Banda Aceh | TubinNews.com – Aceh Ramadhan Festival 2026 resmi dibuka di kawasan Masjid Raya Baiturrahman, Minggu (1/3/2026) sore. Ribuan masyarakat memadati pelataran masjid ikonik tersebut, menciptakan suasana religius yang hangat dan penuh kebersamaan di awal bulan suci Ramadan.
Pembukaan festival dilakukan oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Aceh, T. Robby Irza, yang mewakili Gubernur Aceh Muzakir Manaf. Dalam pidato tertulis yang dibacakan, Gubernur menegaskan bahwa Aceh Ramadhan Festival yang telah masuk dalam agenda nasional Kharisma Event Nusantara (KEN) bukan sekadar kegiatan seremonial.
“Ramadhan di Aceh selalu memiliki nuansa yang khas, yang tidak hanya hadir sebagai momentum spiritual personal, tetapi juga menjadi kekuatan kolektif yang menghidupkan tradisi, mempererat ukhuwah, dan menggerakkan kehidupan sosial ekonomi masyarakat,” ungkap Robby Irza membacakan sambutan Gubernur Aceh.
Menurutnya, festival ini menjadi ruang bersama untuk merayakan tradisi, mempererat silaturahmi, sekaligus memperkuat nilai-nilai keislaman dalam kehidupan masyarakat Aceh.
“Kita ingin setiap tamu yang datang merasakan kedamaian saat adzan berkumandang, menyaksikan syiar Islam yang tertib dan khusyuk, menikmati kekayaan kuliner berbuka puasa, serta merasakan keramahan masyarakat Aceh yang tulus dan bersahaja,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa Aceh Ramadhan Festival merupakan bagian dari strategi memperkuat posisi Aceh sebagai destinasi wisata halal unggulan, baik di tingkat nasional maupun internasional. Masuknya kembali festival ini dalam KEN menjadi indikator meningkatnya kepercayaan terhadap Aceh sebagai daerah dengan karakter budaya dan religius yang kuat.
“Kita meyakini masa depan ekonomi Aceh bertumpu pada kreativitas masyarakatnya. Ketika budaya, tradisi, dan nilai religius berpadu dengan inovasi dan profesionalisme, maka insya Allah pertumbuhan ekonomi akan berjalan seiring dengan penguatan jati diri daerah,” katanya.
Festival ini juga dinilai sebagai momentum penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan UMKM lokal. Pemerintah Aceh berkomitmen terus memperkuat sektor kuliner, kriya, dan produk kreatif agar mampu bersaing di pasar yang lebih luas tanpa kehilangan identitas budaya dan nilai-nilai Islam.
Selain itu, Pemerintah Aceh juga menegaskan komitmennya dalam mempercepat rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana, sehingga masyarakat terdampak dapat segera bangkit dan kembali menjalankan aktivitas sosial ekonomi.
“Semangat penyelenggaraan festival ini menjadi simbol bahwa di tengah ujian, masyarakat Aceh tetap kuat, bersatu, dan optimis menatap masa depan. Mari kita tampilkan wajah Aceh yang ramah, santun, dan profesional sehingga kesan yang tertanam di hati para pengunjung adalah kesan yang indah dan membanggakan,” tutupnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh, Dedy Yuswadi, selaku Ketua Panitia melaporkan bahwa Aceh Ramadhan Festival 2026 berlangsung pada selama satu pekan mulai 1–7 Maret 2026 dengan mengusung tema “The Truly Spiritual Journey in Serambi Mekkah.”
Ia menjelaskan, festival ini kembali terpilih sebagai bagian dari KEN 2026 yang merupakan program strategis Kementerian Pariwisata Republik Indonesia dengan menghadirkan 125 event terbaik dari 38 provinsi di Indonesia.
Aceh bahkan mencatatkan capaian membanggakan dengan tiga agenda wisata masuk dalam KEN 2026, yakni Aceh Ramadhan Festival, Aceh Culinary Festival yang menembus Top 10 KEN 2026, serta Banda Aceh Colossal Coffee Experience.
“Rangkaian kegiatan yang dihadirkan meliputi puluhan stan UMKM binaan Bank Aceh Syariah, Pameran Mushaf Al-Qur’an yang digagas Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Aceh, talkshow ekonomi syariah dan literasi keuangan bersama Bank Indonesia dan OJK, program Ramadhan Berbagi, live tadarus Al-Qur’an, program donasi kebencanaan, hingga buka puasa bersama dalam rangka Khanduri Nuzulul Qur’an,” ujar Dedy.
Ia juga menyebutkan bahwa penyelenggaraan festival tahun ini memiliki makna khusus karena tidak menggunakan anggaran APBA Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh. Anggaran pemerintah difokuskan pada penanganan pascabencana banjir, namun festival tetap terlaksana berkat kolaborasi lintas sektor.
Panitia turut mengapresiasi dukungan berbagai pihak, di antaranya Bank Indonesia, Bank Aceh Syariah, Pertamina, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah I Aceh, Pemerintah Kota Banda Aceh, OJK, Telkomsel, hingga Grab.
“Melalui festival ini, pemerintah berharap Aceh Ramadhan Festival tidak sekadar menjadi agenda tahunan, tetapi menjadi ruang spiritual, ruang kebersamaan umat, penguatan ekonomi syariah, sekaligus momentum memperkenalkan Aceh sebagai destinasi religi dunia yang damai, ramah, dan penuh keberkahan,” pungkasnya.(*)














