.
“Yang paling terasa itu dari makanan. Sangat sulit menyesuaikan cita rasa di tanah rantau dengan masakan rumah. Biasanya juga kalau di rumah dibangunkan sahur, sementara di rantau harus mandiri,” ungkapnya.
Di kampung halamannya, Ramadan selalu diwarnai berbagai kegiatan bersama masyarakat. Mulai dari tadarus di masjid hingga ngabuburit bersama teman-teman di sore hari.
“Biasanya kami ikut ibadah bersama di masjid kampung, tadarusan, atau ngabuburit sama teman-teman kampung. Suasana seperti itu yang paling dirindukan,” tambahnya lirih.
Meski demikian, ia juga merasakan sisi lain Ramadan di Aceh. Menurutnya, kehidupan Ramadan di kota terasa lebih ramai dibandingkan di kampung halamannya.
“Di Aceh saya berada di kota jadi rasanya lebih ramai dan meriah. Di kampung juga ada suasana Ramadan, tapi tidak seramai di kota. Walaupun begitu tetap terasa hampa kalau tidak bersama keluarga,” ujarnya.
Di balik rasa rindu itu, Mistia mulai menemukan makna baru dari Ramadan yang dijalaninya di tanah rantau. Ia merasa bulan suci ini mengajarkan banyak hal tentang kemandirian dan kedisiplinan.
“Ramadan bukan hanya mengajarkan kita untuk sabar, tapi juga kuat, mandiri, dan disiplin. Walaupun suasananya berbeda, saya mulai menikmati Ramadan di rantau dengan hati yang lapang,” pungkasnya.
Cerita serupa juga datang dari Nur Inda Andita, mahasiswa Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh asal Medan, Sumatera Utara. Baginya, perbedaan paling terasa adalah momen kebersamaan saat sahur dan berbuka.
“Biasanya sahur dan berbuka bersama orang tua, sekarang harus sendiri,” ujarnya.
Namun pengalaman hidup di pondok sebelumnya membuatnya lebih siap menjalani Ramadan jauh dari keluarga. Meski begitu, tantangan kecil tetap ada, seperti bangun sahur sendiri atau menjaga pola makan selama berpuasa.
“Kadang saya tidak terbangun sahur, tapi saya tidak pernah meninggalkan puasa,” tuturnya.
Bagi Inda, momen yang paling ia rindukan adalah kebersamaan bersama keluarga sebelum berbuka puasa. Biasanya mereka berkumpul di ruang keluarga, saling bercerita tentang kegiatan sepanjang hari, lalu menunggu azan magrib bersama.
“Biasanya sebelum berbuka kami saling sharing apa yang dilakukan selama satu hari itu, lalu berdoa bersama menjelang azan,” kenangnya.
Meski jauh dari rumah, ia mengakui bahwa suasana Ramadan di Aceh memiliki karakter yang kuat. Menurutnya, kehidupan masyarakat selama bulan suci terasa lebih tertib dan religius.
“Di Aceh suasana ibadah di masjid sangat hidup. Makanan juga banyak yang tutup dan masyarakat terlihat lebih tertib menjalani Ramadan,” jelasnya.
Di balik pengalaman sebagai mahasiswa rantau, Ramadan justru memberi ruang refleksi yang lebih dalam bagi dirinya. Ia memaknai bulan suci ini sebagai waktu untuk kembali memperbaiki diri setelah menjalani berbagai aktivitas selama sebelas bulan sebelumnya.
“Ramadan itu seperti kampung halaman bagi jiwa kita. Selama sebelas bulan jiwa kita seperti melalang buana, lalu di bulan ini kita kembali memperbaiki diri. Rasanya seperti pulang ke rumah, tenang dan damai,” tutupnya.
















