Banda Aceh | TubinNews.com – Museum Aceh terus memperkuat perannya sebagai pusat pelestarian sejarah dan budaya yang tidak hanya berfungsi sebagai destinasi wisata edukasi, tetapi juga sebagai pusat riset yang dimanfaatkan oleh akademisi dan peneliti dari berbagai daerah, termasuk luar negeri. Beragam koleksi bernilai sejarah yang tersimpan di museum menjadi sumber referensi penting bagi berbagai penelitian yang berkaitan dengan peradaban, budaya, dan perkembangan keilmuan di Aceh.
Di bawah pengelolaan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh, Museum Aceh secara aktif membuka akses bagi kegiatan penelitian melalui mekanisme dan prosedur yang telah ditetapkan. Langkah tersebut dilakukan untuk mendukung pengembangan ilmu pengetahuan sekaligus memperluas pemanfaatan koleksi museum sebagai sumber data akademik.
Kepala Seksi Koleksi dan Bimbingan Edukasi UPTD Museum Aceh, Nurhasanah, mengatakan sejumlah peneliti dari luar negeri secara rutin datang ke Museum Aceh untuk melakukan kajian terhadap koleksi yang dimiliki, khususnya manuskrip atau naskah kuno yang menjadi salah satu koleksi unggulan museum.
“Peneliti dari luar seperti Malaysia sering datang untuk meneliti naskah kuno yang kita miliki,” kata Nurhasanah kepada wartawan di Banda Aceh, Rabu (22/4/2026).
Menurutnya, naskah kuno yang tersimpan di Museum Aceh memiliki nilai sejarah yang sangat penting karena memuat berbagai pemikiran, catatan, dan karya intelektual para ulama serta tokoh-tokoh Aceh pada masa lampau. Keberadaan manuskrip tersebut menjadi sumber primer yang banyak dimanfaatkan dalam penelitian sejarah, kebudayaan, sastra, hingga perkembangan pemikiran Islam di kawasan Aceh.
Koleksi manuskrip yang dimiliki museum juga menjadi bukti kekayaan tradisi literasi masyarakat Aceh yang telah berkembang sejak berabad-abad lalu. Karena itu, keberadaannya tidak hanya penting bagi masyarakat Aceh, tetapi juga menarik perhatian peneliti dari berbagai negara yang memiliki ketertarikan terhadap sejarah dan peradaban kawasan Asia Tenggara.
Selain naskah kuno, Museum Aceh juga menyimpan berbagai koleksi berharga lainnya, seperti senjata tradisional, peralatan rumah tangga kuno, artefak budaya, hingga benda-benda peninggalan sejarah yang menjadi objek penelitian dari berbagai disiplin ilmu. Ragam koleksi tersebut menjadikan museum sebagai salah satu pusat dokumentasi sejarah yang penting di Aceh.
Untuk mendukung aktivitas penelitian, Museum Aceh menyediakan akses bagi peneliti melalui prosedur resmi, mulai dari pengajuan izin penelitian hingga pengaturan jadwal kunjungan dan pendampingan selama proses penelitian berlangsung. Sistem tersebut diterapkan untuk memastikan keamanan koleksi serta menjaga ketertiban dalam pemanfaatan sumber daya museum.
“Kita fasilitasi selama sesuai dengan prosedur,” ujar Nurhasanah.
Ia menjelaskan, keterbukaan museum terhadap kegiatan penelitian merupakan bagian dari upaya memperluas fungsi museum sebagai pusat pembelajaran dan pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan semakin banyaknya penelitian yang dilakukan, koleksi museum tidak hanya tersimpan sebagai artefak sejarah, tetapi juga terus memberikan manfaat melalui berbagai kajian akademik.
Menurut Nurhasanah, peran Museum Aceh sebagai pusat riset semakin memperkuat posisinya sebagai institusi yang berkontribusi dalam pelestarian dan pengembangan pengetahuan tentang sejarah serta budaya Aceh. Melalui dukungan terhadap kegiatan penelitian, museum diharapkan mampu menjadi jembatan antara warisan masa lalu dengan kebutuhan ilmu pengetahuan masa kini.
Ke depan, Museum Aceh berkomitmen untuk terus meningkatkan layanan dan akses penelitian guna mendukung lahirnya berbagai kajian ilmiah yang dapat memperkaya pemahaman masyarakat tentang sejarah, budaya, dan identitas Aceh. Dengan demikian, museum tidak hanya menjadi tempat penyimpanan koleksi, tetapi juga menjadi pusat pengetahuan yang hidup dan terus berkembang seiring kemajuan dunia akademik. (***)
















