Banda Aceh | TubinNews.com — Siang merambat pelan di sekitar Masjid Raya Baiturrahman. Di salah satu pangkalan becak yang kian lengang, Pak Nashir duduk menunggu penumpang. Becaknya terparkir rapi di tepi jalan. Matanya sesekali mengikuti arus kendaraan yang berlalu, berharap ada yang berhenti dan meminta tumpangan becaknya. Namun hingga matahari condong ke barat, belum satu pun penumpang datang.
Pak Nashir berusia 51 tahun. Lebih dari dua dekade hidupnya ia habiskan di jalanan Kota Banda Aceh sebagai penarik becak. Jauh sebelum tsunami 2004 mengubah wajah Aceh, pekerjaan itu sudah menjadi sandaran hidupnya.
“Dari sebelum tsunami memang sudah narik becak,” ujarnya pelan, seolah mengingat kembali perjalanan panjang yang telah ia lewati.
Becak bukan sekadar alat mencari nafkah. Dari situlah Pak Nashir membesarkan anak-anaknya, membayar kebutuhan dapur, hingga menyekolahkan mereka. Dulu, penumpang masih ramai. Becak menjadi pilihan utama warga untuk berpindah dari satu sudut kota ke sudut lainnya. Namun kini, keadaan telah berubah drastis.
“Pengaruhnya bukan biasa, udah luar biasa betul. Jauh kali,” katanya, menggambarkan dampak kehadiran ojek online dan semakin banyaknya kendaraan pribadi di Banda Aceh.
Sepinya penumpang berimbas langsung pada penghasilan hariannya. Dalam sehari, Pak Nashir terkadang hanya membawa pulang Rp30 ribu hingga Rp50 ribu. Jumlah itu belum dipotong BBM dan makan. Bahkan, tak jarang satu hari berlalu tanpa satu pun penumpang.
“Kayak hari ini, laris saja belum. Makan siang aja belum,” ucapnya lirih.
Tarif becak yang tak lagi pasti juga menjadi tantangan. Banyak penumpang menawar di bawah harga yang semestinya. Namun Pak Nashir jarang menolak.
“Kadang enggak maksimal harganya, tapi tetap kita ambil. Kalau enggak kita ambil, enggak ada uang,” katanya jujur.
Baginya, setiap penumpang—berapa pun bayarannya—adalah harapan untuk bisa bertahan satu hari lagi.
Bertahan sebagai penarik becak bagi Pak Nashir bukan lagi soal pilihan, melainkan keterpaksaan. Usia dan kondisi fisik yang membatasi langkahnya untuk beralih pekerjaan.
“Mau kerja bangunan, pinggang sudah sakit. Mau usaha lain, modal enggak ada,” tuturnya. Dengan nada pasrah, ia menambahkan, “Udah mentok di sini.”
Di rumah, Pak Nashir masih menanggung satu orang anak yang masih duduk dibangku sekolah. Dengan penghasilan yang serba terbatas, ia dan keluarganya hanya bisa saling menguatkan.
“Di rumah paling bilang sabar. Pendapatan kurang, kita cukup-cukupin,” ujarnya.
Tak ada keluhan berlebihan, tak pula tuntutan macam-macam. Yang ada hanya upaya untuk terus bertahan.
Untuk dirinya dan sesama penarik becak, Pak Nashir tak menyimpan harapan muluk. Pesannya sederhana, namun sarat makna.
“Kalau untuk kawan-kawan, ya semangat aja,” katanya singkat.
Di tengah Kota Banda Aceh yang terus bergerak dan berubah, Pak Nashir tetap setia di pangkalan becak dekat Masjid Raya Baiturrahman. Meski penumpang kian sepi dan hidup terasa berat, ia memilih bertahan—menunggu, berharap, dan menjalani hari dengan sabar. Karena di situlah satu-satunya jalan hidup yang masih ia punya.

















