Aceh Besar | Tubinnews.com — Pagi di Kecamatan Montasik belum benar-benar terjaga. Jarum jam baru menunjuk pukul 06.15 WIB, sementara matahari masih bersembunyi di balik kabut tipis. Namun dari sebuah rumah sederhana, kehidupan sudah bergerak lebih dulu. Dentingan alat masak dan suara minyak mendesis memecah sunyi, menandai dimulainya hari bagi Ajirna (41).
Di dapur sempit itu, Ajirna berdiri di depan wajan panas. Tangannya cekatan menggoreng kue dan bakso goreng—dagangan yang sebentar lagi akan dititipkan ke sekolah dan warung kopi. Sesekali, perempuan paru baya itu mengangkat suara, membangunkan anak-anaknya agar segera bersiap ke sekolah. Pagi baginya bukan sekadar pergantian waktu, melainkan awal dari rangkaian kerja panjang yang menuntut tenaga, kesabaran, dan keikhlasan.
Ajirna adalah ibu dari empat anak. Sejak empat bulan terakhir, ia memilih membantu perekonomian keluarga dengan berjualan kue. Suaminya bekerja sebagai petani, menggantungkan hidup pada sawah dan kebun dengan penghasilan yang tak selalu pasti. Saat musim tanam, ia turun ke sawah. Ketika menunggu panen, ia beralih berkebun atau mengerjakan pekerjaan apa pun yang tersedia.
“Berjualan untuk membantu suami mencari nafkah,” ujar Ajirna singkat.
Setiap pagi, sebelum pukul setengah delapan, seluruh dagangan harus sudah siap. Anak pertamanya bertugas mengantarkan kue-kue tersebut ke sekolah dan tempat penitipan.
“Biasanya anak pertama yang antar, sekalian antar adik-adiknya,” katanya.
Jenis jualan Ajirna beragam—risol, tahu isi, hingga bakso goreng. Namun semua itu tak lahir dalam waktu singkat. Proses pembuatan dimulai sejak sore hari, selepas salat Asar. Adonan disiapkan dengan telaten, satu per satu. Sementara penggorengan dilakukan selepas salat Subuh, agar dagangan masih hangat ketika sampai ke tangan pembeli.
Dalam sehari, kue-kue itu berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Pagi hari dititipkan di sekolah dan warung kopi, siang hari menyasar kedai-kedai di kampung. Pada hari tertentu, terutama saat kegiatan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), Ajirna memilih berjualan langsung di halaman meunasah.
Soal penghasilan, Ajirna tak pernah mematok angka pasti. Omzet harian bisa berubah-ubah, tergantung laku atau tidaknya dagangan. Namun baginya, semua yang diperoleh adalah bagian dari rezeki yang patut disyukuri.
“Kadang lebih dari seratus ribu kalau habis semua, kadang sebagian juga ada yang tinggal. Rezeki sudah diatur sama Allah,” ucapnya dengan suara teduh.
Keempat anaknya kini menempuh jenjang pendidikan yang berbeda. Seorang duduk di kelas 1 SD, satu di kelas 6 SD, satu di kelas 2 MAN, dan anak sulungnya sudah mengenyam bangku kuliah. Kondisi itulah yang membuat Ajirna terus bertahan, meski lelah sering datang dan hasil tak selalu sebanding dengan tenaga.
“Yang bikin saya bertahan karena setiap hari pasti ada rezeki yang masuk, insyaallah. Walaupun tidak banyak, tapi bisa bantu kebutuhan keluarga dan anak-anak,” tuturnya.
Jika dagangan tak habis, Ajirna tak pernah menganggapnya sebagai kerugian. Sisa gorengan itu akan menjadi hidangan sederhana di rumah, disantap bersama anak-anak tanpa keluhan.
“Kalau tidak habis, dimakan sama anak-anak,” katanya sambil tersenyum.
Di balik dapur kecil dan rutinitas pagi yang melelahkan, Ajirna menyimpan harapan besar. Ia bermimpi suatu hari usaha kecilnya bisa tumbuh lebih jauh.
“Semoga ke depan usaha ini bisa lebih maju, bisa bikin kedai sendiri,” ujarnya penuh harap.
Dari dapur kecil itu, Ajirna setiap pagi tak hanya menggoreng kue jualanya. Ia juga sedang merawat harapan tentang keluarga, pendidikan anak-anak, dan masa depan yang perlahan ia bangun dengan tangannya.
















