Aceh Tengan | TubinNews.com – Fenomena lubang raksasa atau sinkhole yang muncul di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, kian mengkhawatirkan. Diameter lubang dilaporkan terus meluas, terutama setelah wilayah tersebut diguyur hujan dengan intensitas sedang.
Dalam laporan tvOneNews, Sabtu (07/02/2026), perkembangan lubang raksasa tersebut terjadi secara signifikan dalam beberapa waktu terakhir dan berpotensi membahayakan masyarakat di sekitar lokasi.
Pelaksana Harian Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Edy Slameto, menjelaskan bahwa hasil pemeriksaan di lapangan menunjukkan fenomena gerakan tanah di Kecamatan Ketol tidak sepenuhnya dapat dijelaskan melalui mekanisme longsoran lereng secara konvensional.
“Hasil pemeriksaan menunjukkan kejadian tersebut tidak sepenuhnya dapat dijelaskan melalui mekanisme kelongsoran lereng secara konvensional. Terdapat indikasi kuat adanya proses perlemahan internal massa batuan dan tanah akibat aliran air di bawah permukaan,” ujar Edy Slameto, dikutip dari kanal YouTube tvOneNews.
Ia menambahkan, selain dipengaruhi oleh morfologi lereng yang curam dan material penyusun yang telah mengalami pelapukan, aliran air bawah permukaan turut berperan dalam mempercepat proses kerusakan struktur tanah.
PVMBG menginterpretasikan fenomena tersebut sebagai erosi internal atau piping erosion, yakni proses pengikisan material halus di bawah permukaan tanah oleh aliran air yang terfokus dan berkembang secara bertahap. Proses ini dapat membentuk rongga di dalam tanah hingga akhirnya menyebabkan amblesan di permukaan.
“Kami menghimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan, serta menghindari area yang berpotensi terdampak demi keselamatan bersama,” pungkas Edy.
Pemerintah Pusat Turunkan Tim untuk Tinjau Lubang Raksasa Ketol
Pemerintah pusat turun tangan menangani fenomena lubang raksasa atau sinkhole di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, yang kian meluas dan dinilai belum sepenuhnya aman. Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo meninjau langsung lokasi runtuhan tebing dan lubang raksasa tersebut pada Jumat, (6/2/2026).
Dalam peninjauan itu, Dody menegaskan penanganan tidak hanya difokuskan pada titik longsoran, tetapi juga pada faktor pemicu di sekitarnya, seperti aliran air, kondisi geologi, serta struktur tanah kawasan Ketol.
“Ada beberapa item yang akan kita kerjakan, mulai dari grouting, penanganan sungai, sampai penguatan di beberapa titik. Ini harus ditangani cepat,” ujarnya dikutip dari keterangan resmi.
Berdasarkan hasil lapangan, kawasan tersebut dinilai belum 100 persen aman. Masih terdeteksi pergerakan air di bawah permukaan tanah yang berpotensi memperbesar longsor dan lubang raksasa.
“Saat ditinjau terasa ada getaran. Artinya, area ini belum 100 persen aman. Di bawah masih ada pergerakan air dan itu harus kita hentikan,” tegasnya.
Kementerian PU mencatat terdapat dua jalur jalan alternatif (detour) di sekitar lokasi. Detour pertama sepanjang sekitar 1,2 kilometer dan detour kedua sepanjang 5,2 kilometer. Pemerintah berupaya menyelamatkan detour pertama agar tidak ikut runtuh.
“Detour kedua memang ada, tapi lebih panjang. Saya berharap detour pertama ini bisa kita selamatkan. Tinggal sekitar 80 meter lagi yang harus diamankan,” kata Dody.
Secara teknis, penanganan akan dilakukan Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Aceh, Direktorat Jenderal Bina Marga. Langkah yang disiapkan meliputi pengendalian aliran sungai agar tidak melimpas ke area longsoran, penanganan Sungai Pasangan, serta penutupan dan penguatan area gua yang menjadi jalur masuk air ke bawah badan jalan.
“Dari kajian bersama Kementerian PU dan Universitas Syiah Kuala, terindikasi ada sisipan air sungai yang masuk ke area ini. Aliran air akan ditutup, lalu dilakukan grouting antara gua dan jalan detour agar air tidak memperparah kondisi,” jelasnya.
Penguatan lereng juga dilakukan untuk mencegah longsor semakin melebar. Langkah cepat dinilai penting karena kawasan tersebut merupakan sentra perkebunan cabai berskala besar.
“Kalau longsoran ini melebar lagi, bisa muncul masalah baru, termasuk gangguan produksi pertanian dan potensi inflasi. Itu sebabnya saya minta dikerjakan cepat,” ujarnya.









