BisnisEkobis

BCA Bantah Isu Akuisisi Haji Isam, Jhonlin Tegaskan Fokus ke BYAN

×

BCA Bantah Isu Akuisisi Haji Isam, Jhonlin Tegaskan Fokus ke BYAN

Sebarkan artikel ini
Gedung BCA. (Dok. BCA)
Gedung BCA. (Dok. BCA)

Jakarta | TubinNews.com – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) membantah kabar mengenai rencana akuisisi saham BBCA oleh pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam.
‎
‎EVP Corporate Communication & Social Responsibility BCA Hera F. Haryn menegaskan informasi yang beredar di media sosial tersebut tidak benar.
‎
‎“Menanggapi isu yang beredar di media sosial terkait adanya rencana aksi korporasi tertentu terhadap BCA, dapat kami sampaikan bahwa informasi tersebut tidak benar,” kata Hera dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, dikutip dari Antara.
‎
‎Hera mengimbau masyarakat, termasuk nasabah BCA, untuk tidak langsung mempercayai informasi yang beredar di media sosial. Ia meminta masyarakat menggunakan sumber resmi perusahaan dan media kredibel untuk mendapatkan informasi terkait aksi korporasi.
‎
‎“Perseroan senantiasa beroperasi berdasarkan prinsip kehati-hatian, berintegritas dan sesuai regulasi yang berlaku,” ujar Hera.
‎
‎BCA saat ini masih memiliki struktur kepemilikan yang didominasi PT Dwimuria Investama Andalan (DIA). Perusahaan tersebut menguasai 67,73 miliar saham atau 54,94 persen saham BCA.
‎
‎Sementara itu, kepemilikan masyarakat mencapai 44,64 persen. Rinciannya terdiri atas 2,51 persen saham masyarakat warkat dan 42,13 persen saham masyarakat non warkat.
‎
‎Perubahan terakhir terjadi pada tingkat pengendali terakhir BCA setelah Bambang Hartono meninggal dunia. BCA menyampaikan perubahan tersebut melalui keterbukaan informasi pada 31 Juli 2026.
‎
‎Sebelumnya, Robert Budi Hartono dan Bambang Hartono merupakan pemegang saham PT DIA sekaligus pengendali terakhir BCA. Setelah Bambang Hartono meninggal dunia, Robert Budi Hartono menjadi pemegang saham pengendali PT DIA.
‎
‎Kepemilikan Robert di PT DIA tetap sebesar 51 persen. Dengan perubahan tersebut, Robert menjadi pengendali terakhir BCA.

Baca Juga :  DPR Setujui Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur BI

Jhonlin Bantah Masuk Perbankan

‎Di tengah kabar mengenai BCA, Haji Isam memang sedang melakukan aksi korporasi bernilai besar. Namun, transaksi tersebut tidak berkaitan dengan sektor perbankan.
‎
‎Melalui PT Jhonlin Baratama, Haji Isam menandatangani perjanjian jual beli saham bersyarat atau Conditional Sales and Purchase Agreement (CSPA) dengan Low Tuck Kwong dan Elaine Low.
‎
‎Perjanjian yang diteken pada 16 September 2026 itu mencakup pengalihan 10.000.000.500 saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN). Jumlah tersebut setara dengan 30 persen dari total saham beredar BYAN.
‎
‎Kuasa Hukum Jhonlin Group, Junaidi Tirtanata, juga membantah kabar mengenai rencana akuisisi BCA oleh Haji Isam.
‎
‎Junaidi mengatakan belum ada pernyataan resmi dari manajemen Jhonlin Group yang menunjukkan adanya rencana ekspansi ke sektor perbankan.
‎
‎“Setiap informasi krusial terkait aksi korporasi harus selalu dirujuk pada sumber resmi yang memiliki kredibilitas dan dapat diverifikasi kebenarannya melalui jalur keterbukaan informasi bursa,” kata Junaidi, dilansir Suara.com.
‎
‎Ia juga meminta masyarakat, terutama pelaku pasar modal, tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di berbagai platform digital.

Fokus Akuisisi ke BYAN

Menurut Junaidi, aksi korporasi yang tengah dilakukan Jhonlin Group berkaitan dengan sektor pertambangan batu bara. Transaksi tersebut dilakukan melalui Jhonlin Baratama dengan mengakuisisi 30 persen saham BYAN.
‎
‎Manajemen BYAN telah melaporkan transaksi tersebut kepada Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 17 September 2026. Penyelesaian transaksi masih menunggu pemenuhan sejumlah kondisi pendahuluan atau conditions precedent.
‎
‎Berdasarkan perjanjian tersebut, Jhonlin Baratama akan memperoleh 10.000.000.500 saham BYAN. Jumlah itu setara dengan 30 persen dari total saham beredar perseroan yang mencapai 33.333.335.000 saham.

Baca Juga :  Dek Zoel Jadi Pemateri Enterpreunership, Keberhasilan Tidak Lepas Dengan Doa 

Dari Rumor hingga Kesepakatan

‎Aksi korporasi tersebut menjadi kelanjutan dari dinamika yang sebelumnya berkembang di pasar. Pada Agustus 2026, sempat muncul spekulasi mengenai rencana pengambilalihan sekitar 62,2 persen saham BYAN oleh pihak Haji Isam.
‎
‎Saat itu, manajemen BYAN menyatakan tidak mengetahui secara pasti mengenai rencana akuisisi tersebut.
‎
‎Perkembangan kemudian berubah pada September 2026. Jhonlin Baratama secara resmi menandatangani CSPA dengan Low Tuck Kwong dan Elaine Low untuk pembelian 30 persen saham BYAN.
‎
‎Di tengah proses tersebut, tiga anak usaha BYAN juga sempat menyatakan force majeure pada 14 September 2026. Kondisi tersebut berkaitan dengan belum diterbitkannya dokumen revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
‎
‎Setelah pengumuman transaksi, saham BYAN bergerak menguat di pasar. Tidak lama kemudian, Kementerian ESDM menyetujui revisi RKAB tiga anak usaha BYAN dengan tambahan kuota produksi batu bara sebesar 15 juta hingga 20 juta ton.
‎
‎PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) turut memberikan penjelasan terkait transaksi tersebut. Perseroan menegaskan transaksi dilakukan oleh PT Jhonlin Baratama dan tidak melibatkan aset maupun fasilitas pembiayaan milik JARR.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *