Banda Aceh | TubinNews.com – Ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel kembali meningkat dalam beberapa hari terakhir. Situasi keamanan di kawasan tersebut memicu kekhawatiran pasar global, terutama terkait potensi gangguan distribusi energi dari Timur Tengah serta tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
“Posisi geografis negara Iran itu sangat strategis, kalau terganggu keamanannya maka akan berdampak luas terhadap pasar energi internasional,” ujarnya Dosen Program Studi Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Teuku Muhammad Ghufron diwawancarai TubinNews di Banda Aceh, Selasa, (03/02/2026).
Ia menyatakan, semua perhatian tertuju pada Selat Hormuz, jalur pelayaran vital yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia setiap harinya. Ghufron menambahkan bahwa Iran merupakan salah satu produsen minyak utama dunia dengan produksi sekitar 3,1 hingga 3,5 juta barel per hari serta cadangan energi yang besar.
“Kalau jalur distribusi energi terganggu, maka yang pertama terdampak adalah rantai pasok global. Kelangkaan bukan karena barangnya tidak ada, tetapi karena distribusinya terhambat,” ucapnya.
Menurutnya, gangguan distribusi energi akan meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor industri. Kenaikan biaya tersebut pada akhirnya berpotensi dibebankan kepada konsumen dalam bentuk harga yang lebih tinggi.
“Ketika biaya produksi naik karena energi terganggu, harga jual ikut naik. Dari situ tekanan inflasi bisa terjadi,” jelasnya.
Bagi Indonesia, dampak yang perlu diwaspadai adalah tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan kenaikan biaya impor energi. Dalam situasi ketidakpastian global, investor cenderung mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti dolar Amerika Serikat dan emas.
“Biasanya dalam kondisi seperti ini, investor mencari aset lindung nilai. Jika arus modal keluar meningkat, rupiah bisa tertekan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kenaikan inflasi global juga dapat mempengaruhi kebijakan bank sentral di berbagai negara, termasuk kemungkinan penundaan penurunan suku bunga atau bahkan pengetatan kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas harga.
“Negara kita itu masih memiliki ketergantungan terhadap impor energi. Apabila harga minyak dunia meningkat akibat gangguan distribusi global, maka potensi kenaikan harga bahan bakar di dalam negeri menjadi risiko yang perlu diantisipasi,” ucapnya.
Menurut Ghufron, pemerintah perlu memperkuat strategi diversifikasi sumber pasokan energi serta menjaga stabilitas distribusi kebutuhan pokok di dalam negeri. Ia menekankan pentingnya respons pemerintah dalam memberikan kepastian kepada masyarakat agar tidak terjadi kepanikan ekonomi.
“Pemerintah harus memberi kepastian dan himbauan serta memastikan pasokan kebutuhan pokok tetap aman supaya tidak muncul panic buying,” tegasnya.
Disisi lain, Ghufron melihat situasi ini sebagai momentum untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor dan memperkuat produksi dalam negeri, baik di sektor industri maupun UMKM.
“Ini sebenarnya jadi problem, tapi juga jadi challenges. Jadi tantangannya untuk kita produksi dalam negeri itu bisa sedikit demi sedikit mulai mandiri, untuk memperkuat kemandirian produksi agar tidak terlalu bergantung pada rantai pasok global,” lanjutnya.
Eskalasi ketegangan di Timur Tengah menunjukkan bahwa dinamika geopolitik dapat dengan cepat berimbas pada stabilitas ekonomi global. “Pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat diharapkan mencermati perkembangan situasi secara bijak guna meminimalkan dampak terhadap perekonomian nasional,” tandasnya.

















