Banda Aceh | TubinNews.com – Di tengah sejuknya dataran tinggi Gayo, nama Arfiansyah tumbuh dari Takengon, Aceh Tengah, membawa mimpi besar yang kini menembus batas negeri. Laki-laki asal Aceh itu tercatat sebagai awardee Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk jenjang doktor (S3) di Leiden University, Belanda. Salah satu universitas tertua dan bergengsi di Eropa.
Sepulang menempuh pendidikan, Arfiansyah memilih kembali ke tanah kelahirannya untuk mengabdi sebagai dosen di Fakultas Ushuluddin dan Filsafat Universitas Islam Negeri Ar-Raniry Banda Aceh. Di kampus tersebut, ia aktif mengembangkan kajian keislaman dan pemikiran kritis, sekaligus membimbing generasi muda Aceh agar berani bermimpi setinggi langit.
Latar belakang pendidikannya terbilang kuat dan linear. Arfiansyah memulai studi sarjana (S1) di Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam Universitas Islam Negeri Ar-Raniry. Di kampus inilah fondasi pemikiran keislaman dan filsafatnya dibentuk.
Hasrat intelektualnya kemudian membawanya melanjutkan studi magister (S2) bidang Studi Islam di McGill University, Kanada, melalui beasiswa Pemerintah Kanada. Lingkungan akademik internasional memperkaya perspektifnya, mempertemukan tradisi keilmuan Islam dengan pendekatan studi kontemporer.

Arfiansyah menjadi bagian dari sejarah awal program beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Ia mengikuti seleksi pada 2013, tepatnya batch kedua di tahun pertama program tersebut dibuka. Kala itu, LPDP belum sepopuler sekarang. Jumlah pendaftar pun belum sebanyak hari ini, dan informasi tentang program tersebut masih terbatas di kalangan tertentu.
Kesempatan itu datang di tengah persiapannya melanjutkan studi doktoral. Ia mengaku sedang aktif mencari peluang beasiswa ketika diperkenalkan pada program yang masih terbilang baru tersebut.
“Saya waktu itu memang sedang persiapan S3 dan mencari beasiswa. Kebetulan sedang ada penelitian tentang dana pendidikan Aceh. Dari situ saya diperkenalkan dengan program beasiswa baru dari Jakarta, namanya LPDP,” ujarnya saat diwawancarai TubinNews di Banda Aceh, Senin (2/3/2026).
Karena program ini berada di bawah Kementerian Keuangan, ia menilai jaminan pendanaannya lebih kuat. Ia pun mendaftar dan melalui tahapan seleksi administrasi online, wawancara, serta tes kepemimpinan.
Menurutnya, proses seleksi LPDP saat ini kemungkinan sudah berbeda dan jauh lebih ketat dibandingkan periode awal karena meningkatnya jumlah pendaftar.
“Sekarang sudah semakin populer, pendaftarnya banyak, dan persyaratannya tentu semakin diperketat agar kualitasnya maksimal,” jelasnya.
Sebelum resmi mendaftar beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Arfiansyah sebenarnya telah lebih dulu mengantongi Letter of Acceptance (LoA) dari Leiden University.
“Dalam skema LPDP saat itu, pelamar dapat mendaftar dengan atau tanpa LoA. Namun, karena saya sudah diterima di kampus tujuan, jadi tidak lagi diwajibkan melampirkan tes IELTS atau TOEFL tambahan,” ungkapnya.
Pilihan terhadap Leiden bukan keputusan yang datang begitu saja. Ada jejak sejarah panjang yang membuatnya merasa kampus itu memiliki relevansi kuat dengan Aceh. Leiden dikenal sebagai pusat kajian tentang Aceh sejak era kolonial, terutama melalui sosok Christiaan Snouck Hurgronje, seorang antropolog, orientalis, sekaligus penasihat pemerintah kolonial Belanda yang oleh banyak orang Aceh dipandang sebagai arsitek utama strategi penaklukan Aceh.
“Leiden itu historis untuk Aceh. Aceh ditaklukkan oleh Belanda itu gara-gara antropologi. Snouck itu antropolog. Ia alumni Leiden, kemudian menjadi rektor di sana dan orang pertama mengembangkan studi Aceh di luar negeri,” jelasnya.
Ia menilai antropologi sangat relevan karena mempelajari manusia dan budaya, termasuk cara berpikir serta karakter setiap kelompok yang berbeda-beda. Pemahaman tersebut, menurutnya, penting untuk memahami masyarakat secara utuh.
Arfiansyah juga secara terbuka mengungkapkan motivasi awalnya melanjutkan studi ke luar negeri yaitu jalan-jalan ke luar negeri gratis.
“Motivasi awalnya sebenarnya ingin jalan-jalan gratis. Belajar itu motivasi kedua dan ketiga,” ungkapnya.
Namun tanggung jawab sebagai penerima beasiswa membuatnya belajar dengan sungguh-sungguh. Ia menyadari dana LPDP berasal dari pajak masyarakat sehingga harus dipertanggungjawabkan secara moral dan akademik.
Tantangan terbesarnya saat studi di luar negeri adalah bahasa. Meski demikian, lingkungan akademik yang kompetitif mendorongnya untuk beradaptasi dan meningkatkan kapasitas diri.
Sejak awal, Arfiansyah berkomitmen kembali ke Indonesia. Selain karena statusnya sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), ia merasa Indonesia menawarkan ruang kontribusi sosial yang lebih nyata.
“Kita ini sudah terbiasa dengan masalah. Kalau tidak ada masalah rasanya tidak asik dan tidak hidup. Di Indonesia kita bisa berkontribusi,” pungkasnya.
Sepulang dari Belanda, ia langsung terlibat dalam berbagai proyek penelitian bersama rekan-rekannya di pusat kajian ICHAOS di Aceh. Penelitiannya mencakup antropologi, ekonomi kekeluargaan, hukum, hingga lingkungan.
Ia juga pernah melakukan riset lingkungan hingga ke Papua serta meneliti persoalan sosial seperti perlindungan hak anak yatim piatu di Aceh.
“Karena latar belakang studi saya linear dari S1 sampai S3, itu memudahkan melihat persoalan secara menyeluruh. Saya belajar interdisipliner,” ujarnya.
Kepada generasi muda yang ingin mengikuti jejaknya sebagai penerima LPDP, Arfiansyah berpesan bahwa semua orang berhak mendaftar. Namun ia mengingatkan pentingnya kesadaran sosial.
“Kalau mampu dengan biaya sendiri, mungkin bisa dipertimbangkan agar memberi ruang bagi teman-teman dari daerah terpencil yang benar-benar membutuhkan,” pungkasnya.
Ia menegaskan bahwa dana LPDP berasal dari pajak rakyat. Karena itu, penerima beasiswa harus belajar sungguh-sungguh, tetap rendah hati, dan berkontribusi nyata bagi Indonesia.
“Sadarlah bahwa kita berdiri di atas tanggungan orang banyak. Jangan sombong, dan kembalikan dengan kontribusi nyata untuk negeri,” tutupnya.









